Foto: Mursal Buyung

 

Selama toko buku ada, pustaka dapat dibentuk kembali. kalau perlu dan memang perlu, makanan dan pakaian dikurangi. ~Tan Malaka~

Saat kita memasuki kampus, pemandangan yang disuguhkan adalah penampilan molek mahasiswa-mahasiswi yang begitu wah, membuat siapapun terkagum-kagum. berpenampilan dengan produk-produk yang dikenakan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah cerminan seberapa besar keterlibatan pada konsumsi massa. Jarang ditemui pemandangan berupa aktivitas mahasiswa yang sedang asik membaca buku di bawah pohon yang rindang. Pun kita akan jarang menemui sekelompok mahasiswa yang sedang diskusi, katakanlah membahas buku.

Zaman mendorong kita mengikuti perubahan yang diciptakan sebagai upaya pemenuhan-pemenuhan kebutuhan hidup. Segala hal yang dicipta tak lain adalah untuk memudahkan terpenuhinya kebutuhan hidup manusia itu sendiri. Produksi yang terus bertambah berbanding lurus dengan konsumsi massa. Konsumsi menjadi iman baru, agama baru. Dan industri adalah setan penggoda yang manis, menggoda dengan manja dan tak terkira. Industri hadir seolah menjadi Tuhan. Menjadi penolong kesenangan dan kepuasan sesaat.

Kebiasaan konsumsi di Abad 21 ini berlangsung karena media, baik cetak maupun elektronik. Kebiasaan suatu masyarakat disetir oleh media masa. Lewat majalah atau koran yang dengan sengaja menawarkan gambar-gambar artis cantik untuk memamerkan nilai jual produk membuat masyarakat tersihir dan berfantasi terhadap produk tersebutTayangan-tayangan iklan pun demikian. Kemudian, konsumsi seperti pakaian, handphone, alat transportasi, dan lain-lain menjadi kebutuhan yang tak terbantahkan dan penting untuk di-update. Media masa menjembatani apa yang dikehendaki oleh industri.

Menurut Jean Paul Baudrillard, Konsumsi adalah sebuah perilaku aktif dan kolektif, ia merupakan sebuah paksaan, sebuah moral. Maka, dapat disimpulkan bahwa konsumsi merupakan sebuah sistem yang memaksa masyarakat untuk tunduk terhadap kebiasaan umum (konvensional).

Sebagai mahasiswa, kebutuhan hidup barangkali menjadi penting. Mau tak mau harus tunduk pada sistem. Terlebih kebutuhan akan konsumsi buku, smartphone, laptop, pakaian, dan lain-lain. Hal-hal yang sama pentingnya tersebut mau tak mau harus dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan sebagaimana mahasiswa. Mahasiswa butuh buku sebagai acuan belajar dan rekreasi.

Dibutuhkannya smartphone tak lain untuk menunjang kemudahan komunikasi yang cepat dan instan. Laptop sebagai kebutuhan akan tugas-tugas yang serba digital. Biasanya diketik dengan rapi lewat microsoft word. Terdapat celah-celah yang memunculkan niat nakal mahasiswa. Fenomena copy-paste adalah bentuk perlawanan terhadap tingkat kesulitan tugas yang diberikan. Mahasiswa yang malas akan mengambil jalan pintas dengan cara demikian. Fenomena tersebut merupakan akibat dari rendahnya minat literasi dan tingginya kepuasaan konsumsi terhadap teknologi.

Teknologi penting namun dapat merusak tatanan literasi masyarakat terlebih mahasiswa jika tidak dipergunakan dengan bijak. Yang paling dikhawatirkan adalah rusaknya insan cendekia (baca:mahasiswa). Mahasiswa tak bisa lepas dari smartphone yang menjadi alat komunikasi. Kemudahan akses internet lewat perangkat digital memudahkan mahasiswa menelusuri berita di seluruh dunia serta berbagai macam literasi. Sehingga buku di perpustakaan dan toko-toko buku menjamur tak terbeli. Hal yang wajar dari konsekuensi meluasnya budaya populer.

Budaya populer terdiri dari dua kata yaitu “Budaya” dan “Populer”. Menurut Williams, budaya diartikan sebagai segala sesuatu yang mengacu pada suatu proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis. Sedangkan populer, Williams memberikan empat makna yang mengandung pengertian yakni : (1) banyak disukai orang; (2) jenis kerja rendahan; (3) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang (4) budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri.

Pengertian dapat didefinisikan bahwa budaya pupuler merupakan kehendak yang diciptakan atas kelanjutan dari budaya sebelumnya. Dalam hal ini, terdapat ketidakpuasan terhadap hasil dari kebudayaan, sehingga muncullah usaha-usaha baru yang dirasa perlu untuk kesenangan.

Berdasar pengertian pribadi, maka buku termasuk produk budaya. Suatu produk kebudayaan yang dihasilkan elit cendekiawan. Sekalipun buku diperuntukkan untuk kalangan luas, namun lebih dekat dengan cendekiawan (baca:mahasiswa). Di tengah memuncaknya budaya populer, buku seolah menjadi tidak penting. Buku menjadi terpinggir karena perannya diambil alih oleh kemudahan teknologi. Budaya populer membuat buku-buku semakin menjamur dan tak lagi memiliki kemuliaan.

Teknologi lebih mulia dari buku. Demikianlah kenyataan saat ini. Kemudahan yang ditawarkan teknologi lebih diminati dari apapun. Diterimanya teknologi internet di kalangan akademisi tak lain adalah untuk memudahkan akses literasi dari berbagai dunia (misalnya Google). “Dunia dalam genggaman”, kata salah satu pelaku industri digital.

Di zaman serba digital, berbagai literasi tak bisa lepas dari Internet memang. Pengetahuan seperti: agama, filsafat, biologi, hukum, fisika, dan ilmu-ilmu lain begitu mudah diakses. Di era teknologi, banyak pula buku-buku yang tersebar secara digital, katakanlah e-book.Serta, semua orang baik elit cendekiawan maupun bukan bisa secara bebas mempublikasikan tulisan dan membaca tulisan orang lain, dengan melalui blog pribadi, situs komersial, maupun di media sosial.

Namun adanya media sosial seperti instagram, twitter, line, snapchat, bigolive, facebook dan sejenisnya membuat mahasiswa/i kian asik dan nyaman bermanstrubasi dengan produk kecantikan, pakaian bermerek, akasesoris, dan idola masing-masing. Lihat bagaimana mahasiswa di kampusnya berdandan sedimikian rupa. Seolah kampus adalah tempat untuk berlomba memamerkan eksistensi. Mahasiswa maupun mahasiswi memakai pakaian sedemikian sama, baju, celana, sepatu, hingga alat-alat kecantikan. Hal ini tak lain adalah perilaku meniru idola yang dipertontonkan lewat iklan di media massa.

Hal tersebut disindir Efek Rumah Kaca lewat lagu “Belanja Terus Sampai Mati”. “akhir dari sebuah perjalanan/mendarat di sudut pertokoan/buang kepenatan. . .atas bujukan setan hasrat yang dijebak zaman/kita belanja terus sampai mati. . . dst. “Belanja Terus Sampai Mati. Sebuah judul yang menyindir orang-orang yang memiliki kebiasaan konsumsi (baca: belanja). Seolah belanja tak pernah akan berhenti, dan hanya berhenti ketika sudah mati.

Juga lewat lagu “Kenakalan Remaja di Era Informatika” yang menggambarkan bagaimana perilaku remaja di media sosial. “Senang mengabadikan tubuh yang tak berhalang/padahal halnya iseng belaka/ketika birahi yang juara/etika menguap entah ke mana. . .dst. Generasi muda, katakanlah mahasiswa/mahasiswi begitu narsis di media sosial. Mengunggah apa saja, mulai dari keluhan dan kebagaian kehidupan pribadi, berduaan bersama pacar, aktifitas sehari-hari, bahkan sampai foto-foto yang senonoh. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya populer begitu menyenangkan dan menyegarkan. Senang pamer apa saja untuk menunjang eksistensi.

Sebuah masyarakat yang (katanya) intelektual (baca: mahasiswa) begitu mudahnya terpengaruh dan cenderung meniru. Keadaan demikian tentu tidak salah, itu adalah konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada. Media telah membuat realitas semu yang seolah nyata. Media elektronik, baik internet maupun televisi telah mereduksi peran generasi muda.

Kita semua tahu dan sadar, minat di indonesia cenderung rendah. Budaya populer yang digandrungi sebagai gaya hidup kekinian membuat buku-buku menjamur dan mutu literasi yang rendah.

Survei Perpustakaan Nasional Indonesia pada 2015 lalu mendapatkan temuan : “90 persen penduduk Indonesia gemar menonton televisi dan tidak suka membaca”, ujar Kepala Kantor Perpustakaan Nasional Sri Sularsih dalam acara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Yogyakarta, Oktober 2015 lalu. Objek survei tersebut memang bukan mahasiswa saja. Namun, hal tersebut perlu sebagai perenungan. Tak lain, rendahnya minat baca adalah pengaruh media massa (baca:media elektronik).

Pengaruh yang sedemikian besar dan nyaris tak terbendung, minat baca menjadi penting untuk dipertanyakan kembali. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, teknologi internet tak bisa ditolak. Hadirnya teknologi internet memang mendorong munculnya buku-buku digital yang dapat dipergunakan sebagai bahan belajar. Tak dapat dipungkiri bahwa nantinya akan banyak buku-buku digital.

Beruntung, hadirnya media sosial ternyata dapat difungsikan sebagai media promosi dan motivasi untuk menumbuhkan kesadaran literasi. Di instagram, akun-akun seperti : berdikaribook, bukuakik, sabdaperubahan dan lain-lain secara getol mempromosikan buku dan mengunggah kata-kata motivasi dari kalangan filsuf, akademisi, sastrawan dari berbagai negara.

Kesadaran akan literasi adalah kewajiban bagi mahasiswa. Aktifitas membaca dan menulis tidak boleh macet di tengah jalan. Boleh ngopi namun jangan lupa membaca. Boleh beraktifitas di organisasi, kesenian dan sebagainya namun jangan lupa membaca dan menulis. Bergaya seperti artis idaman juga boleh, tapi sekali lagi : jangan lupa literasi. Kunjungi perpustakaan dan toko-toko buku. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY