Mursal Buyung

 

DI kalangan mahasiswa dan dosen Undiksha Singaraja, khususnya Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), pastilah tidak asing dengan sosok eksentrik yang satu ini. Salah satu staf pengajar jurusan Pendidikan Seni Rupa ini sudah begitu senior dan bisa dikatakan ‘sesepuh’.

Dosen kelahiran Kota Solok, 17 Juni 1953 dan akrab disapa Babe ini juga seorang fotografer handal dan begitu akrab dengan para mahasiswanya, terutama yang tergabung dalam komunitas fotografer ‘Kucing Seru’. Pembawaannya yang riang, ringan dan humoris ini melahirkan identitas dan karakter tersendiri, selain juga jenggot ubannya yang memesona. Ya, dia adalah Drs. Mursal.

Izinkanlah saya sebagai seorang alumni alias mantan mahasiswa Babe sedikit bernostalgia tentang betapa nyentriknya dia. Kawan, tengoklah akun facebook dengan nama ‘Mursal Buyung’, maka akan kalian dapati serangkaian hasil jepretan Babe yang keren-keren sekali. Mulai dari sajian suasana beberapa tempat ikonik Singaraja, kegiatan-kegiatan kampus, potret wajah-wajah mahasiswa sampai bulan purnama yang bopeng-bopeng oleh kawah itu pun tak luput dari jepretan Babe.

Foto-fotonya juga banyak dijadikan ilustrasi untuk esai-esai yang dimuat di tatkala.co. Sungguh sebuah daya berkesenian yang konsisten. Di usia yang sudah tak muda lagi, Babe masih dengan tangkas dan cekatan menenteng-nenteng kamera berlensa mumpuni untuk mendapatkan gambar yang dikehendakinya.

Namun ironisnya, saya dan teman-teman seangkatan justru tak pernah diajar Babe dalam mata kuliah fotografi. Selama kuliah, kami diajar  dalam mata kuliah tipografi dan micro teaching. Nah, meski hanya diampu dalam dua mata kuliah itu saja, Babe sudah meninggalkan kesan luar biasa yang tidak akan pernah saya dan teman-teman lupakan.

Ada satu potongan adegan yang pasti akan selalu membekas di hati saya, dan hal ini terjadi tepat di hari pertama Babe mengajar kami mahasiswa semester 1 tahun 2009. Ketika itu Babe mengajar kuliah tipografi, yakni seni desain dan tata huruf.

Dalam kuliah itu kami belajar mengenal banyak font atau jenis huruf, menempatkan huruf atau tulisan dalam sebuah desain. Tentu menjalani tugas Babe paling legendaris bagi sebagian besar angkatan adalah tugas CIPTA HURUF.  Tanyakan saja pada mahasiswa atau alumni yang pernah diajari tipografi oleh Babe, pastilah tugas akhir semester disuruh menciptakan font sendiri, tidak boleh sama dengan font apapun yang sudah ada atau sama antar mahasiswa. Hal tersebut memicu daya kreatif kami dengan spartan. Bentuk huruf menyerupai umbi-umbian pun, peduli amat, yang penting orisinil. Haha.

Kembali ke potongan adegan tadi. Begitu masuk ruang, kalimat pertama yang Babe ucapkan kurang lebih begini: “Korti mana? Punya spidol gak? Ada yang punya spidol?”

Sontak korti kelas kami gelagapan seketika, pun kami semua. Saya pastikan semuanya tak akan membawa spidol papan alias boardmarker, karena kami tak pernah berpikir menyiapkan peralatan itu di ruang kuliah.

Patut diketahui, ketika itu kampus bawah belumlah direnovasi dan pohon kamboja masih merekah di depan wantilan. Ruang-ruang kuliah Seni Rupa, hmmm bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana bentuknya. Bahkan di internal kami lebih senang menyebutnya ‘kandang babi’ atau ‘kandang ayam’ ketimbang ruang kelas.

“Sa,..saya cari spidol dulu ya, Pak!” begitu jawab korti kami spontan.

“Tak usah. Kalian miskin kaliii, heh eh eh eh.” Begitu respon Babe dibarengi tawa ringan, sehingga barisan gigi beliau kelihatan.

Saya kemudian menunggu apa yang akan diperbuat Babe. Sejurus mata Babe menerawang pelosok-pelosok lantai seperti sedang mencari sesuatu. Tak lama kemudian, ‘sesuatu’ itu agaknya ia temukan di sudut depan ruangan. Sebuah KAPUR TULIS BERWARNA MERAH MUDA/PINK. Itu pun tidak utuh, patah sedikit ujungnya.

“Oke, kita mulai materi kuliah hari ini!”. Babe kemudian menjelaskan materi tipografi dengan singkat, lalu mulai memberi contoh beberapa bentuk dan pola huruf dengan kapur pink tadi. Karena kapur semacam itu tak bisa diterakan di papan tulis yang licin, maka ia menulis di tembok ruangan. Ya, TEMBOK! Di samping papan tulis, memang tersisa sedikit area kosong tembok yang berwarna coklat tua.

Di situlah ia menulis. Saya mulai berpikir bukan hanya mahasiswa Seni Rupa saja yang antik-antik, dosennya juga ternyata tak kalah nyentrik. Hari pertama kuliah tipografi, jenggot dosen yang berkibar membelah jiwa, tak ada spidol, lalu diberi materi dengan kapur pink yang ditemukan secara tiba-tiba, di tembok coklat kusam. Sungguh, pengalaman ini lebih berkesan bagi saya ketimbang bertautnya tangan saya dengan tangan Pak Rektor ketika wisuda.

Ahhh, Babe Mursal. Kini ia sudah memasuki masa purna tugas. Hmmm, meskipun Babe tak lagi resmi menyandang status staf pengajar, namun saya pastikan semangatnya dalam berkesenian terutama potret-memotret tak akan pernah luntur hingga ujung usia.

Terima kasih atas pengalaman dan segala ilmu, Babe. Semoga Babe selalu diberkahi kesehatan oleh Tuhan. Salam hormat. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY