Ilustrasi: Kadek Heny Sayukti

 

Cerpen: Devy Gita

“Menurutku, hanya lelaki pengecut yang mendekati wanita yang sudah menjalani prosesi sakramen pranikah di gereja.”

Bram mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, alis tebalnya tertaut, napasnya pun tak teratur.

“Kau pun seharusnya sadar akan dirimu, kita sudah bersama selama 6 tahun, Seruni!” tatapan mata Bram menghujam seperti sepasang kilat.

Aku hanya terdiam, menunduk saat ini bukan pilihan yang tepat. Bram paling tidak suka saat lawan bicaranya menunduk tak berdaya. Dia butuh argumen balasan, dia laki-laki yang tidak pernah puas hanya dengan jawaban seadanya. Dengannya, bicara harus jelas dan bisa diterima logika. Dia bisa mempertanyakan hal yang sama berkali-kali hanya untuk meyakinkan jawaban yang didapatnya sama dengan sebelumnya. Semacam lie detector alami.

Saat ini laki-laki itu duduk dengan dada naik turun menahan emosi yang dia pendam selama perjalanan 3 jam dari Singaraja. Jaket belum terlepas dari tubuhnya. Sesuatu sedang mengamuk dalam pikirannya. Dia berkali-kali menutup wajahnya dan menghela napas. Menatapku lurus tak berkedip, dengan keraguan dan rasa tidak percaya berputar di setiap sudut wajah lelaki muda tampan ini.

Seseorang telah menghianati kepercayaannya, meremukkan komitmen yang telah dibangun selama 6 tahun. Dalam waktu kurang dari satu jam, dunia Bram seperti terbalik dan pikiranku tiba-tiba dipenuhi berupa-rupa angin kencang. Tornado, puting beliung, topan silih berganti menari.

Rasa bersalah menyergap seperti hansip dan aku malingnya. Sesaat aku kehilangan sadarku, jika saja satu bulan bisa dikatakan sekejap. Setidaknya satu bulan tidak lebih lama dari 6 tahun. Sadarku memutuskan untuk kembali saat melihat Bram duduk di atas motornya di depan kamar kos yang kutempati di Denpasar. Menelanjangiku dengan pandangan terkejut yang sekuat tenaga dia sembunyikan pada waktu melihatku berboncengan dengan Teguh, lelaki yang memasuki celah komitmen kami. Semua rambut di tubuhku terasa ditarik dan ingin melepaskan diri. Perutku mual, darahku seperti berhenti mengalir.

Bram menatap Teguh penuh selidik, kedua lelaki itu beradu pandang dan aku bisa mendengar gemertak rahang Bram. Mereka hanya saling menatap tanpa bicara, ini menyeramkan. Aku sedikit takut mereka akan saling jatuh cinta bukannya saling mengadu kepalan tangan. Kupikir lelaki dewasa memang lebih bisa mengontrol emosi, mereka masih punya malu untuk berkelahi di depan umum atau membuat keributan. Jika mereka perempuan, kurasa mereka sekarang sudah bergelut di tanah saling cakar dan tampar.

“Apakah kau tahu Seruni akan segera kunikahi?” tanya Bram memecah kebekuan mereka

“Akan segera bukan berarti sudah menikah bukan? Seruni masih berhak memilih.” Teguh melihat ke arahku.

Tidak ada kata yang keluar dari mulutku. Bahkan airmata pun tidak. Hanya lambaian tanganku yang memintanya untuk segera meninggalkanku dan Bram. Tatapan Teguh selalu bisa mengaduk emosiku. Hanya dia yang mampu menggoyahkanku, pas menutup celah yang menganga antara aku dan Bram yang terpisah jarak. Masihkah aku bisa memilih? Bagaimana dan siapa yang harus kupilih?

Malam itu, kesunyian mendekap lebih erat. Membawa aku dan Bram dalam diam yang mencekam. Pertanyaan-pertanyaan meluncur dari Bram, dan membutuhkan jawabanku segera. Sedangkan aku masih bergumul dengan pikiranku sendiri. Sakramen prapernikahan yang sudah kujalani di Gereja selama sebulan belakangan. Prosesi sakral yang harus dilewati sebelum menikah secara Katolik.

Aku menjalani setiap prosesnya dengan sadar, sesadar-sadarnya. Tidak ada yang memaksaku menikah dengan Bram. Aku mencintainya dengan penuh. Berpindah keyakinan atas kemauanku sendiri. Pastor berulang kali menanyakan keputusanku, orang tuaku mencecarku, mencoba menemukan ragu dalam setiap kata dan argumen yang kuungkap. Ragu telah tiada, aku sudah melangkah mantap memasuki Gereja, mencari damai dalam pelukan Maria.

Kemudian, Teguh datang. Awalnya, aku hanya menganggap dia teman biasa, teman mengobrol ringan. Seperti kapas yang tertiup angin, melayang tanpa sadar. Entah bagaimana kami menjadi semakin dekat. Dia tampan, muda, pandai bermain musik.  Hanya sekadar suka tidak akan membuatku begitu nelangsa saat dia tidak ada.  Aku merasa goyah. Aku mempertanyakan arti Bram dan juga Teguh dalam hidupku. Jika mencintai dua orang di saat yang bersamaan, siapa yang harus dipilih? Apa mungkin bisa jatuh cinta pada orang kedua kalau memang benar-benar mencintai orang pertama?

“Seruni, apakah dia berarti untukmu?” Bram mengusap rambutku pelan. Tangannya bergetar. Emosi masih mengalir deras dalam setiap selnya, tapi dia tetap membuat dirinya tenang. Apakah cinta yang membuatnya begitu tegar, tidak sekalipun dia meledak atau berusaha menumpahkan rasa kesalnya. Dia menahannya hampir sempurna. Senyum masih bisa dia sunggingkan padaku. Senyum yang 6 tahun lalu membawaku jatuh dalam tulusnya. Kumis dan jenggot mengelilingi senyum pedih itu. Sebelumnya, wajah itu selalu bersih. Ah, Bram.. Bagaimana bisa aku mengorbankan perasaan laki-laki ini?

“Bram, aku baru mengenalnya. Apakah dia bisa menjadi lebih berarti darimu?” jawabku parau. Jujur saja, saat ini hanya jawaban seperti itu yang bisa kuberikan karena aku sendiri tidak bisa mendeskripsikan apa yang sedang terjadi di dalam hati dan otakku. Mereka sedang berperang maha dahsyat. Otakku menentang dengan keras apa yang sudah kuperbuat. Hatiku? Sentimentil, dia bersedih untuk Teguh yang berjinjit pelan memasuki kehidupanku.

Komitmen mengikat bagai rantai di leher seekor anjing  yang tak membiarkannya berkeliaran. Saat dua orang memutuskan untuk bersama terikat dalam rantai yang bernama komitmen. Tanpa adanya aturan tertulis, kedua orang tersebut mesti saling menjaga hati. Orang ketiga yang merangsek paksa atau dituntun dengan sengaja membinasakan sulur-sulur kepercayaan yang terpilin rapi.. Saling memberi cinta dan perhatian dalam porsi seimbang layaknya makanan 4 sehat 5 sempurna. Jika bagian yang diberikan salah satu terlalu besar, pasangannya akan begah karena cinta, menyakitkan. Begitu pula jika terlalu sedikit porsi yang disuguhkan, akan ada hati yang busung lapar. Tak kalah pilu. Apa yang terjadi jika diberi makanan yang sama selama bertahun-tahun?

Teman-temanku berkata aku sedang mengalami kejenuhan akut, ketakutan dan kegelisahan sebelum pernikahan yang juga dialami banyak orang yang kukenal. Pernikahan terdengar indah seperti dalam dongeng. Cinta bersatu, lonceng Gereja merdu berdentang, begitu berbunga-bunga.

Namun, dalam realita yang aku saksikan, sahabatku berpisah dari suaminya. Lalu, temanku yang lain selalu mengeluh pasal mertua yang terlalu ikut campur. Mereka membuat cerita pernikahan yang merona menjadi seperti mimpi buruk. Aku tidak merasa khawatir, namun alam bawah sadarku mempunyai ceritanya sendiri. Dia diam-diam memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi setelah aku dan Bram menikah.

Hati kecilku juga merasa bosan akan hubungan jarak jauh. Jembrana – Denpasar, sama-sama sibuk dengan kegiatan sendiri, komunikasi seadanya. Kepercayaan memang di atas segalanya, tidak pernah ada rasa ragu dan curiga. Entah percaya atau pasrah, mungkin usia hubungan yang tidak lagi seumur jagung membuat semuanya berjalan lurus. Sangat lurus bahkan, tidak ada lubang ataupun kelokan. Membosankan..

Aku merasa bosan, begitu juga Bram. Kebosanan yang dilampiaskan Bram dengan lebih banyak mengajar anak-anak di Gereja dekat tempat tinggalnya, mencari kesibukan dan memberdayakan dirinya untuk membantu orang lain. Sementara aku, membiarkan kebosananku membuka celah bagi hiburan lain untuk pentas. Aku kalah pada rasa jenuh yang membelah diri dengan cepat dalam sel darahku.

“Apa yang membuatmu datang tanpa kabar?” tanyaku pada Bram yang sedang bersandar lelah pada lemari kayu di belakangnya.

“Intuisi, Seruni. Sesuatu mengatakan padaku, aku harus segera menemuimu.” Jawabnya pelan. Hanya karena sebuah intuisi. Seorang Bram meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk menemuiku tanpa mengabari terlebih dahulu. Intuisi yang begitu jujur. Tidak ada kebohongan dalam setiap ucapan yang dia bisikkan pada Bram.

Begitu hebatnya sebuah intuisi dari hubungan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Intuisi seorang Bram yang menyeretku kembali dalam ikatan. Menyeretku kembali pada dekapan dada bidangnya. Mengingatkanku akan sakramen yang harus kuhadiri esok hari. (T)

Denpasar, 19 Agustus 2017

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY