Nyoman Gunarsa (kiri) didampingi Bupati Klungkung Nyoman Suwirta pada peringatan ulang tahun ke-72 di Nyoman Gunarsa Museum. Foto diambil pada 15 April 2016

 

MINGGU (10/9/2017) siang, penyair Wayan Jengki Sunarta menulis di beranda facebook-nya. “RIP Maestro Perupa Nyoman Gunarsa. Negeri ini kehilangan salah satu putra terbaiknya. Dedikasimu pada dunia seni dan budaya selalu kami kenang.”

Kabar itu menyebar begitu cepat. Sungguh tidak percaya membaca kabarnya. Sang maestro yang tahun ini berusia 73 tahun itu, terlihat masih prima tatkala menerima kunjungan Presiden RI Joko Widodo di Nyoman Gunarsa Museum (NGM) beberapa waktu lalu.

Saya memang tak mengenal sosok Nyoman Gunarsa secara dekat. Pernah bertemu beberapa kali dan sempat melakukan wawancara beberapa kali di Nyoman Gunarsa Museum maupun di ISI Denpasar pada 2016 lalu.

Saya pertama kali bertemu dengan Nyoman Gunarsa pada 15 April 2016 lalu. Saat itu ia merayakan hari jadinya ke-72. Itu juga hari pertama Gunarsa kembali muncul ke publik setelah mengalami sakit menahun.

Gunarsa menyambut saya dengan hangat. Semangatnya masih menyala. Apalagi ketika ditanya soal karya-karyanya. Selama masa yang ia sebut sebagai periode “pasca moksa”, karyanya semakin banyak. Sebagian besar dibuat dalam kanvas berukuran panjang tiga hingga enam meter.

Selama sakit, dia terus melukis. Sebisa mungkin melukis. Melukis juga menjadi sarana untuk menyembuhkan diri. “Selama sakit saya tetap melukis. Biar tidak diizinkan, saya tetap melukis. Terapi saya ya melukis. Kalau nggak melukis, tambah sakit saya nanti,” ujarnya ketika itu.

Dia juga banyak berkeluh kesah soal sistem Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yang menurutnya belum adil, apalagi melindungi para perupa. Maklum, Gunarsa adalah maestro yang sangat getol soal ini.

Satu hal yang selalu diingatnya adalah kasus pemalsuan lukisan berjudul “Penari” oleh salah seorang pemilik galeri. Pemalsuan lukisan itu bukan hanya membuat Gunarsa merugi secara materi, tapi juga secara intelektual. Hingga saat itu – barangkali hingga akhir hayatnya – dia masih merasa kecewa dan merasa belum mendapat keadilan atas kasus itu.

Gunarsa juga sempat bercerita mengenai idenya membuat patung perunggu Ida Dewa Agung Istri Kanya. Tepat pada momen ulang tahunnya ke-72, dia meminta Bupati Klungkung Nyoman Suwirta mewujudkan ide tersebut.

Kini patung itu sudah mulai dikerjakan dan dipasang di Jalan By Pass Ida Bagus Mantra, tepatnya di persimpangan Desa Kusamba, Kecamatan Dawan. Kini, patung itu baru terpasang mulai bagian kaki hingga pinggang. Rencananya patung itu akan tuntas dipasang pada akhir bulan ini. Sayang hingga akhir hayatnya, sang penggagas Nyoman Gunarsa belum sempat menyaksikan kemegahan patung itu.

Ambisi

Di usianya yang sepuh, Nyoman Gunarsa masih memiliki sejumlah ambisi yang belum terealisasi. Salah satunya menggelar pameran tunggal di Paris, Perancis.

Gunarsa sempat bercerita bahwa dirinya menerima undangan dari organisasi Kamar Dagang Perancis, untuk menggelar pameran tunggal di Paris.

Dia mengaku sangat tergoda menggelar pameran tunggal di sana. Alasannya, Perancis dikenal sebagai kiblat seni kontemporer di dunia. Rencananya dia akan bertolak ke Paris, usai Pesta Kesenian Bali (PKB) 2016.

Tatkala itu Gunarsa sudah merancang sebuah konsep untuk pameran tunggalnya di Prancis. Dia ingin membawa karya yang sangat etnik dan mengedepankan sisi kearifan lokal Bali.

“Mungkin nanti karya yang sifatnya etnik, sangat lokal Bali, tapi tidak mengesampingkan unsur kreatif dan inovatif. Saya ingin menunjukkan, bahwa orang timur, orang Bali itu juga bisa melakukan pameran di Perancis, negara kiblat seni dan mode,” ceritanya ketika itu.

Sayang ambisi itu tak pernah terlaksana. Gunarsa sadar tubuhnya tak lagi prima. Usianya makin lanjut dan kondisi kesehatannya semakin merosot. Perjalanan jarak jauh yang bisa saja membuat kondisinya makin lemah, dianggap tidak sepadan. Ambisinya itu harus ia kubur dalam-dalam.

Hingga akhir hayatnya ada banyak hal, ambisi, dan keinginan dari sang maestro yang belum terpenuhi. Ambisinya yang paling utama, ialah menjadikan museumnya sebagai warisan budaya dunia, sebelum ia tutup usia.

“Ada banyak filosofi di museum saya. Museum itu bukan hanya tempat berkarya, memajang lukisan. Ada filosofi kehidupan di setiap bagian museum. Ada cerita pada setiap ukiran, dan ada keunikan-keunikan budaya di setiap bagian bangunan itu,” ungkap Gunarsa.

Ambisi itu sempat ia utarakan kepada Anies Baswedan pada malam pembukaan PKB 2016, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Bali, 12 Juni 2016 lalu. Ketika itu, Anies masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Gunarsa juga sempat memberikan hadiah sebuah lukisan kepada Anies.

Saat itu Anies berjanji mengusulkan lukisan Nyoman Gunarsa sebagai warisan budaya dunia kepada UNESCO. “Karya Pak Nyoman Gunarsa nanti kita usahakan dapat pengakuan dunia,” kata Anies ketika itu. Semoga saja Anies masih ingat dengan janjinya itu.

Selamat jalan sang maestro. Jasa serta pengaruhmu terhadap dunia seni, tak akan kami lupakan. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY