Cak SMAN 1 Negara dalam pentas cak di Taman Budaya Denpasar

 

KESADARAN warga Jembrana di Bali barat untuk mempertahankan kesenian jegog patut diberi jempol. Jegog, dengan segala kemerduannya, terus berkembang, bukan hanya di kalangan orang tua, melainkan juga di kalangan anak-anak muda.

Jegog, dalam perkembangannya, pernah dikolaborasikan dengan berbagai kesenian lain. Misalnya musik dari bambu dengan berbagai ukuran dan nada, dari yang kecil hingga terbesar, pernah dikolaborasikan dengan msuik jazz. Meski sesungguhnya berupa seni tabuh, jegog terus berkembang untuk mengiringi tari-tarian cipataan baru.

Anak-anak dari SMAN 1 Negara kini menggabungkan jegog dengan seni cak. Itu tertonton ketika mereka pentas Minggu malam 3/ September 2017  di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar, serangkaian acara Bali Mandara Nawanatya. Pentas cak mereka menjadi sungguh unik, karena jegog meningkahi permainan ritmis musik mulut mereka.

Pengamat seni Prof. Dr. I Made Bandem, MA., tampak senang menonton kreatifitas anak-anak dari Bali barat itu.  “Kalau SMAN 1 Negara tadi itu local story nya bagus. Ada jegognya, harus dipertahankan seperti itu,” kata Bandem.

Bandem memberi catatan penting untuk anak-anak itu. Menurutnya, cak dan jegog dalam pentas di Taman Budaya itu masih belum padu, justru karena jegog dan cak dimainkan secara selang-seling. Seharusnya, kata Bandem, karena ini adalah pementasan cak, maka jegog sebaiknya dimainkan dengan menggunakan pola cak. “Jegog dan cak berselang-seling, maka ke depan sebaiknya gending jegognya yang di-cak-an. Itu hasilnya akan lebih bagus lagi,” katanya.

Garapan cak SMAN 1 Negara mengangkat lakon  Pura Encak. Sebuah kisah tentang kedatangan Dang Hyang Nirartha pertama kali di Bali tepatnya di desa Perancak yang dulu bernama Tanjung Ketapang. Cerita ini mengisahkan tentang keberhasilan Dang Hyang Nirartha menaklukkan raja  I Gusti Ngurah  Rangsasa yang penganut Bhairawa dan arogan terhadap rakyatnya.

“Penampilan mereka tadi, sudah banyak kemajuan dibanding waktu pembinaan. Mereka sudah banyak belajar dari penampilan cak-cak yang lain,” kata Mas Ruscita.

Hanya saja Mas Ruscita memberi catatan, adegan cak-nya masih kurang. “Masih banyak diam cak-nya. Tetapi yang penting, mereka sudah giat berlatih dan mereka sudah senang,” ucap Mas Ruscita. (T/R)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY