Sumber foto: FB/Baly Putra

 

AKHIR-AKHIR ini saya sering mendengar keluhan dari beberapa kawan mengenai kemacetan lalu-lintas di Ubud. Bahkan beberapa hari terkahir ini, kemacetan Ubud sudah masuk dalam berita-berita penting di media massa. Bahkan lagi, seperti kata berita terbaru, terkait kemacetan itu Kadisparda Bali dipanggil pemerintah pusat.

Kemacetan lalu-lintas di Ubud memang tidak separah di kota-kota lain. Namun menurut saya hal ini seharusnya dapat diperbaiki. Dengan apa? Ya tentu saja dengan kesadaran bersama.

Sebagai warga Ubud atau yang mencari pekerjaan di Ubud, Apakah Anda (saya) sudah sadar, bahwa macet ini dapat kita atasi bersama? Mari coba kita pikirkan BERSAMA (jika tidak bisa sendiri).

Menurut saya ada 10 hal yang bisa kita renungkan untuk mengatasi kemacetan di Ubud:

  1. Beberapa titik yang jelas-jelas sudah dipasang DILARANG PARKIR menjadi tempat parkir dadakan orang yang mencari parkir, terutama mobil. Bagaimana sebenarnya aturan area parkir di Ubud?
  2. Jalan Bisma, sebuah jalan kecil nan menanjak ini, kini selalu sibuk oleh mobil, truk, dan lainnya.
  3. Di depan SMP N 1 Ubud, seharusnya di situ dilarang parkir, karena saat murid pulang sekolah, tidak ada tempat jalan kaki bagi para murid. Bagaimana jika lokasi itu khusus untuk parkir bagi para penjemput murid saja?
  4. Pegawai restaurant atau toko di sepanjang jalan raya Ubud, seharunya tidak parkir di depan tokonya sendiri, bahkan kadang lewat garis batas. Bayangkan 20 pegawai membawa motor masing-masing dan parkir di depan restaurant-nya seharian. Tidak ada parkir bagi customer atau pelancong yang ingin menikmati Ubud (Itu pun jika kita masih menginginkan Ubud menjadi tempat wisata).
  5. Perempatan Ubud, jalan raya Ubud sudah dijadikan dua arah semenjak Januari 2017, namun apakah ini sudah mengatasi masalah kemacetan? Naik turun penumpang di perempatan Ubud juga masih menjadi sumber kemacetan.
  6. Apakah Ubud Central Parking sudah menjadi tempat yang memadai?
  7. Pasar Ubud tampaknya belum mempunyai lahan parkir yang memadai. Padahal yang saya ketahui, pasar Ubud diperbaiki untuk mengatasi kemacetan dengan membawa area parkir di dalam pasar. Malah saat ini, perubahan ini mempersulit para pedagang karena bentuknya yang membuat sulit beberapa pedagang untuk berjualan dan mendatangkan pembeli. Bagaimana jika kembalikan pasar tradisional yang dulu?
  8. Jalan Karna? Ini jalan atau Pasar? Apa sebenarnya tujuan dibukanya jalan dari Pasar Ubud ke Jalan Karna? Untuk mengatasi macet atau menambah luas pasar?
  9. Bagi orang yang mempunyai mobil, apakah Anda mempunyai atau menyewa garasi untuk mobil Anda?
  10. Ubud adalah sebuah Desa, jalannya tidak seluas kota. Bus-bus yang masuk Ubud seharusnya lebih memikirkan hal ini.

Mungkin Anda mempunyai beberapa pemikiran tentang masalah ini dan beberapa pihak sudah memulai memikirkan untuk mengatasi macet ini. Mari kita bantu mereka untuk LEBIH SADAR (setidaknya). Jika tidak, Ubud (kita) harus memikirkan kata lain dari PARIWISATA. Ubud pasti mempunyai banyak orang-orang yang cerdas yang bisa kita andalkan dan percayai. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY