Nyoman Erawan, Surga dalam Koper (2015)

.

SEBUAH KENANGAN DALAM BOTOL BIR

Didalam café tergeletak botol bir
Seorang pria memandangnya
Tiap denting jam bergetar
Tak berkutik diam membisu
Mulutnya terkunci rapat
Tak bersuara tertelan gelap
Botol bir tak ia sentuh
Bukan tak mau diteguk
Tapi ada kenangan dalamnya
Bukan kadar alkohol yang memabukkan
Kenangan tentangmu
Tersimpan rapi disana
Saat kau belingsatan dan melenguh
Mencabik-cabik berahi
Menggoyang libido

Kenangan itu tertinggal dan tak mau pergi

Surabaya, Juni 2017

MOGA BUKAN MIMPI

Imaji-maji bodoh itu datang kembali
Menyelusup dalam korteks otak
Tak percaya atau sebuah ilusi
Kau datang dalam wujud menggiurkan
Masuk ke dalam mimpiku
Mengacaukan bahtera keseimbangan
Memporak porandakan kesunyian
Kau menyusuri tiap jengkal kulitku
Merayap bak ular karma
Wajahmu mendekat menggoda
Mulut ini kau bungkam
Telunjukmu menyudahi kata-kataku
“Tak usah kau lanjutkan”
Aku hanya raib tak membekas
Kaku terbujur mati
Bola mata nistagmus
Saat kau mengurut dan mengulum lingga-ku

Tak bersuara dan berdoa
Moga ini bukan mimpi

Surabaya, Juni 2017

MENGHENTIKAN WAKTU

Andai waktu itu dihentikan
Kau tak akan pergi lenyap
Arloji seiko yang kau kenakan itu
Tak ada gunanya lagi
Hanya jarum detik dan menit berdetak
Selebihnya perlengkapan tersier mewah
Tak berguna sama sekali
Karena..
Kebahagiaan dan kesedihan tidak pernah tepat waktu

Surabaya, Juni 2017

ELEGI KESEDIHAN DARI SURGA

Gitar dipetik lantunan menyayat
Suara tenor beradu dingin malam
Senyap menusuk
Tiap chord nada bermakna
Tak ada sia-sia
Sebuah pesan terselip denting piano
“Dengarlah….resapi”
Mereka mendendangkan nyanyian pilu
Menyayat hati luka
Tuhan menciptakan itu dari surga
Diturunkan di bumi ke tangan Beethoven
Apakah kita ini pemuja kesedihan?
Bukan, kita adalah budak kesedihan
Keindahan itu ada didalamnya
Terus mengalir bak sungai gangga
Membasuh dosa-dosa ini
Sadar atau tidak bahwa

Kita dipertemukan oleh kesedihan itu

Surabaya, Juni 2017

PADAM SUNYI

Langit berarak menuju senja
Rinai hujan rintik-rintik
Mengenangi deras bumi
Gerimis itu menyamarkan berahimu
Terbungkus kepompong syahwat
Kedok untuk sebuah pelukan dan ciuman
Sebelum segalanya padam dalam sunyi

Surabaya, Juni 2017

SHARE
Previous articleGebug Light-Bala Samar: Keberanian Keluar Dari Ikatan Tradisi
Next articleLelaki Teka-teki
Ferry Fansuri
Lahir di Surabaya, 23 Maret 1980. Penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY