Saras Dewi saat diskusi di Rumah Belajar Komunitas Mahima

 

SIAPA yang tak kenal L.G Saraswati Puteri. Ia kini terkenal dengan nama Saras Dewi. Ia sosok penyanyi, sastrawan, juga dosen ilmu filsafat di Universitas Indonesia. Tak hanya cantik dengan wajah periang. Kualitas wawasannya dan cara pandang intelektualnya juga begitu menarik untuk dijadikan teladan, sebagai mahluk yang mencintai ilmu pengetahuan.

Jangan diragukan lagi. Gagasan-gagasannya sudah tertuang dalam sejumlah karya besarnya seperti karya sastra kumpulan puisi Jiwa Putih, lalu buku karya non-fiksi dengan judul Hak Asazi Manusia. Buku selanjutnya Bukan Cokelat, dan tahun 2015 kembali menerbitkan sebuah karya buku berjudul Ekofenomenelogi. Terbaru, puisi-puisinya tertuang dalam buku antologi Kekasih Teluk.

Jadi tak rugi jika kita, khususnya sebagai insan akademis yang katanya sebagai agent of change, mau cuap-cuap bertukar pikiran dengan aktivis sekaligus penulis aktif seperti Mbak Saras Dewi ini.

Dalam sebuah lingkar diskusi bertemakan “Bincang Seru Puisi dan Filsafat bertempat di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Minggu 20 Agustus 2017, Mbak Saras berbagi gagasan dari kemewahan idealismenya, khususnya gagasan yang menyoroti keadaan lingkungan hidup saat ini yang mulai amburadul.

 Perbincangan dimulai dengan membedah buku kumpulan puisinya tentang Kekasih Teluk oleh penyair perempuan dari Komunitas Mahima, Wulan Dewi Saraswati. Judul bedahannya, Doa Puisi-Puisi Saras Dewi ‘Kekasih Teluk’.

Wulan menyebutkan “puisi yang mengungkapkan kekecewaan dan harapan melalui dialog-dialog alam yang menjadi warna dan menghiasi kumpulan puisi Kekasih Teluk”. Jadi bisa dismpulkan karya tersebut sebagai bentuk perlawanan dan kekecewaan terhadap manusia yang mulai merusak dan tidak menghargai alam. Maka lewat puisi tersebut seakan-akan kita berdoa dan mengeluh.

Kita sepakati, bahwa alam punya pengaruh dalam kehidupan mahkluk di bumi, baik bagi binatang, tumbuhan, terlebih bagi manusia itu sendiri. Seperti bahasa filsuf ternama macam Aristoteles dalam tulisan Jostin Gardier: “Bintang-bintang punya pengaruh terhadap kehidupan manusia?” Bahasa lain: “Manusia dibentuk oleh empat unsur: Tanah, Air, Api, dan Udara”. Dengan pernyataan ini tentu ia percaya bahwa alam memiliki penggerak utama yang menyebabkan pergerakan, dan itu ada di luar alam semesta.

Kumpulan Puisi Kekasih Teluk merupakan sebuah penyampaian protes agar kita sesegera mungkin menyadarkan diri tentang betapa pentingnya peran serta pengaruh alam bagi kehidupan manusia dan mahluk lainnya. Karena semua mempunyai simbolis perasa bagaimana alam memberikan sebuah tempat yang nyaman jika diperlakukan dengan baik bak seorang kekasih yang kita cintai.

Manusia dewasa ini sering mengabaikan keberadaan alam. Kita lihat bagaimana reklamasi masih menjadi problem yang harus kita suarakan untuk kelestarian menjaga keharmonisan antara alam dan manusia. Seperti cerita Mbak Saras Dewi, ia pernah berdialog dengan salah satu nelayan di Teluk Benoa bahwa seberapa pentingnya menjadi seorang nelayan dan arti keberadaan Teluk. Nelayan itu mengatakan, “Pekerjaan nelayan bukan sekedar profesi yang hanya untuk mengenyangkan perut keluarganya namun profesi tersebut merupakan peninggalan leluhur untuk tetap menjaga dan melestarikan pada alam itu sendiri, karena alam mampu memberikan kehidupan pada manusia dan mahluk lainnya”.

Jika para pemegang wewenang mengatakan dengan alibi bahwa kebijakan reklamasi harus dilakukan karena terlalu sering mengalami pasang-surut air laut maka kalimat Feed Back yang paling tepat adalah “Pasang-surut ibaratkan kita menarik udara dan menghembuskan udara dalam pernapasan yang menyehatkan badan itu sendiri sama halnya dengan pasang-surut pada teluk hal itu untuk menyehatkan alam itu sendiri apalagi jika benoa itu direklamasi disana masih ada bangau! Bagaimana nasibnya?”.

Orang Bali mengenal Tri Hita Karana, dan semoga tidak hanya berupa sebuah kajian filosofis semata namun tindakan nyata mencintai alam dan tidak hanya sebatas bentuk simbolis yang tertera di spanduk-spanduk jalan raya namun perlakukan alam seperti ibu bagi kita. Seperti kutipan puisi mbak Saras Dewi dalam Kekasih Teluk.

Aku tidak mau manusia menang

Dalam perkelahian tidak seimbang dengan alam

Sebab bila mereka menang

Berarti mereka telah kalah

Karena sejatinya mereka seperti membunuh

Ibunya sendiri

Sehebat apapun, secerdas apapun, manusia mampu mengalahkan alam dengan merusak dan menyakitinya, tetap ia akan membawa dampak kerugian akan dirinya sendiri karena alam adalah nikmat dari Tuhan yang seakan-seakan kita dustai keberadaannya kualatlah kita dan musibah-musibah dari perlakuan alam akan segera tiba, layaknya carita malin kundang yang dikutuk ibu kandungnya karena sifat durhakanya.

Petani Itu Keren

Dalam sebuah lingkar diskusi apapun, banyak di antara kaum intelektual tak luput membahas soal keberadaan petani dan manfaatnya bagi sebuah negara. Begitu juga dalam diskusi bersama Mbak Saras Dewi di Komunitas Mahima.

Hari ini kita sering mendengar di berita-berita televisi atau media yang tersaji dalam bentuk tulisan yang dimuat di koran, majalah, dan lain-lain, bahwa Indonesia mengimpor beras dari negara Thailand pada Februari 2017 melebihi impor tertinggi negara Pakistan. Sungguh hal tersebut seperti banyolan ngelantur alias ngawur yang tak mungkin jika kita melihat kondisi alam Indonesia begitu agraris.

Sejak kecil duduk memakai seragam TK hingga di bangku kuliah tidak pernah mendengar di antara teman-teman kita bercita-cita ingin menjadi petani? Apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Mungkin saja kita selama ini menganggap bahwa petani merupakan sebuah pekerjaan yang menjijikkan, berpanas-panasan, berlumuran lumpur, di sawah. Hingga timbul pikiran apa yang dapat kita harapkan sebagai seorang petani untuk hidup di masa depan. Namun  jika dilihat dari jasa para petani tentu petani memiliki peran yang besar dalam mensejahterahkan masyarakat khususnya di Indonesia sendiri.

Imam an-nawawi menambahkan bahwa pekerjaan seperti petani diposisikan terhormat karena memberikan manfaat yang sangat banyak bagi mahluk hidup lainnya. Pendapat ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Al-Wishaby. Menurutnya, bertani adalah fardhu kifayah. Kewajiban tersebut gugur jika telah dilaksanakan oleh sekelompok orang, bila tak ada satupun pihak yang melaksanakan tuntutan ini, sanksi dosa akan ditujukan pada setiap orang.

Dari beberapa pendapat ini tentu benang merah yang dapat kita tarik ialah tentang faedah bertani tidak hanya sebatas untuk diri sendiri namun juga manusia lainnya, maka disinilah mulianya seorang petani. Namun jauh panggang dari api untuk generasi kita hari ini yang tak mampu menyentuh ranah itu untuk visi hidup di masa depan. Kita lihat dewasa ini petani di Indonesia sudah banyak yang masuk pada kategori lanjut usia, mereka masuk pada kisaran rata-rata umur menginjak 45 tahun ke atas, jarang kita temui pemuda dan pemudi yang mengelolah lahan pertanian untuk setidaknya membantu menjadi penyengat untuk semangat bertani di Indonesia.

Jika dikomparasikan dengan negara-negara maju seperti Korea Utara, China, Thailand, di mana sejak dini generasi mudanya sudah diperkenalkan dengan citra seorang petani. Maka tak heran jika kualitas sistem pertanian mereka di atas lebih maju dan baik daripada kita, semisal penggunaan tekhnologi hingga dukungan dan support pemerintah melalui Subsidi petani bahkan petani mereka rata-rata adalah berusia muda dan produktif sehingga mampu memanfaatkan tekhnologi pertanian.

Dewasa ini kebanyakan orang menganggap jadi seorang petani itu tidaklah keren, karena mereka tidak memakai dasi dan duduk bersila di atas kursi. Kadangkala menjadi anak yang orang tuanya berprofesi seorang petani zaman sekarang sungguh memalukan. Mereka banyak yang berpura-pura menyembunyikan identitas kedua orang tuanya demi sebuah pengakuan dari teman-temannya.

Ya, terkadang anak sekarang hanya bermimpi sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi masa depannya. Bukan berarti cita-cita kita itu tidak baik, namun selaku anak, kita harus bisa menerima apa yang orang tua kerjakan. Seharusnya, kedua orang tua kita dijadikan sebuah pemicu semangat untuk bisa sukses, kalau perlu kita buang ideologi mereka yang menganggap kalau jadi petani itu tidak keren. Padahal para petani tidak hanya memikirkan nasib anak dan istri namun mereka juga memikirkan kapan harga padi atau sayuran yang di tanam akan bisa naik lagi.

Mindset berpikir seperti harus segera diubah dan jangan pernah menganggap sepele. Peran pemerintah memang harus segera terlihat dan terlibat karena bagaimanapun negara maju masih ditentukan oleh keberadaan petani yang produkktif untuk ketahanan pangan atau kesejahteraan masyarakat Indonesia. Bukankah hak semacam jadi petani yang berlumurkan lumpur itu keren jika dilihat dari jasanya yang sistemik atau menyeluruh.

Peran pemerintah dalam hal ini juga harus sungguh memperdayakan petani, semisal dalam hal penanaman citra petani di kalangan pelajar harus ditekankan dari sekarang, semisal memasukkan nilai-nilai bertani dalam sebuah kurikulum, atau mewajibkan perogram wajib bertani dan juga subsudi petani harus lebih digalakkan lagi, demi pertumbuhan dan kesejahteraan bangsa dan negara tercinta ini.

Dengan begitu, maka petani bagia anak muda bisa menjadi profesi yang keren, sama kerennya dengan profesi yang biasa dicita-citakan anak-anak.  Mbak Saras Dewi, dalam diskusi di Komunitas Mahima tampaknya memang punya perhatian besar terhadap petani dan dunia pertanian. Untuk itulah ia menghidupkan kembali spirit bertani dengan berbagai aktivitas, baik dalam teks maupun dalam kegiatan fisik. Salah satunya adalah membangun Museum Sang Hyang Dedari di Karangasem.

Ada sejumlah wacana yang berkembang saat diskusi menyinggung soal pertanian, antara lain tentu saja pesimisme hilangnya pertanian optimisme bahwa suata saat pertanian akan kembali berjaya. Itu memang biasa terjadi. Tapi Saras Dewi, sebagaimana ia memandang Teluk sebagai mahkluk hidup yang punya jiwa dan roh, juga memandang dunia pertanian dengan tanah, lumpur, sawah serta segala ritualnya sebagai makhluk hidup yang harus dikasihi, disayangi dan dicintai sepenuh hati.

Itu salah satu alasan ia membangun Museum Sang Hyang Dedari. Sebagai penekun filsafat, apalagi jika dikaitkan dengan fenomenologi, ia mungkin akan mendapat pertanyaan tentang bagaimana seseorang bisa percaya pada roh yang meghidupkan benda-benda. Bagaimana bisa membuktikan seorang penari Sang Hyang Dedari benar-benar dimasuki roh bidadari?

Tapi, begitulah spirit penting untuk menjaga alam, mengasihi Teluk, menjaga pertanian yang tercinta. Dan Mbak Saras Dewi melakukan dengan penuh kesadaran sebagai seorang intelektual, sebagai akademisi, sebagai seorang sastrawan, sebagai seorang aktivis, dan mungkin juga kesadaran sebagai seorang penyanyi. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY