Pementasan teater anak-anak tunanetra dari Komunitas Teratai di Taman Budaya Denpasar

 

KOMUNITAS Teratai tampail lagi bermain teater. Jika sebelumnya mereka bermain di Bentara Budaya Bali, pada Jumat sore 19 Agustus  anak-anak penyandang disable (tunanetra) itu bermain bermain di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, serangkaian acara Bali Mandara Mahalango 2017.

Pentas di Bentara Budaya dan Gedung Ksirarnawa itu, meski dilakukan oleh sebagian besar orang yang sama, namun permainan mereka di dua tempat itu menunjukkan perbedaan di sejumlah bagian. Ini tentu karena sutradaranya juga berbeda. Di Gedung Ksirarnawa, penyutradaraan ditangani sutradara senior, Abu Bakar.

Abu Bakar mengaku sebennarnya bukan dirinya yang menangani garapan ini. Ada sutradara lain. “Tetapi sekitar 20 hari lalu saya dihubungi sanggar ini. Mereka meminta saya menyutradarai naskah Pinangan karya Anton Cekov yang telah mereka persiapkan,” kata Abu Bakar.

Abu Bakar terketuk dan menyanggupinya. Mengingat setiap sutradara memiliki style sendiri-sendiri, Abu Bakar pun mengolah kembali pada beberapa bagian. Pada beberapa bagian yang masih bolong-bolong ia isi dan tambahkan. Kemudian di beberapa bagian lain ia beri sentuhan yang berbeda. Mulai dari kostum, pendalaman karakter tokoh dan lainnya. Hasilnya pun berbeda dengan penampilan Komunitas Teratai saat pentas sebelumnya di Bentara Budaya dengan sutradara sebelumnya.

Memang perlu sentuhan khas untuk menyutradari pemain tunanetra dalam bermain teater.  Abu Bakar menyadari betul hal itu. Pada pementasan ‘Pinangan’ di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Jumat sore (19/8) itu hanya seorang pemainnya yang tidak tuna netra yaitu pemeran utama wanita. Lainnya adalah pemain tuna netra.

Sehingga Abu Bakar pun membuat terobosan-terobosan agar  para pemain dapat bermain normal. Ada lintasan kabel yang menempel di lantai panggung. Gunanya untuk panduan berjalan pemain dengan menyentuh telapak kaki pada kabel tersebut. Ada beberapa titik di lantai di beri tanda lakban untuk tanda posisi berdiri. “Dan selendang yang melintang ini sebagai penanda batas agar pemain tidak terjatuh dari panggung,” papar Abu Bakar.

Bagi seorang Abu Bakar, yang menarik dari penampilan ini, dalam waktu berdekatan ia menyutradarai seorang gubernur bermain teater dan sekarang pemain-pemain teater yang tuna netra . “Yang satu dapat melihat dunia dengan terang benderang, yang satu lagi melihat dunia dengan hati,” ujar Abu Bakar.

Bagi penonton awam, tentu tak menyangka bila sebagian besar pemain teater yang tampil adalah pemain tuna netra, karena mereka tampil sempurna tanpa tongkat dalam berakting di panggung. Itulah kekuatan mata hati. (T/R)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY