Gubernur Bali Mangku Pastika main teater bersama kelompok Teater Agustus di Taman Budaya Denpasar

 

DALAM jarak waktu yang tak terlalu lama, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, sudah dua kali main teater. Bukan main teater di panggung politik, bukan pula di panggung birokrasi. Ia main teater di panggung teater sesungguhnya.

Gubernur kita itu main teater bersama Teater Bumi saat Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Kamis 6 Juli 2017 malam. Ia berperan sebagai dukun saat Teater Bumi memainkan naskah Arifin C Noor yang berjudul Kisah Cinta dan Lain-lain.

Di ajang Bali Mandara Mahalango, Sabtu 12 Agustus malam di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Sang Gubernur main bersama Teater Agustus pimpinan Ida Bagus Martinaya alias Gus Martin. Peran yang dimainkannya cukup bertanggungjawab: menjadi Mahaguru Drona.

Naskah drama dengan judul Mahaguru Dorna itu ditulis sendiri oleh Gus Martin. Sebagai pelaku teater yang sudah puluhan tahun gelut di dunia teater, Gus Martin tentu tak main-main dalam menulis naskah. Dan ketika dipentaskan ia memilih Mangku Pastika memerankan Drona. Tentu saja pilihan yang tak main-main.

Awalnya, dua tahun lalu, Gus Martin dan Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Ketika itu Gus Martin menghadiahkan Mangku Pastika sebuah buku kumpulan naskah drama “Peti” yang ditulis Gus Martin sendiri. Harapan Gus Martin, buku kumpulan drama itu disimpan dengan baik di perpustakaan Mangku Pastika.

Beberapa waktu kemudian Gus Martin kembali bertemu dengan Mangku Pastika di sebuah acara. Dalam kesempatan ngobrol, Mangku Pastika bertanya kepada Gus Martin apakah boleh memainkan salah satu naskah drama yang ada dalam buku “Peti”. Gus Martin tentu saja kaget. Ia mungkin tak menyangka seorang Gubernur punya keinginan main drama, apalagi naskah drama yang ditulisnya.

“Saya bilang ke  beliau (Mangku Pastika), kalau naskah dalam buku ‘Peti’ kurang cocok untuk dimainkan beliau. Karena itu adalah kumpulan naskah drama remaja. Saya katakan ke beliau, nanti saya buatkan naskah khusus untuk beliau mainkan,” kata Gus Martin di sela-sela pentas Mahaguru Drona di Taman Budaya.

Akhirnya lahirlah naskah drama “Mahaguru Drona” yang dimainkan di acara Bali Mandara Mahalango, Sabtu malam itu. Menurut pendiri Teater Agustus ini, ketika itu Mangku Pastika mengatakan serius sekali  naskah drama ‘Mahaguru Drona’,  tidak ada humor-humornya.

Gus Martin menjawab ia sengaja membuat drama ini yang serius. Karena sudah banyak drama yang menyajikan humor-humor. Kalau ia membuat humor sama saja dengan yang lain. “Kalau drama yang humor-humor itu ibarat makan pakai krupuk yang meriah-meriah yang setelah itu dilupakan begitu saja. Tetapi saya ingin buat lawar paye (paria) yang ada pahit, pedas dan tidak banyak orang suka tetapi ada manfaatnya. Akhirnya beliau (Mangku Pastika) setuju,” cerita Gus Martin.

Gus Martin dan Teater Agustus yang telah berusia 36 tahun pun mulai persiapan pementasan. Tak kurang dari dua bulan untuk persiapan. Selama dua bulan itu latihannya dua kali seminggu. Hanya saja karena kesibukan Mangku Pastika selaku gubernur maka saat latihan tokoh mahaguru Drona diperankan oleh pemeran pengganti. “Latihan dengan beliau (Mangku Pastika –red) hanya sempat dua kali. Beliau sangat serius dan mampu memerankan tokoh Drona. Bahkan diam pun sudah seperti tokoh Drona,” terang Gus Martin.

Made Mangku Pastika mengakui untuk persiapan latihan ia hanya sempat dua kali latihan bersama dengan Teater Agustus. Itupun ia hanya menonton latihan dengan pemeran pengganti. Sisanya ia mencoba mempelajari dan menghafalkan serta menghayati tokoh Drona disela-sela kesibukannya mengurus rakyat Bali.

Walau begitu Mangku Pastika tetap berusaha tampil maksimal. “Yah, saya sudah berusaha tampil maksimal tetapi mungkin belum sempurna memerankan tokoh Drona karena saya kan pemain amatiran. Tadi siang saya coba menghafal lagi dialognya dan malamnya tampil,” aku Mangku Pastika usai pementasan sambil tertawa.

Menurut Mangku Pastika, pesan dari drama ‘Mahaguru Drona’ yang ia mainkan memiliki pesan agar kita tidak mendendam. “Dendam itu harus diakhiri dengan memaafkan, dengan kesabaran, dengan toleransi. Memang tidak gampang,” ujar Mangku Pastika.

Mangku Pastika mengajak penonton dan masyarakat Bali untuk belajar dari pesan drama ‘Mahaguru Drona’. “Mungkin ada orang yang menyakiti kita, tetapi kita harus dapat melepaskan dendam itu,” ajak Mangku Pastika. Ajakan bijaksana yang dapat sebagai pembelajaran bersama untuk masa kini dan ke depannya. (T/R)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY