Ilustrasi foto: FB/Sugi Lanus

 

Buda Cemeng Klawu, Rabu, 2 Agustus 2017, merupakan rerahinan gumi. Hari ini merupakan hari suci Puja Wali Betara Rambut Sedana yang diperingati setiap 210 hari atau enam bulan sekali menurut kaleder saka-bali.

Saya mencoba mengatuk-gatukan. Klawu atau “Kel uwu” dalam bahasa Bali “uu atau uwu” berarti di “takar”. Jadi “Kel uwu” dalam bahasa Indonesia berarti “akan ditakar”. Apa yang ditakar? Salah satunya adalah harta yang saat ini umunya diukur dengan nilai uang.

“Saya jadi ingat , mengapa tempurung kelapa di bali disebut “KAU”, mungkin karena benda itu biasa digunakan untuk mengukur atau menakar seperti mengukur beras, air, waktu (saat metajen), mengukur makanan, pikiran, tindakan dan seterusnya”.

Jadi di hari Buda Cemeng Klawu kita tidak hanya mensyukuri berapa jumlah harta atau uang yang kita miliki, dimana uang bisa menjadi simbul dan alat interakasi.

Di hari ini atas dasar wiweka, kita diingatkan dan wajib memahami hakekat uang agar tetap memberi kesejahteraan hidup, yakni menakar berapa jumlahnya, menakar peruntukannya, menakar sumber memperolehnya, menakar waktu penggunaannya, menakar pelakunya dan sebagainya. Dengan demikian kita akan tahu berapa kurang dan berapa lebihnya berdasarkan kebutuhan dasar kehidupan sesuai ajaran agama Hindu (Weda).

Mensyukuri atau “mengupacarai” uang atau harta tanpa dilandasi oleh pengetahuan suci Sudana (pengelolaan yang benar menurut ajaran agama”) tentu sama saja mengupacarai hal-hal yang kita tidak sadari atau ketahui. Bisa jadi hanya gugon tuwon alias mule keto.

Tanpa pengetahuan sudana lah maka jangan heran, saat ini, dijaman Kali Sanggara ini, yang miskin merasa susah, yang bisa-bisa juga susah, bahkan yang kita anggap kaya juga susah (setidaknya resah dan gelisah). Semua itu bisa jadi karena uang atau harta yang dimiliki jarang atau tidak dikelola berdasarkan takaran yang sebenarnya, yaitu berapa untuk Brahma dana (hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan sekala –niskala), berapa untuk Abhaya dana (hal-hal yang berhubungan dengan penataan kehidupan manusia disebuah wilayah) dan berapa untuk Arta dana (hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan dasar tubuh). Jika dikupas leih lanjut akan memberi penjelasan sudana dalam makna filosofis Tri Hita Karana (keseimbangan kehidupan).

Tanpa mengenali takaran uang dengan benar, maka uang itu bisa-bisa seperti “morfin” jika dimaknai dan digunakan dengan benar maka akan menjadi obat atau pengetahuan. Sebaliknya jika disalah gunakan maka uang berpotensi mmenjadi Wegig, Desti atau “Leak”. Makanya tidak heran gara-gara punya banyak uang hidup seseorang seperti “amah leak”, seperti untuk narkoba, foya-foya di cafe-cafe, korupsi yang berujung penjara, money politik, usaha-usaha yang merugikan, sumbangan-sumbangan tanpa makna (CSR) atau juga untuk biaya proyek-proyek prestise atau pencitraan saja yang ujung-ujungnya rakyat tetap merasa belum sejahtera. Kita pun jadi paham mana uang sebagai Dana-Punia mana uang sebagai investasi politik pasaran.

Jadi dengan menakar harta atau uang dengan rumus Sudana kita akan tahu posisi yang sebenarnya, yang merasa susah karena tidak punya uang setelah dihitung jangan-jangan sudah lebih dari kebutuhan dasar, atau yang merasa banyak punya kekayaan setelah di hitung dengan rumus Sudana ternyata peruntukananya banyak yang salah, yang terus berambisi menumpuk kekayaan/uang setelah dihitung ternyata bukan karena kurang uang tetapai karena tidak pernah bersyukur apa yang telah dimiliki, begitu juga yang medana punia jika salah maka uang itu tidak lebih hanya dalih money politik dan seterusnya.

Semoga di hari suci ini Puja Wali Betara Rambut Sedana kali ini kita mulai menakar (Uwu) arti/makna kemakmuran. (*/T).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY