Penampilan Komunitas Seni RRI Denpasar di Taman Budaya Denpasar. /Foto: Istimewa

ISU kebinekaan tidak hanya merambah dunia politik. Panggung seni pun tak ketinggalan memperbincangkan dan mementaskannya. Setidaknya itu tercermin di pertunjukkan “Tabuh dan Taman Penasar” di Bali Mandara Mahalango.

Kebhinekaan kini menjadi sorotan sebagian masyarakat. Baik di pentas lokal hingga nasional. ‘Kebhinekaan’ itu hadir dalam pertunjukan “Tabuh dan Taman Penasar” yang menampilkan Komunitas Seni RRI Denpasar.  

Taman Penasar adalah salah satu produksi mata acara siaran Programa (PRO) 4 LPP Radio Republik Indonesia (RRI) Denpasar. Biasanya mengudara tiap Sabtu pada pukul 10.00-11.30 Wita oleh Keluarga Kesenian Bali. Acara ini mengupas isi-isi geguritan melalui pupuh-pupuh yang ditembangkan kemudian dihubungkan dengan situasi masa kini, agama, sosial budaya, maupun politik, melalui guyonan-guyonan yang menghibur. Namun kini, program “Taman Penasar” hadir menyapa langsung para pendengar setia di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya, Denpasar (29/9).

“Isu-isu sekarang banyak yang menyeret agama. Renggangnya kehidupan masyarakat Indonesia, dan banyak salah paham juga. Jadi kita pingin masyarakat Bali seperti ‘Taman’ yang banyak ‘bunganya’. Kan, kalau ‘bunganya’ satu saja, jelek. Kalau banyak akan terlihat indah dan harmonis,” ungkap Koordinator Produksi Program Taman Penasar, Made Artana. Itu sebabnya, dipilihlah tema “Kebhinekaan” sebagai topik pertunjukan. Artana menjelaskan, geguritan-geguritan pada yang dibawakan berasal dari berbagai kitab, seperti Sarasamuscaya, Bhagavad Gita, dan lain sebagainya.

Pertunjukan “Taman Penasar” pada penyelenggaran Bali Mandara Mahalango IV 2017 didukung oleh beberapa seniman besar Bali, seperti Gede Tomat (Dalang), Nyoman Sunarta, Gus Arya, dan lain sebagainya. Dengan sasaran seluruh lapisan masyarakat umum di segala usia, mulai dari kanak-kanak sampai orang dewasa, khususnya. “Ya, aku sebagai remaja yang tidak tinggal bersama Kakek dan Nenek-ku, aku sangat senang mendengar petuah dari orang tua. Pementasannya cukup menghibur, dan ada candaannya juga,” aku Hardy Lestari (16), salah satu penonton. Hardy berharap masyarakat lebih mengapresiasi seniman-seniman senior Bali yang telah mau memberikan petuah kehidupan kepada masyarakat luas. “Supaya lebih eksis juga, karena ‘misinya’ sangat bermanfaat bagi kehidupan kita,” tutup Hardy. (T/R)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY