Lukisan Nyoman Erawan

LAILA O LAILA

di kota kecil dekat kebun anggur yang ranum
kutumbuhi jendela-jendela angin
untuk menghambur di segala sisi,
airmata telah berakar dan berkembang
di kesunyian ini, aku lunglai
dalam kesabaranku sebagai kekasih
tak lagi bisa kubendung
dan selalu berubah menjadi embun
yang akan terbang hilang
bersama tebaran cahaya mentari
kenangan-kenangan yang lalu telah menjadi kebun abu
lautan gelisah dalam hatiku tak akan lagi meruntuh
aku tahu dari dalam hutan cintamu
telah di tumbuhi semak-semak baru
yang mungkin akan menggelapkan
pandang mataku yang sayu ini
setelah warsa, wujud tiada sangka
kau lempar semua rinduku yang bercawan aksara
kedalam pendiangan malam
dan kau telah sembunyi di balik bahu lelaki itu
menjadi kekasih barunya tanpa melihat aku
api telah tumbuh dan bicara
di sini aku semakin di telan kecumburuan
seperti seekor ikan yang terlempar dari air
seperti seekor burung yang tak bersayap
menggelapar dalam tangisan dahaga
tanpa ada penolong jiwa
aku telah terluka karena cintamu

roemah bamboe, 2015

RINDU DI BULAN JULI

rindu melipat syahdu
pada bulan ketujuh
kupanggil engkau juli dengan kesunyian
penantian ini masih terjaga pada jarak dan waktu
aku renangi lautan berharap sapa melintas di kata-kata
engkau tahu juli
sudah berapa warsa rindu kutahan dengan air mata
sakitnya tiada banding
seperti ribuan sembilu yang menghujam tubuhku
di setiap berjumpa mata
kucoba untuk memahami
jika kelak kekasihku itu kembali
aku tak lagi asing mengenal kerlingnya

padang 2017

AKU DAN KENANGAN DI MASA LALU

angin menaruh diam di malamku
mataku liar mengejar cahaya kunang-kunang
di teras kelam beratap ilalang
kakiku menari memecah kesunyian
dipan batang bambu kokoh menopang
dan rindu menerpa di ujung hatiku
bulan telah datang
seperempatnya tergambar cemas
kucoba pungut masa lalu
dari tanah-tanah halaman rumahku
untuk kujadikan kenangan

padang, 2017

UNTUK AR

ar, di matamu kulihat malam
rindu kau selipkan pada gelap
kelak air mata akan kau pinta
padaku letih kau titipkan
haruskah kutuang cerita ini dalam resah
jiwa kita adalah pengembara
kuresapi tajamnya sorot matamu
dan kutemukan kesunyian itu
katakanlah pada waktu, untuk segera berpacu
sebab bisu ini sangat menyiksa
bukankah kau merasakan juga,
jika saja bulan tiba malam ini
akan kubiarkan bintang menemaninya
karena sepi kita begitu dalam menyerap dalam dekap
kucari suara bibirmu di antara angin
dari hutan-hutan berhulu kabut
kuayunkan kenangan-kenangan silam
tentang kita yang pernah menulis asa
pada tembok-tembok hening
dan aku pernah rasakan sakitmu
yang begitu dalam menguras air mata
ar, kita sudah lewati perjalan hidup ini
suka, duka telah kita jadikan cerita
aku merindukan tawa di masa yang purba
akan kudekap duniamu
akan kuruntuhkan tebing jarak itu
akan kutumpahkan kelakar
agar kau ingat bahwa aku pernah ada bersamamu

prokimal, 1997

KITA MASIH SEPASANG BOCAH

kita masih sepasang bocah tanpa baju dan celana
kita tertawa, bercanda menari di ladang ilalang
tanganmu selalu kugenggam dalam lingkar nyaman
rambutmu panjang terurai selalu menggoda pandang mataku
tapi kita belum mengenal cinta
kita masih sepasan bocah tanpa baju dan celana
berlarian di ladang ilalang
menangkap jangkrik dan mengejar belalang
sesekali tubuhmu kau rebahkan di bahuku karena lelah
tapi kita belum mengenal cinta
kita masih sepasang bocah tanpa baju dan celana
saat matahari pulang mengejar malam
kita sudahi permainan dan kembali menuju rumah
di mana mimpi sudah menanti kita
aku ingat, sebelum langkah kita terpisah jauh
kau sempat cium kening hitamku
tapi kita belum mengenal cinta

sukadamai, 1995

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY