Malam itu, 5 Juli 2017, Wantilan Pura Puseh di Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, ramai. Selain dipenuhi anak muda, juga banyak para orang tua. Mereka seakan ingin bernostalgia menonton Tari Kecak dari desa setempat yang dulu sempat redup, dan kini sedang dihidupkan kembali dengan gairah yang menyala.

Tari Kecak dibawakan oleh para remaja putra-putri yang tergabung dalam Sekaa Teruna Yowana Kerti Yasa. Tari Kecak di Bona memang berbeda dengan tari kecak umumnya. Kecak Bona sempat berjaya dan dikenal luas, terutama ketika gemuruh pariwisiata masuk ke Gianyar, termasuk ke Desa Bona. Namun Kecak Bona kemudian redup, tak banyak yang berminat untuk menari lagi dengan berbagai alasan.

Untuk itu, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Pada Masyarakat mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menghidupkan kembali Tari Kecak itu sehingga berhasil dipentaskan di Wantilan Pura Puseh, 5 Juli lalu.

PKM dari mahasiswa Undiksha itu bertajuk PELACAK BON: Pelatihan Kecak untuk Melestarikan Tari Warisan Leluhur di Desa Bona. Program itu tentu membawa dampak yang positif bagi kesenian Bali, bagi Desa Bona, dan bagi masyarakat Desa Bona itu sendiri. Mereka dapat menjadikan tari kecak sebagai tari khas Desa Bona, karena lahir di Desa Bona. Di samping itu, wisatawan dari manapun memiliki animo yang cukup besar terhadap tari kecak, terbukti dengan terbentuknya sekaa-sekaa kecak di berbagai wilayah di Bali yang sebanding dengan permintaan akan konsumsi hiburan budaya Tari Kecak.

Mereka juga memilih sasaran yang tepat untuk diproyeksikan dengan program ini, yaitu Sekaa Teruna di Desa Bona. Karena notabene mereka belum berpenghasilan dan memiliki tanggungan, sehingga menjadi pelakon pelestarian budaya bisa dilakulan mereka tanpa ada halangan atau hambatan. Anggota Sekaa Teruna yang dipilih berusia antara 17 sampai dengan 20 tahun. Usia yang bisa dikatakan sebagai usia remaja, yang tentu saja sebagian besar belum berpenanggungan.

Dengan begitu, mereka bisa fokus ke pelestarian Tari Kecak tanpa harus memikirkan atau mengorbankan tanggungan keluarga. Barangkali, tujuan utama dari program ini memang untuk melestarikan tari kecak, namun program ini juga membawa dampak lain di luar tujuan utama tersebut. Hari-hari mereka, para anggota sekaa teruna, juga akan diisi dengan kegiatan yang positif, dan bisa jadi mereka akan menambah penghasilan sendiri nantinya dengan membawakan hiburan budaya, seperti Tari Kecak itu sendiri. Nah, yang paling penting lagi, mereka juga akan terhindar dari penyimpangan-penyimpangan sosial.

Riwayat dan Perkembangan Program

Mahasiswa yang tergabung dalam program itu adalah Kadek Wirawan, Ni Komang Sophize Yustitie , I Wayan Rudiartadi, I Wayan Adi Suryawan, dan Ni Komang Putri Lusiana Dewi.

Dari hasil observasi awal diketahui Kecak Bona memang sempat jaya dan terkenal. Karena alasan ekonomi, anggota sekaa (group) Kecak Bona satu per satu mulai meninggalkan budaya warisan leluhur ini. Minimnya promosi dan rutinitas pertunjukkan serta kurang baiknya manajemen sekehaa Tari Kecak ini berimplikasi pada terjadinya degradasi pelestarian budaya Tari Kecak di tanah kelahiran tari Kecak tersebut.

Selain melestarikan Kecak Bona, program itu juga berisi pengembangan seni kecak itu sendiri agar lebih menarik.

Aspek Gendingan, sebelumnya kecak hanya menggunakan suara mulut saja dan sangat konvensional, setelah treatment, gendingan kecak disajikan dengan kolaborasi variasi gerakan tangan (tepuk tangan) yang menjadi harmoni tersendiri dalam pementasan.

Aspek pementasan, sebelumnya pementasan tari Kecak di Desa Bona hanya dilakukan secara Insidental dan sangat jarang, setelah tim melakukan penyadaran dan pengkapasitasan dirujuklah kesepakatan pementasan rutin kesenian Kecak setiap acara STT dan Karang Taruna (Menyesuaikan dengan kalender kerja desa tiap tahunnya). Hal ini dapat menjadi motivasi dan pioneer dalam memperkenalkan kembali Kecak Bona yang pernah redup.

Aspek manajemen, sebelumnya manajemen sekaha tidak jelas dan hanya mengandalkan pertemuan insidental saja, setelah tim melakukan pendekatan dan pengkapasitasan, serta pelembagaan maka terbentuklah sekaha yang secara de facto dan terdiri dari seorang ketua, seorang sekretaris, dan seorang bendahara, serta seorang humas.

Aspek trickle down effect, sebelumnya tidak ada efek imbas yang timbul dari pementasan Kecak. Treatment yang dilaksanakan berupa peningkatan kualitas personil sehingga nilai jual estetika menjadi tinggi dan unik yang akan memberikan trickle down effect pada masyarakat lainnya.

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan program ini adalah metode PALS (participation action learning system) yang terintegrasi melalui 4P, yaitu penyadaran, pengkapasitasan, pendampingan, dan pelembagaan. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY