ilustrasi: kerajaannusantara.blogspot.co.id

Dalam Buddhisme, ‘mada’ dan ‘prapanca’ adalah dua istilah yang tidak direkomendasikan untuk diikuti.

– ‘Mada’: “self-satisfaction”, “self-infatuation”, or “mental inflation”.

‘Mada’ mengandung makna “kepuasan diri yang secara mental susah terpuaskan”.

Dalam Kitab Abhidharmasamuccaya disebutkan ‘mada’ merupakan salah satu dari 20 upakleśa (emosi yang merusak). Dalam bahasa Pali ini disebut ‘Pamāda’. Bahkan ada pembahasan dalam bagian kitab ‘Mada Sutta’ yang secara khusus menjelaskan bagaimana ‘mada’ merupakan ‘akusala mūla’ (akar kelobaan, kebencian, dan keruh pikiran).

– ‘Prapañca’: “diffuseness”, “manifoldness” of the world; and it may also refer to the “phenomenal world” in general, and to the mental attitude of “worldliness”.

‘Prapañca’ (dalam bahasa Pali ‘Papañca’) sangat luas maknanya, ini merupakan akar dan sekaligus proses munculnya ketidakjernihan kita melihat dunia, merasa diri ‘terpisah/tersekat’ sebagai diri yang betul-betul ada (sehingga terobsesi dan ingin memiliki), terikat dengan keduniawian oleh karena pemahaman terhadap hidup kita serahkan pada panca indera dan apa yang dirasa/serap tubuh kita. Pikiran (dan hidup) pun akan bingung/kalut ketika kita serahkan pada persepsi indera dan obesesi indera semata. Hal ini disebut dalam Madhupindika Sutta sebagai ‘papañca-saññā-sankhā’.

Kebingungan akibat ‘papañca’ dikupas dalam Kitab Dhammapada, Majjhima nikaya, dan kitab lainnya yang membahas “akar ketidakjernihan berpikir”.

Kenapa Mpu Mada dan Mpu Prapanca?

Dalam ajaran Siwaisme yang tercermin dalam Kakawin Smaradahana disebutkan ‘Madanadahana’ (yang telah mampu membakar ‘mada’) atau Kamadewa (yang dikisahkan mampu menghancurkan ‘mada’-nya sampai jadi abu). Madanadahana adalah salah satu gelar Bhaṭāra Siwa. Lenyap atau terbakarnya ‘mada’ adalah pencapaian tertinggi di jalan Siwaisme.

Sementara itu, kebalikan dari ‘prapañca’ adalah ‘nisp(r)apañca’ atau ‘nippapañca’ (Pali), yaitu kondisi pikiran dan kesadaran yang bebas dari ‘prapañca’.

Dhammapada 254, menyebutkan:

“Akaseva padam natthi

samano natthi bahire

papañcābhiratā pajā

nippapañca tathāgatā”.

“Tidak ada jejak di angkasa,

tidak ada orang suci di luar Dhamma.

Umat manusia bergembira di dalam belenggu,

tetapi Para Tathagata terbebas dari papañca”.

Para Tathagata (Yang tercerahi) adalah yang terbebas dari belenggu ‘prapañca’. Pencapaian tertinggi dalam perjalanan penganut Buddhisme adalah menuju Tathagata atau menuju ‘nisp(r)apañca’ atau ‘nippapañca’. Pencapaian kesadaran ini adalah pencapaian pada ‘nirvana’ atau ‘nibbana’.

Mpu Mada dan Mpu Prapanca, sepertinya dua nama ‘ngesorang raga’ (merendah) bagi dua sosok penting sejaman di era keemasan Kerajaan Majapahit, yang di dalam namanya terukir secara sublim cita-cita terdalamnya yang sejalan menuju ‘madanadahana’ atau ‘nir-mada’ dan ‘nisp(r)apañca’ atau ‘nippapañca’.

Keduanya memberi kita “peta perjalanan ke dalam” bahwa untuk menuju tujuan tertinggi perjalanan spiritual, kita tiada boleh lengah dan tidak boleh menyerah, tanpa bosan-bosan terus mengupayakan padamnya ‘mada’ dan ‘prapañca’.  (T)

Catatan Harian, 14 Juli 2017

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY