Pementasan Drama Gong dengan judul Koetkoetbi oleh Kampung Seni Banyuning di Pesta Kesenian Bali 23 Juni 2017./ Foto=foto: Agus Wiryadhi Saidi

KOETKOETBI dan Ragoesa melarikan diri! Mereka lari ke tengah hutan yang kian lama kian terasa kelam. Sepasang kekasih yang tengah mengenyam pendidikan di pesraman Mpu Agni itu terus saja berlari. Memburu nafas, menanggalkan cemas di setiap depa langkah pelariannya. Alih-alih sampai di muara hutan, yang datang justru sosok Mpu Agni sendiri, yang cemburu atas hubungan mereka. Ragoesa dibunuh. Koetkoetbi dikutuk membatu. Mpu Agni pun memilih menjelma batu. Sampai tiba suatu masa, seseorang berhasil melepaskan kutukan dan Mpu Agni kembali menjadi manusia, kembali untuk merebut hati Koetkoetbi.

Sebagai adegan pembuka drama gong, tentu akan terasa asing bagi penonton dengan cerita “Koetkoetbi” karya Ir. Soekarno. Mungkin tak banyak pula yang tahu, sosok Ir. Soekarno, bapak proklamator juga merupakan seorang seniman teater. Ia kerap menulis drama dan mementaskan pertunjukan terutama saat masa pengasingannya di Ende dan Bengkulu.

Ini tentu menjadi daya tarik penonton untuk menikmati drama gong yang digarap oleh Teater Kampung Seni Banyuning, Buleleng dalam acara PKB ke-39 di Kalangan Madya Mandala Art Centre, Denpasar, 23 Juni 2017 lalu. Putu Satriya Kusuma sang sutradara, mengadaptasi naskah “Koetkoetbi” dalam bahasa Bali dengan judul “Koetkoetbi:  Pengwales Bangke Idup”.

Selama tiga jam, penonton dibuat mengikuti alur cerita. Selama itu pula, para pemain dengan sabar merajut satu persatu adegan. Rasa penasaran akan cerita dijaga begitu ketat dan rapi. Dalam hal ini, plot dan perkembangan karakter tokoh di atas panggung menjadi momen berharga yang ditawarkan para pemain kepada penontonnya.

Tokoh Koetkoetbi yang diperankan Ayu Damayanti misalnya, pada babak pertama tampak bermain begitu kalem, polos, dan mendayu. Ia menjadi Koetkoetbi, perempuan yang begitu lemah mengahadapi kuasa Mpu Agni, gurunya sendiri, yang ingin menikahinya.

Sedang di pertengahan adegan, Ayu berubah 180 derajat. Pasca terlepas dari kutukan batu 500 tahun kemudian, ia menjadi sangat liar, sadis, dan berapi-api. Gesture, vocal, dan mimik wajah Ayu mampu membius penonton kendati berhadapan langsung dengan pemain senior seperti Sugita yang berperan Mpu Agni dan Nengah Wijana sebagai Dokter Amir. Pengembangan karakter ini terjadi pula pada Ketut Warta yang berperan sebagai tokoh Dokter Muzaki, yang secara tak sengaja melepaskan kutukan batu Koetkoetbi. Ia yang semula ramah sekaligus takut pada kekasih, seketika berubah menjadi tangkas dan gagah berani semenjak diguna-gunai oleh Koetkoetbi.

Tawaran akting seperti ini, sejatinya bukanlah barang baru dalam dunia pemanggungan khususnya dalam teater modern. Sayangnya, hal serupa begitu jarang ditemui dalam teater tradisi saat ini. Para pemain pada umumnya seolah begitu nyaman dengan temuan karakter masing-masing dan segala improvisasi yang dimiliki. Padahal, jika ada sedikit saja kesadaran dalam mencermati struktur dramatik teks dan karakterisasi penokohan, tentu akan menambah wawasan sekaligus memperkaya kosatubuh, tawaran akting, serta kemungkinan-kemungkinan lain yang sekiranya menjadi tawaran baru buat penonton menikmati pentas.

Tiga Kemungkinan

Dari pentas drama gong “Koetkoetbi” Teater Kampung Seni Banyning itu, setidaknya ada tiga hal yang dapat dicermati dan menjadi kemungkinan dalam pengembangan drama gong.

Yang pertama adalah bentuk pemanggungan. Gaya Bali Utara boleh jadi mendominasi bentuk permainan jika dilihat dari pilihan backdrop lukisan yang berganti di setiap babak, penggunaan bahasa kepara yang dilakukan pemainnya, serta penyikapan kostum dan pola permainan yang cenderung realis. Putu Satriya pun juga membuka ruang bermain dengan kemungkinan gaya lain dalam pertunjukannya. Seperti pola alienasi brechtian, yang dilakukan saat para pemain  meminta batuan sekaa gong karena kesulitan menggotong Mpu Agni yang berubah batu. Juga saat Mpu Agni meminta tanggapan penonton apakah dirinya melakukan hal yang benar atau salah. Semua itu adalah usaha membuat penonton sadar bahwa yang ditontonnya hanyalah sebuah pentas.

Putu Satriya sendiri sebagai sutradara pun tak bisa dikata berdiri sendiri. Setidaknya, sebagai seorang peteater kawakan yang mencecap begitu banyak panggung di tingkat daerah dan nasional, tentu begitu banyak refrensi pertunjukan, bacaan yang ia miliki. Meski tak semuanya terasa secara gamblang dan harafiah, namun semua itu juga tak bisa dipungkiri kehadirannya. Elemen-elemen ini saling jalin menjalin, kait mengkait menjadi pertunjukan yang begitu apik.

Kedua adalah naskah. Suatu hal yang menarik bila mencermati semangat Teater Kampung Seni Banyuning dalam mengembangkan pola Drama Gong masa kini terutama soal naskah. Setahun yang lalu, di Kalangan Ayodya pada event yang sama, mereka mengadaptasi novel “Sukreni Gadis Bali” karya A.A Panji Tisna menjadi drama gong dalam rangka merespon Bali yang tak mengenal identitasnya sendiri. Kini, adaptasi juga dilakukan menggunakan naskah drama Ir. Soekarno yang semula bahasa Indonesia, menjadi bahasa Bali. Masalah utama bukanlah semata-mata persoalan adaptasi teks saja. Melainkan bagaimanakah agar teks menemukan konteksnya. Sejauh manakah perjuangan sekaa drama gong mampu membawa penonton ke dalam lapisan kontemplasi pertunjukan.

Pentas Koetkoetbi karya Ir. Soekarno kali ini, telah mengingatkan kita pada perjuangan generasi terdahulu membentuk dasar negara pancasila di tengah konflik rasisme terhadap agama yang melanda Indonesia sekarang. Pada adegan akhir, diceritakan Koetkoetbi mati karena dendam masa lalunya sendiri, Mpu Agni mati karena keserakahannya. Posisi Tuhan dalam konteks ini sama-sama menghukum mereka tanpa  memerdulikan siapa dan apa agama yang dipunya.

Ketiga, pembinaan terhadap pemain. Menyaksikan drama gong Koetkoetbi, adalah menyaksikan pluraritas kesenian Bali. Yang Utara dan yang Selatan, yang tua dan yang muda, yang tradisi dan yang modern, semua saling  rangkul jadi satu panggung. Menariknya, semua itu dijembatani bukan karena kepiawaian improvisasi semata. Melainkan kesadaran memahami naskah, memainkannya, serta saling membagi wawasan dan pengalaman satu sama lain. Ini tak akan pernah terjadi hanya dengan satu dua kali latihan saja. Teater Kampung Seni Banyuning membawa kita pada pemahaman drama gong sebagai sebuah seni proses, seni tumbuh dan berkembang antarsesama pemainnya. Bukan cuma seni ngebanyol asal penonton bisa ketawa, sebagaimana yang diamini oleh pertunjukan pada umumnya.

Titik Kulminasi

Drama gong, yang sejak tahun 50-an berdiri sejatinya merupakan titik kulminasi, pertemuan kesenian tradisi dan modern. Semua menjadi satu, berbaur dalam estetika tradisi yang berangkat dari rakyat sekaligus mengemban semangat dan pemikiran modern, yang saat itu telah menjadi sumber gerakan pembaharuan dalam kesenian di Bali.

Pada PKB XXXIX ini, kita cukup beruntung menyaksikan semangat sejarah kesenian drama gong kembali hidup dalam acara Parade Drama Gong se-Bali, khususnya dalam pentas “Koetkoetbi”. Pertanyaan selanjutnya, mampukah drama gong berjalan terus melintasi zaman. Selalu berbenah dan menggenapi hal-hal yang dirasa kurang, atau akan tetap menunggu uluran tangan pemerintah dalam setiap proyek kesenian? Berharap selalu dikasihi lewat celetukannya yang membumi, “Drama Gong jani sube sekarat. Sing ada anak ane ngupah!” Betapa ironisnya, jika drama gong yang dulu kerap mengocok perut penonton, kini jadi bahan olok-olok pemainnya sendiri. (T)

Singaraja, 2017

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY