Foto ilustrasi dari google

LAGA leg kedua perempat final Liga Europa yang mempertemukan Liverpool dan Borussia Dortmund di Stadion Anfield, Liverpool, Jumat 15 April 2016 berlangsung dramatis. Gol demi gol tersaji dalam pertandingan penentuan tersebut. Di babak pertama kemenangan bak menjauhi kubu tuan rumah. Klub wakil Jerman Dortmund unggul dua gol lebih dulu melalui Henrikh Mkhitaryan dan Pierre-Emerick Aubameyang. The Reds Liverpool memperkecil skor melalui Divock Origi, namun Dortmund kembali menjauh melalui gol Marco Reus.

Philippe Coutinho memangkas jarak skor menjadi 2-3. Momen ajaib The Redstiba usai Mamadou Sakho menyamakan skor 3-3,Dejan Lovren muncul bak pahlawan melalui golnya di masa injury. Anfield bergemuruh.Skor 4-3 menjadi hasil akhir laga ini. Liverpool melaju ke semifinal dengan skor agregat 5-4. Air mata kekecewaan dan kegembiraan. Rasa kecewa, kesal, duka cita tampak jelas di raut penonton, suporter, followers, fans dan flaneurs sekalipun karena tim kesayangan tersingkir. Sebaliknya, ada wajah-wajah dengan ekspresi senang, gembira, suka cita karena timnya menuju dan tampil di final. Laga itu juga menambah statistik sebagai comebackdramatis Liverpool.

Emosi penonton dan pendukung terkuras sepanjang pertandingan. Pendukung The Redsyang dikenal punya sejarah panjang perjalanan suporter di Inggris tampak antusias menyambut hasil tersebut. Pendukung Dortmund yang dikenal sangat fanatik berlalu meninggalkan stadion.

Di luar pertandingan tersebut, satu momentyang patut dicatat dan akan selalu diingat kedua pendukung Liverpool dan Dortmund. Pemandangan yang membuat hati berdetak kagum dan bergetar. Sebelum kick off, seperti biasanya pendukung The Reds menyanyikan chant You’ll Never Walk Alone (YNWA). Suasana semakin sendu karena hari itu mengenang tragedi Hillsborough 15 April 1989 silam yang menewaskan 96 fans The Reds. Namun bukan hanya pendukung Liverpudlian (sebutan suporter Liverpool) yang bernyanyi, suporter Dortmund bergabung sebagai bentuk solidaritas. Kedua pendukung sepak bola itu seakan tak ada rivalitas. Di dalam stadion bergemuruh bernyanyi bersama. Berdiri dan membentangkan syal. Mereka bersatu tak ada lagi perbedaan, perselisihan, dan persaingan, serta revalitas.

Aksi tersebut menuai respon positif dari dunia sepak bola. FIFA sebagai induk organsasi tertinggi sepak bola menganugerahkan Fan Award at Best FIFA Football Awards. Aksi suporter Liverpool dan Dortmund mengalahkan dua kandidat lainnya. Suporter ADO Den Haag di Eredivisie Belandayang melemparkanhadiah boneka kepada fans Feyenoord. Juga aksi koreografi suporter Islandia pada perempat final EURO 2016.

Di Indonesia pendukung dan suporter sedikit demi sedikit mengubah image, disiplin, tertib menaati peraturan. Mereka menghindari nyanyian bernada rasis dan SARA. Juga jauh dari aksi benturan fisik antarsuporter. Menerima hasil akhir, meski timnya kalah di kandang.

Lalu bagaimana penonton dan pendukung dalam ajang Pilkada?

Penonton Pilkada khususnya Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2017 ini tak ubahnya suporter dalam sepak bola. Pilgub Jakarta tak hayalnya sebuah laga klasik yang harus melibatkan se-nusantara “Pilgub Rasa Pilpres”. Alasan etalase Indonesia menjadi titik poin agar harus mendukung. Apalagi setelah tinggal dua pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang melaju ke putaran kedua.

Pertarungan head to head ini benar-benar menguras emosi bukan hanya masyarakat Jakarta tetapi di pelosok daerah merasakan begitu hebatnya. Kekuatan dan adu strategi dipraktikkan untuk memenangkan calon gubernur (Cagub) dan calon wakil gubernur (Cawagub). Melibat dan dilibatkan masyarakat luas dan para tokoh. Perbincangan calon yang menang dan menjadi orang nomor satu di Jakarta hangat bahkan terasa panas di daerah. Di jalan, rumah makan, bahkan di tempat ibadah membincangkan topik Pilgub Jakarta. Penonton Pilgub DKI Jakarta begitu riuh. Tidak layaknya sebagai penonton, namun telah menjadi simpatisan, suporter, hingga fans.

Mereka yang awalnya berstatus penonton menjelma menjadi suporter yang hampir setiap hari meramaikan media sosial dan media konvensional. Mereka seolah-olah menjadi fans betul meski hanya follower.

Dalam paparan Munro yang mengutip Giulianotti dan ditulis Iswandi Syahputra (KPG:2016)membagi tipe khalayak sepak bola. Spectators (penonton), supporters (pendukung), followers (pengikut), fans (penggemar), dan flaneurs dengan masing-masing identifikasinya. Spectators adalah orang netral yang menonton untuk mencari hiburan. Supporters adalah penonton yang memberikan dukungan terhadap satu klub sepak bola yang sedang bertanding. Mereka bisa saja berasal dari fans klub sepak bola atau bukan. Mendukung karena bersifat simpati atau tertarik sesaat. Sedangkan followers adalah orang yang menonton atau mendukung satu klub sepak bola karena ikut-ikutan. Fans penggemar bola satu klub sepak bola yang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan klub. Sedangkan flaneurs kelompok yang tidak memiliki tujuan pasti dan motivasi yang jelas dalam menonton atau mendukung sepak bola.

Petinggi partai, ulama, ustaz hingga selebriti turun gelanggang pada laga Pilgub ini. Belum lagi adu media massa dan televisi dengan daya ledaknya mirip gas beracun atau bom atom sekalipun.Mirisnya lagi para wartawan ikut nimbrung sebagai suporter. Bukan lagi menjaga independensinya namun tidak lebih sebagai buzzer.

Sejak awal dimulai pencalonan hingga menjelang pencoblosan berbagai isu diangkat ke permukaan. Suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) seolah sasaran empuk para pendukung. Belum lagi, begitu riuhnya di grup media sosial. Medsos seakan menjadi ajang saling hujat, gunjing, dan merasa paling benar serta membela jagoannya. Mereka antusias menyebarkan berita, kabar yang tidak jelas asal-muasalnya. Racun hoax pun disebar begitu saja. Benih-benih perpecahan secara nasional seakan-akan telah nyata tampak di depan mata. Kekhawatiran nasib bangsa Indonesia begitu mendalam.

Komunikasi Parpol

Pilgub DKI Jakarta digadang-gadang citarasa pilpres. Inilah kemudian yang mengharuskan semua harus terlibat baik yang di Jakarta maupun di seluruh nusantara. Kader-kader partai politik (parpol) harus “iuran” baik tenaga maupun dana.  Apalagi kader yang menjadi anggota DPRD di masing-masing daerah diwajibkan setor iuran finansial.

Tjipta Lesmana (Gramedia: 2013) menyebutkan, strategi sepak bola dan politik mempunyai persamaan. Intinya, alat (mean) apa yang dipakai untuk memperkuat barisan dengan trik dan manuver-manuver tertentu demi mencapai tujuan. Banyak cara yang dilakukan untuk memenangkan dalam sebuah pertandingan perebutan kekuasaan.

Satu di antaranya surat perintah partai. Instruksi berupa surat resmi dari masing-masing DPP parpol pengusung Cagub dan Cawagub dikirim ke tingkat DPC. Mereka diwajibkan menyumbangkan dana untuk keperluan kampanye. Mau tidak mau mereka yang di daerah membicarakan tentang Pilgub DKI. Belum lagi bagaimana bagi kader yang mempunyai jabatan di daerah dan punya komunitas atau perkumpulan berdasarkan asal daerah, maka diwajibkan melakukan konsolidasi dan pengorganisiran agar memilih kepada calon tertentu. Para kader parpol terpaksa mencari dana dan tenaga agar menyumbangkan suara pada Pilgub Jakarta.

Hal ini memicu para kader dan konstituennya membicarakan kabar, informasi, suasana, dan perkembangan terkini Pilgub Jakarta. Jika kabar benar maka tidak masalah, namun kemudian terjadi misscomunication dan penggiringan opini sehingga bias ke mana-mana di daerah. Bukan hanya membincangkan sebagai pengamat, namun berbicara atas nama suporter dan berfikir bagaimana pasangan calon tertentu menang. Pilgub Jakarta begitu riuh diperbincangkan di daerah.

Peran Media

Pemberitaan di berbagai media terkait Pilgub Jakarta memiliki porsi khusus. Bahkan beberapa televisi nasional membuat acara khusus atau segmen khusus Pilgub Jakarta. Bisa dimaklumi karena lokasi paling dekat dengan masing-masing kantor media baik elektronik dan massa. Selain itu, secara news value Pilgub Jakarta termasuk dan layak diberitakan. Selain itu adu strategi pemenangan juga strategi dalam komunikasi politik.

Tokoh-tokoh politik, ulama, ustaz, dan artis memberikan statement terkait Pilgub dan pesan. Belum lagi, Presiden, DPR, MPR, Polri, TNI dan lembaga pemerintah yang lainnya. Mereka masih sadar, peranan media massa masih efektif digunakan untuk berbagai tujuan terutama untuk kampanye politik, advertensi, dan propaganda. Media massa masih sangat esensial dalam politik di Indonesia.

Tidak semua yang disampaikan merupakan informasi, mendidik, apalagi hiburan. Justru adanya ajakan, bujuk rayu, propaganda atau justru saling mencari kesalahan antarpasangan. Kondisi serupa terjadi pada saat Pemilihan umum legislatif dan Pemilihan presiden 2014 lalu.

Pertarungan media pada Pilgub Jakarta juga terasa kental. Media nasional sekalipun terbelah secara tajam. Media yang seharusnya menjadi sarana pendidikan justru menjadi sumber propaganda. Berita tanpa konfirmasi tampak begitu banyak yang terpenting calon yang “diusung” media akan menang. Tujuan kampanye tersebar luas pun berhasil dilakukan. Terbukti setiap orang yang memiliki televisi baik di Jakarta maupun di mana saja, maka akan melihat aktivitas dan kejelekan para calon.

Hal ini juga faktor kecenderungan media massa di Jakarta dan Indonesia mempraktikkan politicizationof media. Dorongan besar pemilik media mendapatkan kekuasaan secara politik sehingga media melebar menjadi institusi politik. Praktik menggunakan media televisi di Indonesia untuk kepentingan politik praktis benar-benar terjadi dan sangat mencolok.

Noam Chomsky kritikus media pernah mengkhawatirkan kondisi media di era sekarang karena para elite kekuasaan dan elite bisnis telah berkolaborasi mengatur isi media. Akibatnya kebebasan pers yang dijiwai demokrasi telah disusupi corong-corong propaganda segelintir orang. Setiap keping informasi telah disusupi kepentingan tertentu. Setiap tayangan dan suara berita telah dimodali kekuatan politik dan bisnis.

Kondisi semakin diperkeruh dengan membanjirnya perbincangan dan informasi campur baur di media sosial. Para suporter yang seharusnya penonton saling memberikan argumentasi sebaik-baiknya untuk jagoannya. Di sisi lain mencela dan menfitnah lawan. Mereka secara masif meng-buzz status di media sosial, WhatAps, twitter, facebook, instagramsehingga memancing keriuhan.

Kini Pilgub Jakarta selesai, ada pemenang dan kalah. Wasit telah meniupkan peluit panjang tanda akhir pertandingan. Adu strategi Pertandingan sepak bola selama 90 menit. Ada pemenangdan kalah namun semuanya baik-baik saja. Pertandingan tidak hanya sekali dan ada pertemuan lagi. Daerah lain termasuk Bali juga akan menjalani Pilkada serentak pada 2018 nanti. Maka isu seperti dan carut-marut serta kisruh penonton Pilkada Jakarta tak perlu dibawa dan ditiru di daerah.

Aristoteles seperti dikutip Durant dan ditulis Tjipta Lesmana (Gramedia: 2013) sepak bola dan politik sesungguhnya sama-sama bertujuan menggapai kebahagaian (happiness), karena semua insan manusia berusaha keras mencapai kebahagian dalam kehidupannnya. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY