Foto: koleksi penulis

BEGITU mendengar bahwa saya mendapatkan lokasi KKN (kuliah kerja nyata) di Desa Songan, Kintamani, Bangli, yang terbayang langsung sebuah desa yang dingin di tepi Danau Batur. Bayangan saya benar saat sampai di desa itu. Tapi ada yang ternyata tidak saya duga. Yakni, di desa itu kami (saya dan teman-teman mahasiswa lain) ternyata tiba-tiba menjadi anak bawang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, anak bawang adalah kiasan yang biasa disematkan kepada peserta bermain yang tidak masuk hitungan (hanya sebagai penggenap atau ikut-ikutan saja). Atau arti lainnya: anak kecil yang masih belum mengerti apa-apa.

Sesuai KBBI, menjadi anak bawang di Desa Songan, boleh jadi diartikan bahwa kami sebagai mahasiswa seperti anak kecil: ikut-ikutan bermain atau ikut-ikutan bekerja di desa itu. Boleh jadi juga kami dianggap sebagai penggenap. Karena Desa Songan, meski berada cukup terpencil dan jauh dari wilayah perkotaan, namun masyarakatnya bisa dikata cukup mandiri. Mereka sebagian besar adalah pekerja yang giat.

Tapi, sesungguhnya bukan anak bawang semacam itu yang kami maksud. Menjadi anak bawang, adalah menjadi mahasiswa yang tiba-tiba sangat akrab dengan bawang. Bawang dalam artian yang sesungguhnya, yakni bawang yang biasa dijadikan bumbu agar masakan jadi enak.

Karena ternyata Desa Songan adalah pemasok bawang merah terbesar di Bali. Desa itu memang bisa disebut sebagai sentra pertanian bawang merah yang sangat penting di Bali.

Ketika mendengar nama Songan, hal yang terbesit mungkin bencana tanah longsor. Ya memang benar beberapa waktu lalu, Songan mengalami bencana alam yang menelan beberapa korban dan kerugian material yang lumayan banyak. Ini bukan menjadi sebuah keterpurukan bagi Songan.

Di balik itu, Songan memiliki sebuah kebanggaan. Bawang merah adalah kebanggan Songan yang mana merupakan bumbu dapu yang sangat diperlukan dalam memasak apapun. Bawang merah memberikan aroma tersendiri dan nikmat yang luar biasa untuk memasak.

Bila melihat peta geografis, Songan terletak di daerah yang dapat dikatakan di pelosok. Untuk mencapai Songan kurang lebih 30 menit ditempuh dari Penelokan. Penelokan merupakan starting point bagituris untuk lebih lanjut melihat keagungan Gunung Batur. Penelokan memberikan pemandangan yang memanjakan mata, awan pagi, kabut, serta sejuknya udara memanjakan mata turis. Sehingga tidak bis a dipungkiri, parawisata kabupaten banglis semakin terangat.

UNESCO beberapa tahun silam telah menetapkan Batur sebagai kawasan wisata Geopark, yang mana merupakan warisan budaya dunia dari segi kondisi geografis.

Sisa sisa lahar muntahan gunung batur yang telah memberku menjadikan pemandangan caldera yang begiru indah. Kwasan padang rumput yang luas dan bebatuan sisa gunung meletus menjadi keunikan tersendiri daerah Batur Kintamani ini.

Selain memanjakan mata, ternyata pada beberapa kawasan yang berdekatan dengan gunung memiliki tanah yang subur, layaknya seperti di Gunung Merapi di Jawa Tengah. Songan merupakan salah satu desa yang paling terdekat dengan gunung Batur. Tanah yang subur menjadi sebuah rejeki setelah lahar yang menyelimuti daerah Songan.

Bawang merah adalah salah satu dari berbagai jenis tanaman multi kultur di Songan dan menjadi sebuah ikon untuk Songan itu sendiri. Jika kita masuk lebih daam, ikut berbaur bersama warga Songan. Sebagian besar dari mereka bertani bawang merah. Jika sempat ke Songan, hamparan bawang merah terbentang luas di di setiap hamparan daratan. Barisan mulsa atau plastic hitam dengan bagian bolong di sisinya terbentang melindungi pertumbuhan bawang merah di Songan.

Tidak bisa dipungkiri kalau ternyata warga Songan sangat bergantung pada pertanian terutama bawang. Hasil pertanian ini memang benar benar menjadi sumber penghidupan mereka, baik untuk makan sehari-hari, menyekolahkan anak, ataupun untuk persiapan masa depan. Jika kita memandang secara sekilas, pelosok sangat erat kaitanya dengan sifat primitive dan kesederhanaan.

Namun, Songan bukan sebuah daerah primitive. Banyak warga Songan yang sudah berpendidikan tinggi, melek teknologi dan juga perkembangan zaman. Jadi, bawang memang memberikan rezeki dan kehidupan bagi warga Songan. Karena bawang, mereka belajar, mereka mampu bersekolah tinggi, dan mengikuti perkembangan lajur teknologi yang begiru pesat.

Nah, kembali soal anak bawang, kami sebagai mahasiswa yang beberapa di antaranya baru pertama kali menginjakkan kaki di Desa Songan, tiba-tiba menjadi akrab dengan bau bawang. Sejumlah mahasiswa bahkan ada yang begitu serius mengamati proses penanaman bawang, mulai dari menggemburkan tanah, memasang plastik, menanruh benih, hingga memanen. Mungkin mahasiswa itu bisa disebut anak bawang. He he… (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY