Ilustrasi diolah dari google

HUUHH. Ijinkan aku menghela napas sejenak. Setelah hampir setahun lamanya, akhirnya tahun ajaran 2016/2017 yang melelahkan ini usai juga. Ada banyak cerita yang mengiringi perjalananku sebagai seorang guru abdi selama satu musim ini. Ada senang, ada kesal, dan ada banyak pula yang menarik. Salah satunya tentang repotan, ehhh maksudnya rapotan.

Raport adalah laporan hasil belajar serta perkembangan perserta didik baik secara akademik, keterampilan, maupun sikap sosial dan spiritualnya. Apalagi kalau Raport Kurikulum 2013 (K-13), ya, makin repot. Bagaimana tidak? Perkembangan peserta didik harus dideskripsikan dengan singkat, jelas, padat, merayap. Baik itu deskripsi perkembangan akademik, keterampilan, maupun sikap sosial dan spiritual harus diuraikan secara jelas, tidak hanya sekedar angka dan ucapan tuntas tas tas tas.

Raport biasanya dibagikan setiap akhir semester. Untuk semester ganjil biasanya di bulan Desember, sedangkan untuk semester genap di bulan Juni. Nilai raport inilah yang akan menentukan nasib seorang murid, apakah dia harus tinggal kelas atau bisa “move on” ke kelas selanjutnya. Selalu ada cerita unik yang terjadi sebelum dan setelah pembagian raport ini.

Sebelum raport siap dibagikan, ada beberapa tahapan yang harus dilalui sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (POS). Tahap pertama, guru mata pelajaran masing-masing mengumpulkan nilai raport yang sudah dikalkulasi dari nilai harian, nilai tugas, nilai UTS dan UAS. Setelah itu, nilai tersebut disetor ke wali kelas masing-masing untuk dimasukkan ke dalam raport. Nah, di sini wali kelas biasanya mulai cemas, resah, gelisah, gundah gulana sembari melihat nilai muridnya tersebut.

Dilema pertama seorang guru yang menjadi wali kelas dimulai ketika muridnya berada di perbatasan antara naik dan tidak naik. Rasa peduli dan kasih seorang guru sedang diuji di kesempatan ini. Ada gejolak yang terjadi akibat benturan “Idealisme” dengan “Humanisme”.

Idealnya, kalau nilainya tidak baik, banyak yang di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), ya anak murid tersebut tidak naik. Tetapi, kata hati kadang berbeda dengan logika. Ada rasa “pedalem” (baca: kasihan) yang mengusik idealisme itu tadi. Seperti pertentangan antara Yin dan Yang saja. “Yin naikang pedalem, Yin sing naikang mase Yang pedalem”. Artinya kira-kira begini: “Kalau dinaikkan kasihan, kalau tidak dinaikkan juga kasihan”.

Apa boleh buat, idealisme harus dijunjung tinggi. Seperti pil, walaupun pahit tetapi dia mampu mengobati. Kejadian yang buruk sekalipun bisa kita gunakan sebagai pengalaman untuk bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Dilema kedua muncul setelah pembagian raport. Biasanya ini terjadi apabila orang tua tidak terima dengan keputusan tentang nasib anaknya. Kalau orang tua datang secara baik-baik, kan enak. Bisa duduk dan nge-teh bersama sembari membicarakan kebijakan selanjutnya. Nah, kalau orang tua siswa datang dengan emosi yang berkobar-kobar kan repot. Bisa-bisa solusi yang diinginkan kedua pihak tidak ketemu.

Dilema ini datang setiap tahun lho, apalagi pada saat rapotan akhir semester genap. Situasinya bisa membangkitkan adrenalin, hahahaha. Memang dunia keguruan itu menyenangkan, selalu bervariasi, dan banyak kejadian menariknya. Asalkan tidak menjadi guru honor saja. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY