HINGGA kini masih banyak pengguna media sosial, baik di FB, IG, Line, Twitter, dan lain-lain, nge-share foto tiga pemain Bali United hasil bidikan fotografer Radar Bali, Miftahuddin Halim. Itu membuktikan masih banyak orang percaya bahwa perbedaan itu indah. Masih banyak orang punya harapan besar bahwa tujuan bersama tentang dunia yang damai  bisa tercapai meski warganya berbeda-beda suku dan agama.

Setelah diunggah awal pekan lalu, usai Bali United bermain melawan Perseru Serui, Minggu 4 Juni 2017, foto itu mungkin sudah dibagikan ratusan ribu orang di media sosial. Apalagi foto itu kemudian jadi headline di Jawa Post, lalu berebutan media lain, terutama media online, ikut memberitakan dan menyebarkannya. Bahkan Washington Post turut serta menulisan laporan tentang foto itu dengan penuh puja-puji.

Pertandingan Bali United vs Perseru Serui dalam Liga 1 Gojek Traveloka itu berakhir dengan kemenangan Bali United 3-1. Namun berita kemenangan itu seakan hanya jadi berita gembira sekilas, karena yang banyak dibahas kemudian oleh nitizen dan media adalah selebrasi gol yang dilakukan tiga pemain Bali United, yakni Ngurah Nanak, Yabes Rori dan Mathiful Hamdi pada saat Irfan Bhacdim mencetak gol.

Kita jadi percaya bahwa foto yang dibuat oleh fotografer yang brilian itu sangat disukai orang karena memang mencerminkan betapa indahnya perbedaan jika kita saling mengahargai satu sama lainnya. Jelas memang Ngurah Nanak, Yabes Roni dan Mathiful Hamdi memiliki keyakinan dan kepercayaan yang berbeda, namun mereka memperlihatkan cara bersyukur dengan kepercayaan mereka masing-masing tanpa rasa canggung sedikit pun.

Salah satu foto saat mereka melakukan selebrasi di upload di fanspage Bali United FC, di-like dan di-share begitu banyak orang. Komentar pun banyak berdatangan. Kebanyakan komentar yang positif melihat keberadaan lintas agama di Bali yang saling menghargai satu sama lain. Hal yang memang harusnya begitu untuk menjaga keutuhan NKRI.

Foto itu bisa dijadikan contoh dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Yakinkan diri karena perbedaan kita menjadi satu, satu untuk Indonesia yang kita cintai.

Meskipun kita memiliki keyakinan yang berbeda, kita harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Bukannya saling menghujat dan menjelek-jelekan. Untuk menjaga tanah air yang kita cintai dan banggakan, para pahlawan yang terdahulu berjuang dengan sekuat tenaga hingga sampai bisa merdeka. Kita cukup memperjuangkan dengan menjaga keselarasan antar umat beragama, agar tidak timbul gesekan-gesekan yang bisa menyebabkan perpecahan.

Presiden Republik Indonesia juga sudah mengambil tindakan tegas terkait dengan permasalahan yang berkaitan dengan agama. Hingga usaha beliau untuk mempertemukan tokoh antarl intas agama di Istana Presiden beberapa waktu yang lalu. Cerminan usaha pemerintah yang berusaha menjaga keutuhan NKRI dan jauh dari unsur-unsur SARA yang mengundang perpecahan yang pertikaian.

Jadi mulai dari hal yang terkecil kita saling menjaga keselarasan yang berawal dari perbedaan keyakinan, suku, atau ras. Mari kita jaga keutuhan NKRI dengan ketulusan hati kita saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya. Karena perbedaan itu indah, mari kita jaga persatuan dan kesatuan.

Washington Post sebagaimana dikutip BBC Indonesia, menyebut ketiga pemain Indonesia menunjukkan “pernyataan politik” di tengah kejadian berbau SARA akhir-akhir ini. “Tiga pemain bola Indonesia menjadi simbol seperti apa dunia yang lebih damai, dengan selebrasi unik gol yang tertangkap kamera,” tulis Marissa Payne dalam tulisannya Rabu (07/06).

“Foto ini menjadi penting dalam sejarah Indonesia, di tengah meningkatnya faksi politik Islamis yang kurang toleran dalam bulan-bulan terakhir ini dan mengancam pemerintah Indonesia yang lebih moderat dan sekuler,” tulis Payne.

Pemilik Bali United Yabes Tanuri mengatakan sangat senang dengan apa yang dilakukan tiga pemain ini. “Sangat senang, walaupun mereka berbeda tetapi tetap bersatu ini menjadi satu kelebihan. Bola salah satu toleransi yang tinggi. Ada perbedaan antara klub dan yang lainnya tapi utuk membela klub tanpa memandang, soal ras agama atau suku atau adat ini bisa jadi contoh,” kata Yabes. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY