Foto: Iluh Wanda/ Model: Merry Yunithasari/ Lokasi: The House of Kopitem Sekumpul-Singaraja

NONGKRONG? Mungkin istilah ini bukan sesuatu yang asing lagi bagi kita. Nongkrong sudah menjadi suatu kegiatan yang diklaim “menyenangkan” untuk mengisi waktu luang.

Nongkrong juga memiliki berbagai versi nama di Indonesia seperti mejeng (Sunda), nangkring, kumpul-kumpul, atau duduk bersama. Saking digandrunginya, nongkrong ini sampai memberikan celah kepada wirausaha untuk menjadikannya lahan menggelembungkan pundi-pundi rupiah.

Anak nongkrong (sebutan untuk mereka yang menggeluti hobi nongkrong) pasti familiar dengan istilah “angkringan”, sebuah tempat yang memfasilitasi anak-anak dengan makanan, minuman, meja dan kursi yang nyaman bahkan terkadang ditambah dengan fasilitias WI-FI.

Istilah angkringan sesungguhnya berasal dari kata “angkring” yang dalam bahasa Jawa berarti pikulan. Namun, ilmu cocoklogi terkini mengklaim angkringan sebagai tempat nangkring dikarenakan pengucapannya yang mirip.

Kini, di sejumlah kota, dari yang kota besar hingga kota-kota kecil juga ada kafe-kafe yang didesain khusus untuk tempat nongkrong. Bentuknya, biasa coffee house, tapi menunya macam-macam, dari kopi hingga bir. Yang penting tempatnya bagus untuk nongkrong, tak peduli menunya apa.

Lalu kenapa dengan nongkrong? Sebenarnya tidak ada yang aneh, hanya saja, semua berubah setelah saya membaca sebuah klaim dari salah satu usaha waralaba yang bertumbuhkembang di Indonesia (sebut saja Seven Eleven) di majalah New York Time yang menyatakan:

“The convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where the penchant for hanging out runs so deep that there is a word for sitting, talking and generally: nongkrong”

Atau sebuah kata untuk menggambarkan kegiatan duduk, ngobrol dan “tidak melakukan apa-apa” disebut: nongkrong. Kendati awalnya saya merasa tergelitik, benarkah kita tidak melakukan apa-apa? Mari kita telaah dulu bersama.

Berdasarkan pengalaman saya beberapa bulan berdomisili di Negeri Kangguru, jarang sekali saya melihat orang nongkrong. Kendatipun ada, biasanya hanya pada hari-hari tertentu seperti akhir pekan atau liburan. Pun, biasanya mereka anak sekolah usia 16 tahun atau kurang. Kentalnya budaya “time is money” mengajak mereka untuk menggunakan waktu luangnya untuk melakukan hal-hal produktif seperti bekerja part-time atau pergi ke GYM. Bahkan, ada yang mengisi waktu luangnya dengan mengisi diri melalui membaca buku atau membaca informasi-informasi terkini. Selama mereka mengisi waktunya dengan hal produktif, that’s fine.

Mean while, kita di Indonesia kerap didominasi dengan kebiasaan “menunda”.

Kebiasaan menunda sudah bukan rahasia lagi di masyarakat Indonesia. Ketika ada pekerjaan, kita kerap memilih untuk menunda dengan keyakinan “nanti saja, masih banyak waktu”. Padahal, jika kita tidak menunda, kita bisa mengalokasikan waktu tersebut untuk hal yang lebih penting. Bahkan, kini menunda semakin diperparah dengan istilah last minute alias menunggu deadline. Jadi, menyelesaikan sebuah pekerjaan harus menunggu hingga deadline tiba dengan meyakini adanya the power of kepepet.

Lalu, sembari menunggu deadline tiba, masyarakat kita lebih memilih melakukan kegiatan lain yang lebih artistik, apakah itu? Yap, tepat sekali: Nongkrong.

Dilihat dari perbedaan budaya di atas, maka tidak heran jika New York Time mengklaim bahwa masyarakat kita gemar tidak melakukan apa-apa. Lalu apakah kita harus sedih akan hal itu?

Terlepas dari dampak negatif yang disebabkan oleh nongkrong, Russel menyatakan“The time you enjoy doing nothing is not wasted time” (waktu yang kita nikmati ketika tidak melakukan apa-apa bukanlah membuang waktu), bahkan, sebuah buku berjudul The Art of Doing Nothing karya Veronique Vienne (1998) menyatakan, tidak melakukan apa-apa (doing nothing) merupakan hal terbaik sebelum berkegiatan. Dengan tidak melakukan apa-apa selama 5 – 10 menit, kita dapat merasakan indahnya semesta baik itu alam, atau orang-orang di sekitar kita yang akan memberikan kita energi.

Jadi, nongkrong dengan durasi waktu yang “cukup” dapat membantu kita untuk rileks dan siap menghadapi tugas/kegiatan yang telah menunggu. Namun, jika berlebihan tentu akan mengakibatkan hal-hal yang berdampak negatif seperti pekerjaan yang menumpuk, hasil pekerjaan yang tidak maksimal atau bahkan kehilangan kepercayaan. Maka dari itu, SELAMAT NONGKRONG, (SECUKUPNYA). (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY