Foto: Surya Hermawan

ADALAH kursi taman ini yang mengingatkanku tentang kejadian yang hampir genap setahun berlalu. Kala itu, langkah kaki ini masih menyendiri. Datang dan pergi menuju tempat ini juga sendiri. Hanya berteman senyum sapa dengan mereka yang tak sengaja kujumpai. Meski sejatinya belum saling mengenal, nyatanya dalam hal itu, senyum bisa mengakrabkan.

Aku ingin bercerita tentang sebuah tempat di mana ada kampusku, Malang. Anggapan awal dalam benakku, kota ini asing. Dia tidak begitu akrab denganku sebelumnya. Berbeda dengan Yogyakarta (aku lebih suka menyebutnya Jogja), yang sampai saat ini telah membuatku jatuh cinta, dan selalu membuatku ingin menyapanya (lagi).

Sudah, cukup dengan Jogja, aku tak ingin rindu ini lebih dalam. Kembali ke Malang, sebuah kota yang secara perlahan juga mulai kucinta. Kota ini perlahan, kurasa, juga mencintaiku.

Sebenarnya, saat ini Malang telah menjadi bagian yang akan selalu ada dalam garis hidupku. Menjadi sebuah bagian yang dulunya sama sekali tidak pernah terpikirkan. Yang suatu saat nanti, dugaanku, akan ada dalam daftar kota yang selalu ingin aku datangi lagi. Dia mengenalkan banyak hal kepadaku. Mudah-mudahan, aku juga mengenalkan banyak hal pada kota itu.

Lalu-lintas

Pertama, tentang arus lalu lintas yang cukup berbeda bagiku. Lebih ramai daripada Bali, yang awalnya membuatku cukup heran. Berdebu, ciri khas sebuah kota. Arusnya padat, merayap. Seakan-akan semua traffic ligh tberisi label “belok kiri jalan terus”. Lagi, pada traffic light yang ada durasi waktunya, di beberapa tempat, detik ke-4 menjelang hijau bahkan sudah dianggap hijau. Tapi, kalau dilihat lebih jauh, Bali pun begitu.

Hingga akhirnya aku berpikir, bahwa wajib belajar hingga SMA belum mampu menyadarkan sebagian menusia Indonesia tentang makna warna merah, kuning, dan hijau, yang hampir selalu ada di setiap persimpangan jalan. Ah, aku juga termasuk begitu, kadang-kadang. Berarti, aku bagian dari sebagian manusia Indonesia yang kumaksud.

Bahasa

Kedua, tentang bahasa. Penduduk di sini dominan berbahasa Jawa. Pernah suatu ketika, dosenku menjelaskan materi dengan bahasa Jawa. Aku pikir ketika itu dia lupa, bahwa aku bukan orang Jawa. Hampir 15 menit sebelum kemudian dia sadar, dan berbicara padaku “Aduh, saya lupa kalau Made tidak bisa bahasa Jawa”. Aku tersenyum.

Setelahnya, aku pikir akan selesai. Namun nyatanya berulang, teman-teman pun tersenyum jahil padaku. Begitu juga dengan mereka (teman-temanku) yang kadang kala tanpa sengaja berbahasa Jawa denganku. Oleh karena kejadian itu berulang, hingga saat ini aku sudah mulai paham tentang beberapa diksi bahasa Jawa.

Ya, kendati aku masih belum berada pada tahap yang mampu memproduksi. Aku senang, karena belajar bahasa membuatku belajar budaya, dan aku paham bahwa Indonesia bukan hanya Bali, di luar konteks peta Indonesia.

Dari sana, aku menyakini, sebuah kebiasaan yang berulang tanpa disengaja mencirikan kebiasaan. Kebiasaan erat kaitannya dengan budaya. Hingga simpulanku, bahwa budaya Jawa masih erat melekat. Aku pun yakin, di daerah lain juga begitu. Saling memegang teguh adat budayanya, minimal Bahasa, yang satu sama lain jelas berbeda. Kalau nyatanya memang iya, dan faktanya Nusantara telah berubah menjadi Indonesia, aku bingung, mengapa masih ada manusia Indonesia yang alergi dengan perbedaan

Masih dengan bahasa dan budaya, aku ingin menyinggung sedikit tentang tanah kelahiranku. Kendati di Bali saat ini banyak orang meneriakkan Ajeg Bali, tetapi, anak mereka sedari kecil telah diajarkan berkomunikasi bukan dengan Bahasa Bali. Mengajegkan Bali bukan hanya soal bahasa, bukan?

Iya, bukan hanya soal bahasa, mengurug laut untuk membangun fasilitas pariwisata juga budaya, kan? Kan katanya pariwisata Bali itu pariwisata budaya. Entah pariwisata yang mengenalkan budaya, atau pariwisata yang mengatasnamakan budaya. Ah, semoga bagian ini bisa dibaca dengan lebih tenang.

Toleransi

Ketiga, tentang toleransi. Aku minoritas di sini (meski aku tidak terlalu nyaman dengan kata itu). Tapi nyatanya sedikitpun aku tidak pernah merasa berbeda, di luar konteks keagamaan maksudku. Bahkan, banyak temanku punya rasa ingin tahu yang besar tentang Hindu dan Bali, yang membuatku merasa dirangkul.

Sering kali mereka bertanya tentang ngaben, tentang gambar pemandangan di uang pecahan Rp. 50.000, dan yang paling sensitif, tentang kasta, maksudku warna. Meski aku tak begitu tahu, aku coba jelaskan semampuku. Dalam hal ini aku berpikir, kalau anak muda seperti kami mampu memandang perbedaan sebagai sebuah keindahan, mengapa mereka yang nyatanya sudah berumur masih terbelengku oleh pikiran radikal yang menyesatkan jiwa kebhinnekaan? Ah, entahlah. Aku makin percaya bahwa dewasa bukan perkara usia.

Tentang Rindu

Keempat, tentang rindu. Aku ingat sebuah kalimat yang sampai saat ini masih nyaman kudengar. Pergi karena cita-cita, pulang karena cinta. Tidak bisa aku pungkiri, berada jauh dari keluarga yang sedari kecil menemani bukan perkara mudah. Namun, kalau tidak pernah berpisah, bukankah tidak akan pernah merasa memiliki.

Aku berpikir begitu, berada jauh dari keluarga, meskipun tidak begitu jauh, membentukku menjadi manusia yang lebih menghargai makna keluarga. Bahkan, kadang kala, menghitung hari di kalender menjadi hal paling kurang kerjaan yang aku lakukan. Untuk apa? untuk menghitung waktu pulang tentunya.

Manusia yang tidak memiliki kerinduan, bagiku adalah mereka yang hidupnya belum bahagia. Sekali lagi, bagiku. Karena, membalas rindu adalah hal yang sangat membahagiakan. Karena aku ingin lebih bahagia, suatu saat nanti aku akan pergi lebih jauh. Untuk apa? Untuk memburu rindu tentunya. Namun, pesanku bagi mereka para pejuang ilmu yang bertaruh rindu sepertiku, biarlah rindu itu selalu hadir sebagai pelipur lara. Biarkan ia singgah sementara, bukandibiarkan menetap terlalu lama.

Batu

Kelima, tentang Batu, remaja, dan ketan legenda. Bukan barang baru bahwa Malang identik dengan Batu. Setahun ini, tiga kali sudah kudatangi. Aku melihat tempat itu sebagai pelarian kepenatan mahasiswa. Tempat berlari dari tumpukan tugas kuliah, yang nyatanya memang sangat memusingkan. Batu menjadi saksi bahwa Malang sangat ramah dengan kaum muda. Banyak tempat yang menawarkan hiburan. Untuk bersantai dengan sahabat, atau sekadar cuci mata. Barang kali, banyak mahasiswa yang bertemu tambatan hati di sana. Barang kali, karena aku sesungguhnya tidak begitu tahu.

Udara yang dingin membuat Batu semakin nyaman. Nyaman sembari menyeruput teh hangat dan menyantap ketan legenda. Di sini, ketan legenda menjadi makanan populer. Ketan kukus, berisi berbagai topping. Keju, susu, coklat, dan masih banyak lagi. Sederhana memang, tapi bermakna, untuk mengenyangkan perut, sembari menatap pasangan yang sedang duduk dihadapan. Ah, indah. Tapi, ini bukan pengalaman, cuma khayalan.

Hingga pada akhirnya aku berpikir, Malang bukan sekadar kampus untuk bersekolah. Tapi juga tempat untuk mengenal diri, memahami Indonesia, membangun relasi, dan (mungkin) bagi sebagian orang menjadi tempat menemukan pasangan hidup. Sekian untuk saat ini, setahun lagi, tulisan ini akan kusambung dengan rentetan cerita yang sedang dan akan aku jalani selanjutnya. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY