I Nyoman Wirata, Pengamen Bisu, Akrelik, 140x60, 2017

BERTAMU KE PERBATASAN

Subuh memecah embun di tepian pagi
gigirnya memburuku melewati jati jati tua
selembar daunnya jatuh serupa ingatan menggantung
di jalan setapak tak bernama
tapi pucuk ilalang isyaratkan tanah pengasingan
aromanya kukecap ditarikan nafas
yang hentikan degup dari beban rindu

Seseorang belum juga terjaga
“Apa kabar? mimpimu sangat panjang…”
bergegaslah mandi wangi kembang
basuh mukamu dengan air mawar
sisir rambutmu dengan jemari
nikmati segelas susu hangat
dan sepotong coklat kesukaanmu

Seikat salam kupetik di cekung mata ibumu
selalu terjaga di pintu menyulam anyelir
pulangmu lusuh
peluh mungil belum surut di kening
kabarkan letih bersama sebuah bola plastik pudar
erat di tanganmu

Semestinya kau tahu
ibumu melukis kembali wajahmu
dengan warna yang dipungutnya dari abu
tersenyum sendiri sepuas meneguk air mata sendiri
kau jelmaan siluet mengintip jendela
mematung di pintu tak bersentuh
menyarangkan derit di dada tipis ini
yang pernah kau jadikan ranjang persembunyian
dari kibas sapu lidi yang belum kau mengerti

Sebuah sepeda berwarna biru laut
tertambat di halaman rumah
setelah kutebus dengan segenap gairah
senyala matamu
mari susuri gang gang sempit menyemai asa
sesekali jatuh tak akan melukai
mari nikmati sore yang rebah di lapangan kecil
lemparkan bolanya ke udara !

Saatnya aku akan mengajakmu berlayar
berbincang elang laut hinggapi tiang perahu
atau kuajari membaca angin
menakar musim menyibak hujan
kukenalkan kepada riak
kepada gelombang
kepada badai !

Sayang, kau mendahului menarik sauh kesunyian
layar perahumu selembar selimut tidur
dari kafan yang kami kuyupi air mata
dikoyak perpisahan
“Aku tak akan menggigil, ibu
aku tak akan tersesat, ayah
api yang hanguskan tubuh panasnya kusimpan
panas yang lelehkan tulang apinya kuperam
kujadikan cahaya mercusuar
dan kunang kunang !”

(Api itu sangat besar, nak
kamipun lumpuh di pusarannya)

(Jakarta, Mei 2017)

MENGANTAR SEORANG TEMAN

Bagaimana,
musim ini menjauh sendiri
sembunyi di telaga seperti katak purba
dari kutukan pengembara
di tepinya adalah gua hijau lorongnya sembilan
ada lingkaran kembar di dinding mengawini dirinya
berbiak sendiri
inikah labirin yang sering kau tulis di sajakmu?
aku melihatnya teratai!

Daun jendela masih hangat belum ditutup pemilik rumah

Memikirkanmu dipersawahan seusai panen
berlari memutar terbanglah burung kertas warna kuning
tatapanmu meliuk dan capung menjadi teman juga belalang
tapi angin deras memutus kenur
sebelum menyentuh langit
lenguh sapi nikmat merumput sedangkan dada berdegup
kehilangan

Hanya seekor jalak putih terperanjat di ranting sunyi

Sore belum tuntas tapi apa yang kau tunggu
burung kertas lenyap di pohon bambu
sebaiknya pulang seorang ibu lelah di pintu
memanen rindu

Memikirkanmu berangkat siang ini seusai kusuk
di rumahNya
bekalmu bukan wangi kembang para tamu
tapi terakota besar berwujud angsa
setiap subuh kau jiwai
basahi dahaga dari mata air mata istri
atau anak anak yang memuliakan tanganmu
adalah telaga jiwa di kedalamannya

Tamatkan perdebatan tentang lokasi surga
Di pendakian berlumut kembalikan senyum yang pernah kau pinjam
beserta lelah tubuhmu
agar nyenyak di teduh jepun jepun tua.

(Jakarta, April 2017)

SENJA OLENG DI TERAS

Hari kesekian,
matahari silau bayangan sendiri
setelah rumah kaca bertumbuhan tak bermusim
sedangkan dingin sisa hujan kemarin
masih melekati ubin marmer bermotif abstrak

Sudah,
dua botol besar air jenuh kutelan
perasan jeruk nipis turut mengalir
lewati lorong usus sempit
singgah dijantung, singgah dihati
mengendap diruang jiwa
begitulah waktu kubunuh tanpa gejolak tanpa gelak

Semestinya,
sekerat botol air bergambar bintang
dari penyulingan gelora langit
dimana ekstrak anggur disimpan
para bidadari yang lupa jalan pulang
bersulanglah bidadari, akulah bidadara!
atas nama kemerdekaan sloki ini kita putar
semakin kencang! semakin kencang!
duduk bersila sesekali hentak bumi
menari! menari! mari! mari!

Aku kian oleng tandaskan sisa sloki
tersungkur di teras, tersingkir ketepian senja
menakar pikiran pelangi
“Kau duga aku tak bisa terbang ke surga!?”
kutantang langit yang berayun di kepalaku
kemudian senyap
ada yang mengguyurku dengan badai.

(Jakarta, Mei 2017)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY