Ida Ayu Made Diah Naraswari (kiri), juara 1 Lomba Menulis Puisi Festra Basindo Undiksha Singaraja. /Foto: Pantia

MEMBIDIK peristiwa untuk menjadi tema dalam puisi memang menarik dibicarakan. Butuh kepekaan untuk memaknai suatu peristiwa. Pemaknaan tersebut tidak serta merta terjadi dan hadir begitu saja. Perlu upaya untuk menghubungkan peristiwa dengan perasaan penulis. Keterhubungan yang utuh akan membuat puisi menjadi padu dan melahirkan idiom yang segar. Proses itu dimulai dari membidik peristiwa, menghubungkannya dengan perasaan penulis, dan menyajikannya dalam bentuk yang baru.

Proses itu nampaknya sudah dilalui oleh peserta Lomba Menulis Puisi Festival Sastra (Festra) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2017. Lomba tingkat umum tersebut, telah membuka peluang baru bagi penulis-penulis yang tengah menyelami puisi. Beberapa puisi hadir sangat utuh dan terjaga baik dari segi bahasa maupun cerita yang ingin disampaikan. Beberapa puisi hadir hanya sebagai bentuk ungkapan rasa tanpa peduli diksi.

Pertama, membidik peristiwa
Salah satu puisi yang mampu hadir sebagai peristiwa puitik yakni Gulai Mujair Danau Batur karya Diah Naraswari. Aktivitas sehari-hari seperti menjual Gulai Mujair merupakan hal lumrah bagi penduduk di sekitar Danau Batur. Namun, penulis mampu mengangkat peristiwa lumrah tersebut sebagai latar cerita yang menarik.

Meski hidangannya agak keruh
Jangan sangka tak enak rasa
Manis pedas membuat lezat terjungkal di pangkal lidah
Tetakan serai dan kuah air bunga kelapa
Sanggup menambah tenaga ketika tuan bercinta

Peristiwa yang sudah biasa dengan proses pembuatan gulai yang sudah lumrah bisa diceritakan dalam bentuk yang segar. Maka puisi ini dapat dikatakan berhasil membidik peristiwa dan mengubungkannya dengan perasaan penulis.

Kedua, bunyi-bunyi yang disuguhkan.
Seperti halnya puisi Cak karya Anita Yudiari.

Cak untuk kain poleng
Teriakan Cak sambil duduk oleng
Kita seribu penari Cak irama tembereng
Bak orang sedeng, gaungkan Cak dengan otak mereng
Kain dijereng, napas ditenteng rongseng-rongseng

Bunyi-bunyi yang berakhir dengan ”eng” adalah gaya bercerita yang coba ditampilkan. Bunyi-bunyi yang hampir mirip dipilih penulis untuk memperkuat bangunan puisi. Pada puisi ini peserta terlihat sedang mencari bentuk-bentuk puisi. Kemungkinan terjebak pada permainan bunyi juga banyak terlihat di beberapa puisi lain.

Terakhir, proses pembentukan kata.
Meskipun puisi merupakan sebuah karya sastra dengan Bahasa yang padat dan penuh keindahan, bukan berarti tidak memerlukan logika. Pemilihan diksi atau metafora dalam puisi tidak sekadar permainan comot kata-kata indah, tetapi juga perlu pemikiran-pemikiran logis agar kata-kata tersebut bisa menjadi suatu kesatuan dengan makna yang utuh. Pada puisi Balada Rakyat Munti karya Aldi Yuda Pratama.

Murka surga mencabik rahim Munti
Merampas permata mengubah intan menjadi belati
Menghisap darah berbedak nanah
Munti terkurung di dasar neraka
Beberapa kata tengah dipaksakan serta kurang memerhatikan logika kata sehingga kurang mencapai makna yang utuh.

Sepuluh puisi sudah terpilih. Puisi-puisi tersebut dapat memperlihatkan proses kreatif masing-masing penulis yang berbeda. Beberapa terpengaruh penyair-penyair lama, beberapa terpengaruh kawan, saling memengaruhi sepertinya wajar. Hanya saja kejujuran diri pada akhirnya akan mengantarkan seorang untuk mencapai bentuk puisinya. Bukan hanya sekadar meraih juara atau hadiah tapi sebagai bentuk perenungan mencari diri. (T)

Pemenang Lomba Menulis Puisi Festra Basindo Undiksha Singaraja

Juara 1
Gulai Mujair Danau Batur/Ida Ayu Made Diah Naraswari/Undiksha Singaraja
Juara 2
Cak/Ni Putu Anita Yudiari/Universitas Brawijaya Malang
Juara 3
Peta Kampung Halaman/Dewa Kade Astawan Satia Awatarayana/SMAN 2 Negara
Harapan 1
Balada Rakyat Munti/Aldi Yuda Pratama/SMAN 1 Melaya
Harapan 2
Ketika Aku da Malam Merindukanmu/ I Gusti Putu Satia Guna/Undiksha Singaraja

*Penulis adalah salah satu anggota Dewan Juri Lomba Menulis Puisi Festra Basindo Undiksha Singaraja

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY