Lukisan Nyoman Erawan

Ctrl + A

menemui kata-kata yang telah menghitam. seluruh muasal, riwayat, penanda, silsilah adalah petualangan mendebarkan. sejak mula engkau terlahir dan buncah. kini aku yang rebah, di belakang sejarah. menyimpan tragedi sekaligus duka. telah kuhitung semua yang pernah kautampung di kelam murung. sajakmu yang gelap, kausalin juga tabiat dan muslihat. dari pemimpin yang suka memuja diri sendiri.kata-kata itu, sendirian memanggul lelahmu. di balik ufuk gemetar dari ingatan. luruh di gertap keluh.

aku?

barangkali hanya engkau yang paham, makna yang pernah kaukurung dari batas cuaca. dan masih ada senyum ibu, bukan dengan wajah sembilu. bukankah engkau ada keseluruhan dari tubuhku?

2016

Ctrl + S

aku akan terus menyimpanmu. kenangan yang hanya pijar sebentar, dan cinta kita yang selalu rindu jalan pulan ke rumah. sebab tak akan ada yang mengusik kita setelah ini. asmara adalah dada hangat yang berlarian di antara genangan hujan. menderas dalam sketsa kata-kata. atau setiap pelukan dan kecupan, yang sesungguhnya tak pernah berkahir dengan singkat. meskipun waktu mengurung dengan sejumlah dengung, dan kita kehilangan cerita-cerita menjelang tidur.

aku akan terus menyimpanmu. sepanjang ingatan, bahkan ketika puisi-puisi mengabarkan derita dan sakitnya. debarmu adalah kunci yang selalu membuka beranda rumah. bagi tubuhku yang koyak. menyatu dalam lekat hari yang tak lagi gelap.

bertahun, kukubur engkau bersama lembar takdir gelambir. atau debar jantung yang mengular. di setiap binar.

2016


Alt + Tab

namun engkau selalu berpindah dari kolom satu ke lainnya. menyimpan kata dengan riang. meskipun sesekali sunyi tandang. tapi betapa lorong yang kaumasuki selalu panjang. sekejap engkau terhampar, terlempar jauh dari sejarah yang tak sempat mekar dibaca. di saat seperti ini, sungguh engkau butuh kecupan ringan dan pelukan dari perempuan. sesekali engkau merindukan rumah, sebab sudah lama lelah melompat-lompat.

di sebuah alinea. di sebuah jendela yang lain, engkau akan menikmati remang yang rumpang.

2016

Ctrl + C

engkau paham, jika bukan penganut dimas kanjeng. tak akan pernah sanggup engkau menggandakan segalanya. tapi begitu cepat kauciptakan duplikat yang dipenuhi muslihat. beribu salinan yang mirip dengan asli. tapi selamanya yang nyata cuma satu. lainnya fana. hanya ilusi. lalu kaupun mengingat sapardi; bukankah yang fana adalah kita? sedangkan waktu abadi.

wajahmu bercahaya. sepanjang ngilu menghantui pusara tubuhmu.
“sungguh, dirimu bukanlah fanatik berat dimas kanjeng?”

ada liur serakah yang jadah. melibasmu dengan cahaya palsu. seketika kau ingin menelusup ke surga dunia yang jauh.

2016

Shift + F3

telah kuberikan namamu serupa dengan caps lock. yang bundar melingkar. betapa engkau bangga jika tulisanmu menjadi besar. dengan kapital tak terpenggal. padahal semua hanya serupa penanda, acapkali menipumu. segalanya hanya serupa bayang-bayang, yang tak pernah nyata. tapi, mengapa engkau melulu mengisahkan sejarah usang. supaya orang terkenang, setiap rekah huruf dari sejarah yang kehilangan tuah.

sehabis ini, setalah hujan luruh di awal bulan. engkau akan terkenang pada jalan-jalan lama. dan mengigau bila sejarah memang tak pernah ditulis dengan sempurna. selalu ada rekayasa dan sebuah nama yang mesti ditulis dengan huruf serba besar. mendadak engkau begitu gusar.

2016

Ctrl + X

mulanya engkau menyunting bagian-bagian yang kauanggap buruk. dan setiap kali engkau memotongnya selalu ada tumbuh yang baru. seperti sembul tunas muda. dan setiap orang merindukan kelahiran yang baru. berupaya menciptakan silsilah bagi dirinya. menyiapkan leluhur lainnya. maka apa yang kaupenggal, tak akan pernah serupa dengan tukang jagal. sebab segalanya tak akan sia-sia. setiap luka akan menutup dan kenangan akan terajut.

dan kerumun jejak akan meninggalkan bekas-bekasnya. bahkan saat jalan-jalan tertutup akar pohon atau palang. semacam kelahiran baru, bagi muasalmu yang kelam.

2016

Ctrl + O

rahasia demi rahasia akan terbuka. terkuak di belahan kerak. dan kau akan tutupi lagi setiap aib. menghitung kelakar yang lama berpendar. jauh di kerinduanmu, seperti kelopak usia orang-orang mengingatnya sebagai serapah. ah, dirimu terdedah dengan sejumlah asumsi. enigma yang menetas di tempurung kepala.

apa yang kaubuka akan segera menutup kembali.
apa yang kautimba akan kautuang dengan segera.

2016

SHARE
Previous articlePahlawan Bertopeng Beha
Next articleMenafsir Ramayana: Di Srilangka, Rahwana adalah Pahlawan
Alexander Robert Nainggolan

Lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja di Satlak Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kelurahan Gondangdia Kec. Menteng Kota Adm. Jakarta Pusat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di puluhan media lokal dan nasional, dan termuat dalam berbagai antologi. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012). Di facebook ia bisa ditemui dengan nama Alex R. Nainggolan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY