Yabes Roni (kanan) disambut Irfan Bachdim (kiri) usai mencetak gol kedua bagi Bali United pada laga uji coba Bali United lawan Persib Bandung di GBLA, Sabtu (8/4/2017)/ Foto: www.baliutd.com

LUAR biasa baru kali ini melihat semangat I Gede Sukadana bermain sepak bola selama berseragam Bali United. Karakter pantang menyerah diperagakan dalam laga penuh drama antara Bali Unitedmeladeni tuan rumah Persib Bandung, Sabtu 8 April 2017, malam. Meski laga bertajuk uji coba yang berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini tak ubahnya pertunjukan para pahlawan Bali melawan penjajah.

Melihat pentas malam itu, seolah jiwa para gerilyawan Bali United bak disusupi bara puputan yang menggelora di tengah lautan api. Diprediksi bakal kalah bertandang di tanah Sunda, Serdadu Tridatu (julukan Bali United) menang 1-2. Perlu diingat, Persib Bandung adalah tim kuat digadang-gadangkan bakal menjadi juara Liga Indonesia 2017.

Laga itu juga disaksikan ribuan suporter fanatik Persib “Bobotoh” dan “Viking”. Istimewanya Persib memainkan pemain termahal di Indonesia bertitel marquee player Michael Essien. Ya, pemain yang pernah membela klub top Eropa di antaranya Chelsea, Real Madrid, dan AC Milan. Lebih istimewa lagi, sejak menit ke-73, Bali United harus bermain 10 orang karena Yabes Roni diusir wasit setelah insiden tendangan ke arah sang mega bintang Essien.

Malam sejarah baru bagi Bali United. Namun, bagi pendukung tuan rumah seperti fans Nirvana yang meratap penuh ketidakpercayaan bahwa sang idola Kurt Cobain ditemukan tewas di rumahnya tepat pada 8 April 1994 lalu.

Lalu; Sukadana malam itu menguasai peran barunya gelandang bertahan dari biasanya gelandang serang. Pemain asal Pegok, Sesetan, Denpasar ini tampak garang. Ia tak segan-segan beradu fisik hingga emosi dengan pemain tuan rumah. Dan benar saja, ia beberapa terlibat adu mulut dan hampir terlibat perseteruandengan gelandang pengangkut air “Maung” Bandung, Hariono.

Hanya Sukadana? Tentu tidak. Nama lain yang tak kalah moncernya dalam laga malam itu, I Made Andhika Pradana Wijaya. Ontong, panggilan akrab Andhika Wijaya yang notebene putra legenda hidup sepak bola Bali I Made Pasek Wijaya ini mampu menjaga daerahnya dari gempuran barisan penyerang Persib. Ontong tampak lugas menyapu meski ia berstatus pemain promosi. Pemain yang beroperasi di jantung pertahanan kiri Bali United mampu mematikan sayap lincah Persib Febri.

Begitu juga kiper I Kadek Wardana patut diacungi jempol. Ia mampu mengamankan gawangnya hingga menit-menit terakhir. Tak gentar dengan incaran eksekusi bola mati ala Essien. Mau bukti lain, pada menit ke-64, Bli Kadek mempelihatkan kelasnya. Ia mampu menyapu bersih bola berbahaya yang masih dikontrol pemain Persib Atep. Meski akhirnya ia harus memungut bola dari gawangnya setelah pada menit ke-87 sepakan keras Maitimo tak bisa ia jangkau.

Dalam balutan rasa bangga tidak perlu ragu dan setuju nama Irfan Bachdim pantas dielu-elukan. Betapa tidak, pemain kelahiran Belanda ini adalah pencipta petaka bagi sang tuan rumah. Pada menit ke-14 habitus Bali United menciptakan gol perdana sejak berseragam hitam-putih-merah. Melalui akselerasi kilat, hampir setengah lapangan Bachdim menggiring bola ke kotak penalti Persib. Lalu diselesaikan dengan tendangan cannonball.

Yabes Roni, satu nama menjadi bintang duel malam itu. Yabes menciptakan gol kedua bagi Bali United di menit 68. Melalui skema counter full speed ala Yabes dilanjutkan umpan silang ke Hamdi yang terbuka. Hamdi shooting, ditepis kiper Persib M Natsir. Namun bola muntah, ditendang Yabes dan gol.

Namun bukan karena gol itu yang mungkin akan selalu diingat Essien dan pencinta sepak bola Tanah Air. Namun insiden tendang bola Yabes mengenai Essien. Debut perdana Essien di Indonesia “tercoreng”. Essien mengejar penuh emosi setelah terkena bola tendangan anak muda asal NTT itu. Yabes lalu diganjar kartu merah dan diusir wasit. Setelah laga itu, Essien dan Yabes menjadi trending topic mengalahkan skor akhir pertandingan. Beritanya bukan hanya ramai di Indonesia, namun merambah media-media luar negeri.

Siapa Pahlawan

Nah, siapa sebenarnya pahlawan dalam laga itu? Sukadana? Ontong? Bli Kadek, Bachdim, ataukah Yabes? Atau juru taktik pelatih Bali United Hans Peter Schaller? Yapria asal Austria ini memberikan sentuhan magis skema 4-1-4-1 dan motivasi sehingga mampu meredam Persib yang berkarakter bermain lebih agresif. Pemain cadangan, suporter, atau pemilik klub? Kalau itu hitungan hanya di tengah lapangan maka sudah cukup man of match atau pemain yang paling menonjol perannya dalam sebuah laga itu. Mari kita telisik pahlawan itu.

Dalam KBBI,kata pahlawan/pah·la·wan/ termasuk kata bendayang berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya membela kebenaran, pejuang gagah berani. (Tulisan ini pun sengaja ditulis berapi-api, daya kobar). Sedangkan bahasa Inggris pahlawan disebut “hero” sosok legendaris dalam mitologi yang memiliki kekuatan luar biasa. Keberanian dan kemampuan, serta diakui keturunan dewa. Juga sosok yang selalu membela kebenaran.

Ada juga yang mendefinisikan pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya yang memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.

Mumpung masih hangat, kita lihat tulisan Gde Aryantha Soethama dalam buku “Menitip Mayat di Bali” (Kompas: 2016). Dalam esainya “Pahlawan Puputan” ada identifikasi gambaran pahlawan dan hakikat puputan. Ia menyebutkan pahlawan lazimnya lahir dalam perang, ketika situasi onar, dan saat kawan atau lawan susah diukur. Dalam kemelut, ketika harapan terus-menerus didengung-dengungkan, seseorang bisa muncul menjadi pahlawan. Zaman kacau-balau, hiruk-pikuk, penuh sumpah serapah, di situlah pahlawan-pahlawan lahir, muncul menjadi sosok yang dielu-elukan. Kepahlawanan tidak semata-mata dikaitkan dengan keberanian, tetapi juga kekuasaan.

Lantas apakah ada pahlawan dalam laga sepak bola? Atau sekadar mitos?

Hakikat puputan lebih jelas diulas. Puputan, bagi orang Bali, menjadi perang paling dahsyat. Puputan Badung, Margarana, Klungkung adalah puncak perang. Puputan menjadi sejarah perang yang tidak hanya membahas tentang serangan, bukan sekadar perihal serbuan untuk merampas, tidak pula tentang kegigihan bertahan.

Puputan menurutnya adalah klimaks sebuah perang. Kalah menang bukan lagi persoalan. Sikap satria adalam puputan, kendati harus terkapar kalah, jauh lebih dihargai tinimbang keberhasilan menikam musuh atau kemahiran menyusun strategi. Apakah para pemain Bali United memiliki punya jiwa puputan? (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY