Cover buku Menitip Mayat di Bali dan pengarangnya, Gde Aryantha Soethama

BUKU kumpulan esai “Menitip Mayat di Bali” dibincangkan dalam program Pustaka Bentara di Bentara Budaya Bali, Minggu, 9 April 2017, pukul 19.00 WITA. Buku yang ditulis Gde Aryantha Soethama, yang juga penulis tetap di tatkala.co, terbit sekitar setahun lalu, dan mendapat sambutan luar biasa dari publik, bukan hanya di Bali, juga di daerah lain di Indonesia.

Pustaka Bentara kali ini tak semata membincangkan sebuah buku, melainkan menggali lebih mendalam kehadiran Bali, baik sebagai realita keseharian maupun melalui tinjauan historisnya yang lintas zaman. Sebagai rujukan tajuk program ini adalah buku kumpulan esai terkini Gde Aryantha Soethama “Menitip Mayat di Bali” (Penerbit Buku Kompas, 2016), berisi 69 esai, sebentuk solilokui- suara hati orang Bali.

Esai-esai Gde Aryantha memikat, terlebih karena gagasan uniknya diungkap melalui bahasa yang jernih, menyentuh, serta ringan namun mengesankan. Merefleksikan berbagai kejadian atau peristiwa sehari-hari yang mengemuka di dalam masyarakat pulau ini; mulai dari kemelut adat perihal jenazah yang dilarang dikubur, juga ragam kejadian sebagai akibat keberadaan pariwisata, baik berdampak positif maupun negatif. Dengan kata lain, yang terdepankan adalah cerminan situasi paradoksal Bali yang global sekaligus yang lokal.

Bali terbilang sebagai pulau yang beruntung, dikunjungi turis-turis sekitar 180 bangsa di dunia. Tidak sedikit riset tentang pariwisata mengemukakan tentang bagaimana mendatangkan wisatawan sebanyak mungkin. Boleh dikata lebih jarang pakar yang meneliti pengaruh negatif pariwisata. Memang, sedari masa kolonial, sewaktu pariwisata mulai memasuki Bali, terdapat sekian pengamat yang sedini itu menyuarakan keprihatinan dan mencemaskan masa depan kebudayaan Bali. Nada skeptis atau tak terlampau optimis itu tersirat dari pandangan Covarrubias melalui tulisannya yang sohor Le Isle Bali (Island of Bali), tak ketinggalan Margaret Mead, Alain Gerbault, James Boon, Michel Picard, melalui tulisan seakan menyerukan, “Bagaimana kalau ‘Bali’ tiada lagi?”

Di tengah nada skeptis tersebut, banyak pula yang tetap optimis bahwa transformasi sosial kultural pulau ini akan berjalan dengan baik dan berkelanjutan, bahwa masyarakat Bali juga akan sanggup menghadapi tantangan zaman itu sejalan dengan pandangan mereka terhadap karma yang selalu berpihak pada kebajikan.

Melalui timbang pandang kali ini, budayawan yang juga pemerhati sastra dan pariwisata, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt akan berbagi kajian terkait transformasi sosial kultural yang dialami Bali selama ini. Ketua Program Studi Magister (S2) Kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana, yang kerap diundang sebagai narasumber seminar internasional di berbagai negeri, mengkritisi pandangan tentang Bali, baik suara-suara yang pesimis, skeptis, dan bahkan juga yang optimis.

Gde Aryantha Soethama mulai belajar menulis ketika remaja, dengan mencipta puisi. Ia kemudian menulis cerita pendek, laporan perjalanan, dan karya jurnalistik, untuk surat kabar di pulau kelahirannya, Bali, serta sejumlah majalah dan koran Jakarta. Aryantha pernah menjadi wartawan, koresponden, dan pemimpin redaksi. Laporan jurnalistiknya tentang desa terbaik dibukukan dalam Sang Juara, Sembilan Desa Terpilih di Bali (1995). Bukunya yang lain Bolak Balik Bali (Arti Foundation, 2006) ditetapkan sebagai buku nonfiksi terbaik oleh Pusat Bahasa (2006). Kumpulan cerpennya Mandi Api (Penerbit Buku Kompas, 2006) meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2006), diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Ordeal by Fire (2009) oleh Vern Cork. Ia menetap di Denpasar, menjadi penulis lepas, sembari mengurus percetakan dan penerbitan.

Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., adalah Guru Besar Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Kini menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister (S2) Kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana. Dia menyelesaikan pendidikan doktor di School of Languages and Comparative Cultural Studies, The University of Queensland, Australia, 2003. Bukunya yang baru terbit adalah Wisata Kuliner Atribut Baru Destinasi Ubud (Jagat Press, 2016) bersama Putu Diah Sastri Pitanatri; Mengemban Tutur Leluhur -Biografi Tjokorda Gde Putra Sukawati (Jagat Press, 2016). Karyanya yang lain adalah A Literary Mirror, Balinese Reflections On Modernity And Identity In The Twentieth Century (Leiden, KITLV Press, 2011); Wanita Bali Tempo Doeloe Perspektif Masa Kini (2007), Bali dalam Kuasa Politik (2008), dan Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Tulisannya“Getting Organized; Culture And Nationalism In Bali, 1959-1965” terbit dalam Jennifer Lindsay dan Maya H.T. Liem (eds) Heirs To World Culture; Being Indonesian 1950-1965, pp.315-42 (KITLV Press: 2012) dan versi bahasa Indonesia berjudul Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia 1950-1965 (Denpasar: Pustaka Larasan dan KITLV Jakarta, 2011). (T/*)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY