Foto: koleksi penulis

SAYA seorang warga keturunan, ketururnan Bali sekaligus keturunan Tionghoa. Dalam diri saya mengalir darah Tionghoa dari leluhur Tionghoa dan darah Bali dari ibu kandung saya. Sebagai seorang warga keturunan Bali dan Tionghoa, tentu saja merayakan hari-hri raya dan tradisi dari keduanya. Seperti pada Rabu, 5 April 2017, saya merayakan sebuah hari kemenangan dharma melawan adharma yang biasa disebut Galungan, dan hari itu pula saya merayakan sebuah puncak tradisi sembahyang kubur yang biasa disebut Ceng Beng.

Kita sudah tahu bahwa Galungan biasa dirayakan 6 bulan sekali (sesuai perhitungan kalender Bali), sementara Ceng Beng biasanya diadakan setahun sekali dan puncak perayaannya biasa dirayakan pada tanggal 4 atau tanggal 5 April (sesuai penanggalan masehi).

Berbicara tentang Ceng Beng, saya teringat cerita engkong saya yang seorang warga keturunan Tionghoa tulen, tidak campuran seperti saya. Katanya, jika ada seseorang yang meninggal saat Ceng Beng, maka itu adalah berkah.

Setiap agama tentu memiliki ajaran sendiri mengenai hidup dan kehidupan di dunia akhirat, dan setiap etnis sepertinya juga memiliki keyakinannya sendiri tentang kehidupan setelah kematian.

Nah, ini menurut engkong saya. Katanya, sejak seminggu sebelum puncak perayaan Ceng Beng tiba, pintu surga atau pintu dunia akhirat dibuka agar arwah-arwah dapat berplesiran mengunjungi dan berkumpul bersama keluarganya. Tentu di antara arwah-arwah tersebut ada leluhur kita dan sanak keluarga kita yang sudah meninggal. Katanya lagi, warga keturunan melakukan tradisi sembahyang kubur karena ada tujuannya, yaitu untuk menyambut arwah dari para leluhur yang berplesiran tersebut.

Warga keturunan, termasuk engkong saya, yakin bahwa para leluhur benar-benar datang, benar-benar mengunjungi bumi, benar-benar berkumpul bersama keluarga. Katanya, ia pernah bermimpi bahwa ibu kandungnya, yang tentu saja adalah nenek buyut saya, datang ke rumah sambil menanyakan bagaimana kabar cucu-cucunya yang lain.

Ia juga pernah bermimpi salah seorang anaknya, yang menjadi paman saya, datang ke rumah membawa sepeda motor yang pernah ia beli dulu. Kata engkong saya, paman saya seperti masih muda saja. Kakak saya juga pernah bermimpi tentang paman saya yang hendak membuat makamnya menjadi lebih indah dan rapi.

Kakak saya lagi, pernah bermimpi bibi saya datang ke rumah engkong dan menceritakan semua yang ia lakukan di sana. Katanya di sana ia menjadi seorang pekerja, kehidupannya sama saja seperti di bumi. Orang-orang di sana mencari nafkah, dan kemudian mereka mendapat ijin untuk pulang ke rumah masing-masing dengan syarat harus pulang dalam waktu yang ditentukan, katanya lagi, ada yang menjaga dan mengawasi mereka setiap mereka akan pulang.

Percaya tidak percaya, tapi beberapa anggota keluarga saya sering kali bermimpi tentang leluhur atau anggota keluarga yang sudah meninggal, terutama saat hari raya akan tiba, seperti Ceng Beng ini. Saya pun pernah bermimpi, tapi sayang sekali bukan saat Ceng Beng.

Saat tradisi sembahyang kubur, warga keturunan melakukan pembersihan, membuat makam leluhur dan keluarganya menjadi lebih rapi dan indah, menyajikan berbagai masakan kesukaan, dan sembahyang bersama adalah untuk membuat para leluhur mereka senang dan merasa benar-benar disambut. Selain untuk melakukan bakti kepada leluhur. Mengingat tradisi Ceng Beng hanya dirayakan setahun sekali, dalam artian lain bahwa para leluhur hanya dapat berplesiran mengunjungi keluarganya sekali juga dalam setahun.

Lalu, kenapa meninggal saat Ceng Beng adalah berkah? Karena pintu surga sedang terbuka. Ya seperti yang diceritakan engkong saya tadi. Pintu surga sedang dibuka agar arwah-arwah leluhur dapat pulang sementara ke bumi, dan jika meninggal saat Ceng Beng, dipercaya arwah yang bersangkutan bisa langsung masuk surga. Tentu saja meninggal bukan karena bunuh diri, tapi meninggal karena memang ditakdirkan untuk meninggal.

Nah, itulah yang diceritakan oleh engkong saya, dan itulah yang diyakini oleh engkong saya. Itulah mengapa meninggal saat Ceng Beng adalah berkah.

Mengingat cerita dari engkong saya ini, saya juga jadi teringat dengan salah seorang keponakan saya yang masih balita yang meninggal 3 tahun yang lalu, dan kebetulan meninggal saat hari-hari serangkaian persembahyangan Ceng Beng. Semoga ia benar-benar berada di surga dan pada saat-saat puncak perayaan Ceng Beng atau mungkin suatu saat nanti ia datang ke bumi menceritakan tentang surga itu sendiri, apakah sama seperti yang diceritakan di beberapa kitab, atau malah sudah berubah.

Mungkin beberapa leluhur dan anggota keluarga yang lain juga datang, karena jarang sekali puncak sembahyang kubur Ceng Beng juga dirayakan bertepatan dengan hari raya Galungan. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY