Buku : The Seven Good Year
Penulis : Etgar Keret
Penerjemah : Ade Kumalasari
Hal : 198 hlm
Penerbit : Bentang
Cetakan 1 : Juni 2016
ISBN : 978-602-291-200-2

MEMOAR-MEMOAR yang di tulis Etgar Keret begitu ringan dan mudah dipahami pembacanya. The Seven Good Years sebenarnya menceritakan akan 7 tahun kehidupan di Tel Aviv bersama Lev putranya dan Shira istrinya. Gaya bertutur yang unik dan humoris mengingatkan kita pada almarhum Gerson Poyk, sastrawan kita kelahiran Kupang yang belum sebulan ini berpulang. Etgar mengemasnya dengan sangat apik dan ringan bergaya cerita pendek.

Buku The Seven Good Year dibagi 7 bab sesuai tujuh tahun perjalanan hidupnya, di dalamnya tidak hanya kehidupan pribadi saja tapi kritik sosial dan politik juga tersaji. Seperti kita ketahui bahwa Etgar Keret ini adalah seorang penulis beragama yahudi yang hidup di Israel berdekatan dengan Palestina notabene Islam berseteru pemerintahan Zionis. Peristiwa mengebom ke kota Tel Aviv oleh gerakan Hamas garis keras sudah jadi kebiasaan rutinitas dan pemandangan sehari, itu terlihat pada kisah Pastrami di bab tahun Ketujuh.

Dalam “Pastrami” menceritakan saat ia sekeluarga berkunjung ke utara Tel Aviv menemui saudara disana dan ditengah jalan ada sirene peringatan serangan udara. Lev anaknya ketakutan, Etgar harus membujuk dia agar tidak takut dengan cara membuat permainan roti pastrami (makanan khas Israel).

“Kamu mau bermain game roti tangkup pastrami” aku bertanya kepada Lev.”Apa itu? Dia bertanya, tidak mau melepaskan tanganku.

“Mommy dan aku adalah sekerat roti” aku menjelaskan, “Dan kamu adalah sepotong pastrami, dan kita harus membuat roti tangkup pastrami secepat yang kita bisa. Ayo, pertama kamu tengkurap diatas Mommy” kataku dan Lev berbaring pada punggung Shira dan memeluknya sekuat dia bisa. Aku tengkurap di atas mereka, menahan dengan tanganku di tanah yang lembab agar tidak menekan mereka. Hal 191

Persoalan yang sensitif tentang agama pun ditanggapi santai Etgar, sempat ia diundang oleh Ubud Writer dan Reader Festival di Bali. Sang ayah korban Holocaust Jerman menguatirkan anaknya datang ke Indonesia, gerakan anti Semit dan pembakaran bendera Israel di Jakarta membikin ngeri.

Tapi Etgar menanggapi dengan nyeleneh, ia hanya menunjukkan wikipedia bahwa di Ubud Bali itu mayoritas beragama Hindu dan tak mungkin mereka menanyakan agama apa yang ia anut setibanya di sana. Cuplikan itu tercantum dalam bab tahun kedua dalam kisah “Teman Tidur Yang Aneh”

Tidak hanya itu Etgar juga mengkritik tentang korupsi yang terjadi di negaranya tapi sekali lagi dengan ungkapan yang menggemaskan. Menurut dia semua koruptor itu kucing, ini dikarenakan ia berkiblat pada Lev anaknya.

Pada suatu hari Etgar dipanggil gurunya Lev bahwa anaknya suka memakan permen coklat yang diberikan juru masak sekolah. Peraturan dalam sekolahnya tidak boleh memakan coklat di lingkungan sekolah tapi Lev melanggarnya. Etgar bertanya kepada Lev “Kenapa kau lakukan itu?” jawaban dari Lev “Aku ini bukan manusia tapi kucing..meoow..meow”

Jawaban itu membuat Etgar berimajinasi tinggi mengapa pejabat negara suka korupsi, ternyata semua itu bukan manusia tapi kucing. Semua itu tersaji dalam bab tahun kelima dalam esai Kucing Gemuk, betapa herannya Etgar kenapa sekelas perdana menteri Ehud Olmert melakukan korupsi, ia juga tidak kelaparan atau miskin. Khayalan Etgar terpampang dalam rangkaian dialog antara hakim dan Olmert.

“Jaksa : Tuan Olmert, apakah anda sadar bahwa pemalsuan dan penipuan adalah melanggar hukum?

Olmer : Sebagai mantan perdana menteri yang bermoral dan taat pada hukum, saya sepenuhnya sadar bahwa keduanya melanggar hukum untuk semua warga negara ini. Tetapi kalau anda membaca hukum di negeri ini dengan hati-hati. Anda akan melihat bahwa mereka tidak bisa diterapkan pada kucing! Dan saya, Tuan. Telah dikenal oleh seluruh dunia sebagai kucing gemuk yang malas…..
…meow..meow..meow
hal 111

Etgar sebagai seorang Yahudi selalu dihantui oleh paranoid jika beredar di luar negeri. Ia merupakan anak generasi kedua yang selamat dari peristiwa Holocaust-pembasmian ras yahudi di Jerman. Begitu paranoid akan kata-kata ”Juden Raus” yang artinya Yahudi Keluar, ini terjadi pada saat Etgar mengikuti festival buku di Jerman. Saat malam ada seorang mabuk Jerman masuk restoran terus mengatakan “Juden Raus..Juden Raus” dipikir itu menghina dia hingga mendatangi pemabuk tersebut.

“Aku mendatangi orang itu, lalu berkata dalam bahasa Inggris dengan nada yang mencoba terdengar tenang,”Aku seorang yahudi. Anda ingin mengeluarkanku dari sini? Ayo lakukan saja, keluarkan aku!” Orang Jerman itu, yang tidak mengerti satu kata pun dalam bahasa Inggris, tetap berteriak dalam bahasa Jerman, dan tidak berapa lama kemudian, kami melakukan aksi saling dorong” hal 35

Etgar sebelum menjadi penulis dan dosen pengajar adalah seorang tentara berumur 19 tahun. Ia ditempatkan di kamp dalam ruangan bawah tanah yang dingin dengan shift panjang. Dalam waktu yang senggang itu Etgar iseng menulis sebuah cerita pendek yang menurut ia bagus. Ia coba menunjukkan itu ke kakaknya yang sedang membawa anjing mereka jalan sambil membaca tulisan Etgar.

“Cerita ini bagus” kata kakakku. “Mengesankan. Kamu punya salinannnya” Aku bilang, aku punya. Dia memberiku senyuman kakak yang bangga kepada adiknya, kemudian dia membungkuk dan menggunakan kertas itu untuk mengambil kotoran anjing dan membuangnya ke tempat sampah.
Itu adalah momen ketika aku menyadari bahwa aku ingin menjadi seorang penulis.
hal 123

Tulisan-tulisan Etgar ini layaknya menertawakan kehidupan karena tawa adalah obat terbaik akan kesedihan daripada menyesalinya. Dikemas dengan humor gelap dan sindiran-sindiran yang membuat kita ketawa sendiri.

Sesuatu menghibur memoar-memoar yang ditulisnya, semua itu memang nyata ada dimasyarakat kita. Kita diajak untuk ketawa bahwa serumit apapun kehidupan, dibuat tetap waras. Anda perlu ketawa ala Etgar Keret penulis yang lahir di Rahmat Gan-Israel 20 Agustus 1967 ini. (T)

SHARE
Previous article“Rumah” bagi Anak Punk
Next articleTualang Banyuwangi (1) – Bertaruh Nyawa di Kawah Ijen
Ferry Fansuri
Lahir di Surabaya, 23 Maret 1980. Penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya "Roman Picisan" (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY