Adegan dalam Film “The Shawshank Redemption” [1994]

MESKI di beberapa daerah hujan sudah reda dan hari mulai panas, namun di sejumlah daerah lain hujan tampaknya belum sepenuhnya berhenti. Apalagi, ini memang masih musim hujan. Yang bikin cemas, cuaca di sejumlah daerah masih ekstrem. Buktinya, di media sosial maupun di media arus utama, berita banjir masih tetap ada.

Teman-teman yang melewati jalur Denpasar-Singaraja masih tetap waspada, karena titik banjir di wilayah Pancasari belum bisa diatasi. Jika hujan, banjirlah berita tentang banjir di media sosial. Belum lagi kemungkinan longsor tetap jadi hantu dalam perjalanan.

Kenapa tiba-tiba panas, lalu tiba-tiba hujan turun sangat lebat disertai badai? Kenapa cuaca ikut-ikutan tidak bisa ditebak? Kenapa tidak mood cewek saja yang sulit ditebak? Kenapa cuaca ikut-ikutan tak bisa ditebak?

Mungkinkah itu kerjaan para jomblo? Hah?

***

TERSEBUTLAH sebuah kisah di sebuah negeri antah berantah. Hujan turun secara ekstrem, begitu deras. Banyak tanah longsor dan banjir. Setelah diselidiki, ternyata penyebab banjir adalah para jomblo yang jumlahnya makin banyak di negeri itu. Lho?

Barangkali tak ada yang pernah berpikir bahwa jomblo juga bisa jadi salah satu penyebab terjadinya perubahan cuaca yang ekstrem. Jika pembaca tulisan ini adalah seorang jomblo, tentu akan tahu jawabannya kenapa jomblo dianggap menjadi biang kerok masalah ini.

Ya, karena jomblo biasa berdoa setiap Sabtu malam atau malam Minggu. Berdoa agar turun hujan deras disertai badai kencang. Itu dilakukan agar teman-temannya yang punya pacar tak bisa bermesraan dengan bermanjaan sambil jalan-jalan menikmati Sabtu malam.

Apalagi pada bulan Februari, bulan yang disebut-sebut sebagai bulan kasih sayang. Hujan deras disertai angin kencang terjadi hampir setiap hari. Saat itu, para jomblo ternyata sedang getol-getolnya berdoa agar hujan turun dengan deras.

Semakin banyak jomblo yang berdoa semakin semakin sering turun hujan yang deras. Semakin banyak jomblo yang berdoa, semakin besar kemungkinan angin bertiup lebih kencang dari biasanya, bahkan mungkin saja durasinya sepanjang hari atau bisa juga sepanjang minggu. Atau sepanjang mantan-mantan mereka masih berstatus pacaran dengan orang lain. Doa ini tentu saja dilakukan jomblo-jomblo yang tidak bisa move on alias masih hold on.

Maka, agar tak terus-terusan terjadi hujan, pemimpin negeri pun mengeluarkan maklumat agar para jomblo jangan terus-terusan berdoa minta hujan deras dan badai. Daripada berdoa minta hujan, para pemimpin menyarankan lebih baik berdoa disertai perjuangan untuk mendapatkan pacar.

***

CERITA di negeri antah berantah itu tentu saja fiksi dan karangan semata. Tapi dalam kenyataannya, tampaknya ada dari kita pernah melihat, atau setidaknya tahu, bahwa ada seorang jomblo yang bahagia ketika turun hujan deras di malam Minggu.

Ada yang menulis status di beranda facebook: “Hahaha, hujan ya? Kasihan deh lo yang mau malmingan”.

Atau ada juga yang menulis dengan bahasa sok kebarat-baratan “Hujan ya? Too bad so sad for you couple”.

Bahkan ada juga yang sebelum malam Minggu tiba,  mereka terang-terangan berdoa agar turun hujan deras. “Malam minggu besok moga-moga turun hujan deras ya Tuhan. Galau liat mereka pacaran”.

Nah, jomblo-jomblo yang membaca tulisan ini, apakah ada yang pernah seperti itu? Atau apa ada yang pernah melihat temannya yang sesama jomblo seperti itu? Ayo ngaku, yang ngaku disayang Tuhan, ha ha ha.

Orang-orang tua mengatakan bahwa doa dari orang yang tulus biasanya akan terkabul, jika berdoa secara sungguh-sungguh juga akan terkabul, dan doa dari orang yang tersakiti katanya juga akan terkabul.

Nah, siapa tahu jomblo-jomblo itu adalah orang-orang yang tersakiti, misalnya menjomblo karena gagal move on, masih terasa sakit akibat pasangannya selingkuh dengan orang yang lebih tampan, lebih kaya, lebih bertalenta dan yang pasti lebih perhatian. Apa daya kalau sudah seperti itu. Maka, berdoa saja.

Tapi kenapa berdoa mohon hujan? Seperti katak saja. Jangan seperti katak-lah. Lebih baik, sebagimana pesan pemimpin di negeri antah berantah itu, para jomblo lekas berdoa untuk mendapatkan pacar. Jika doa belum juga terkabul, maka berjuanglah. Jangan pasrah tak jelas, lalu berdoa agar teman yang punya pacar juga menderita. Ayo, move on dong.

Jika doa mohon hujan dikabulkan, apakah para jomblo akan bahagia? Apakah para jomblo bahagia melihat teman-teman yang punya pacara juga menderita? Ah, jangan begitu, ah!

Ingatlah, jika doa para jomblo yang minta hujan deras disertai angin kencang itu terkabulkan, maka yang menderita bukan hanya pasangan yang sedang dimabuk asmara, tapi juga warga yang tinggal di lokasi rawan banjir dan rawan longsor juga mnederita. Nah, jika hujan deras dan banjir besar itu menyebabkan warga lain juga menderita, apakah para jomblo berbahagia?

Selain berdoa dan berjuang agar dapat pacar, bukankah lebih baik jika berdoa juga demi kebahagian mereka (baca: pasangan-pasangan asmara itu, yang di dalamnya ada sang mantan). Siapa tahu rejeki akan dilipatgandakan oleh Tuhan dan segera mendapatkan pacar.   Percayalah, Tuhan pasti sayang dengan jomblo-jomblo yang rajin berdoa untuk kebaikan orang lain di muka bumi ini.

Dan penting diingat, jika para jomblo sudah dapat pacar, status jomblo pun berubah menjadi berpacaran, bila perlu langsung ke bertunangan. Jika nanti sudah punya pacar, bagaimana rasanya jika ada orang lain yang berdoa agar kita tak bisa jalan-jalan di malam Minggu akibat hujan deras dan badai kencang? (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY