Wayan Redika, Puppet Dialougue-2, 2009, Oil on Canvas, 100x120 cm

TIGA RAHASIA KELUARGA
-Cerita dari MHP

Liur Ular Papa

Di keluarga kita
Anak bujang tak pantas bersedih
Bila hanya cinta bertolak

Ke rumah tua
ke pusar rahasia keluarga

Di sana akan kau dengarkan cerita
Akan kau temukan rahasia;
Sebuah kendi berabad usia
Di dalamnya sebuah hutan kerdil
Di dalamnya ada tuan penjaga;
Ular sabuk yang melilit di setiap reranting
Dengan mulut menganga sepanjang jalan cerita

Ambil secawan saja, Putu
Ambil secawan liur
Maka sihir pemikat terbuka seketika

Usap pelan di tangan dan lekas jabatkan
Perempuan mana yang tak lekat dalam perangkap
Seperti hewan buruan beriring masuk jebakan


Arjuna Memanah

Bila benar kau telah mengenal perempuan itu
runutkan sihir pikat dengan sebiji koin
beralas perak berbadan logam bergambar arjuna memanah

Kau hanya perlu mengenggam
Seketika nyawamu akan bersilang tukar
Dengan tuah tuan Arjuna
berparas tampan rupawan

dalam pejam mata, bayangkan perempuan
lesatkan anak panah dari bebulu perindu
Bidik tepat di letak jantung

Maka hatimu akan bertaut di hulu rindu

Topeng Kuda Nguyang

Kemudian lekas tuntaskan segalanya
ikat tali benang dengan sebuah rajah topeng
berwajah kuda nguyang
Lengkap dengan sebuah mantra
rapalkan segera

Kenakan di wajahmu, kenakan
Agar padang sabana cinta terbuka
Di sana ada kuda sepasang
dalam sihir kelamin
kau berlaku seperti si jantan menebar peluh
perempuan itu, menjelma betina menahan lenguh

Maka benarlah kalian sepasang kuda
akan bersatu hingga ke kubur jasad

Begitulah kiranya
tergenapkan tiga rahasia keluarga
biar anak bujang berdendang di pucuk kasmaran

OPERA CINTA
-EFFK

Di laut lepas,
kau telah jatuh dalam umpama

Sebagai Kapiten yang jatuh cinta
Pada isteri Kelasi

Betapa kau ingin berdiam di gerai rambut perempuan itu
Menyelinap dalam helai dan memamah wangi

Betapa kau telah jatuh cinta padanya
Seperti kutu mengisap candu

Tapi bagaimana seorang lelaki, sekaligus suami
Akan selamanya memalang kuat
Bagi cinta yang datang terlambat

Kemudian lihatlah
Suaramu kian rendah

Dan ombak yang resah
Menggenapkan kesedihan
Meski di atas panggung, katamu
Cinta memang benar sekadar umpama

Tapi sorot matamu, sorot mata Kapiten
Lihatlah, ia lelaki patah hati

Dan Sebelum lampu panggung itu mati
Kukira kau terlanjur jatuh dalam teka-teki

SEBELUM MEMBACA PUISI
-Salianti RD

Di panggung itu,
penyair tua pernah membaca puisi
dengan kujur keringat di dahi

seperti berseteru dengan matahari
Si pembaca puisi
turun tangga dengan dada sakit sebagian

jika gemetar
masih lekat di tubuhmu

jangan mengulang kisah lama
si pembaca puisi
dengan keringat di dahi

lihatlah di kejauhan
aku punya sepasang bola mata
kau boleh mencurinya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY