DIDAULAT menjadi penerima hadiah Sastera Rancage tahun 2017, saya merasakan dua hal sekaligus yang bertolak belakang. Saya merasa senang, di sisi lain saya juga merasa malu.

Secara alamiah, sebagai manusia, sudah pasti saya amat senang mendapat penghargaan yang sangat bergengsi di bidang Sastra Bali Moderen, selanjutnya disingkat SBM. Bisa saya analogikan Rancage adalah nobelnya SBM.

Untuk itu, saya sangat berterima kasih kepada Yayasan Kebudayaan Rancage karena telah menghargai apa yang saya kerjakan, apa yang kami lakukan – para penulis SBM ini.

Namun, di balik rasa senang yang saya rasakan, sesungguhnya ada terselip rasa malu. Jika tak boleh disebut amat malu, ya sebut saja agak malu. Kenapa?

Pertama, saya mendapatkan penghargaan karena dinilai berjasa dalam pengembangan SBM di Bali. Berjasa? Benarkah saya berjasa?

Benar, selain menulis SBM, saya juga menerbitkan karya-karya SBM di blog yang saya kelola, Suara Saking Bali. Semua itu saya lakukan karena kecintaan saya terhadap terhadap SDM. Kecintaan untuk menuliskan, kecintaan untuk menyebarkannya.

Tapi, jasa itu belum bisa disebut besar. Jasa saya dalam pengembangan SBM sangat kecil, bahkan tak ada seujung kuku, dengan apa yang sudah dilakukan pendahulu saya, Nyoman Manda, Made Sanggra (almarhum), IDK Raka Kusuma, Made Sugianto, dan tokoh-tokoh pendahulu yang lain.

Saya mulai menulis sejak tahun 2012 dan baru dimuat di media berbahasa Bali pertengahan tahun 2013. Blog Suara Saking Bali saya buat satu tahun lalu tepatnya bulan Januari 2016, kemudian disusul dengan menerbitkan Jurnal Suara Saking Bali pada bulan November 2016 bersama teman-teman.

Bagaimana saya tidak malu. Bandingkan saja, Nyoman Manda bersama almarhum Made Sanggra dengan majalah Canang Sari dan Satua-nya sudah berjuang mengembangkan SBM sejak saya masih kecil bahkan mungkin belum lahir. Dan hingga sekarang majalah itu masih tetap ada.

Demikian juga IDK Raka Kusuma dengan sanggar Buratwangi dan majalah Buratwangi-nya. Atau Made Sugianto dengan penerbitan indie, Pustaka Ekspresi. Dibanding para tokoh yang tak bisa diragukan lagi jasa dan idealismenya di bidang SBM itu, posisi saya entah berada di mana.

Kedua, yang membuat saya malu adalah Sastera Rancage diberikan oleh orang atau lembaga dari luar Bali (lebih tepatnya yayasan dari Bandung) dan bukan orang, lembaga, yayasan, atau pemerintah Bali.

Ini tanda tanya besar bagi kita semua, khusunya orang Bali. Ada apa dengan Sastra Bali Modern? Benarkah karya-karya sastra modern berbahasa Bali itu berguna bagi kehidupan kita di Bali? Benarkah ia layak diperjuangkan?

Berbicara tentang perkembangan sastra Bali modern hari ini, kita akan menemukan penulis-penulis SBM yang berjuang keras agar karya mereka ada yang membaca, agar karya mereka ada yang meghargai. Bukan sekadar komentar “hebat”, atau “top”, atau “lanjutkan” di media sosial semacam facebook saat mereka menyiarkan karya mereka.

Kita menyaksikan bagaimana buku-buku SBM bermunculan setiap tahun dan menjadi penghias rak di toko buku karena tidak laku. Tidak laku karena pembacanya jarang. Hanya orang-orang spesial dan sangat perlu yang mau membaca buku SBM. Dan kenyataan yang saya lihat di lapangan, kebanyakan dari penulis SBM membagikan bukunya secara cuma-cuma kepada temannya. Sungguh ironis.

Saya ingat bagaimana IDK Raka Kusuma menanggapi celotehan saya: “Wenten penulis SBM baru malih Pak Dewa (ada penulis SBM baru lagi, Pak Dewa)”.

Beliau menanggapi: “Becik nika, pang ramean ajak buduh (bagus itu, biar semakin banyak yang kita ajak gila)”.

Buduh. Ya, buduh. Mungkin kata itu yang tepat untuk mewakili para penulis SBM yang masih bertahan hingga kini. Bagaimana tidak buduh? Mereka bertahan di dalam ruang yang tanpa arah dan tujuan. Mereka seperti melakukan sesuatu yang sia-sia, dan terkesan membuang waktu.

Menulis, menulis, dan menulis entah sampai kapan walaupun karya mereka tak banyak yang membaca. Hanya orang buduh yang mampu melakukan itu. Tapi itulah semangat ngayah yang selalu mereka pegang teguh.

Dari dulu sastra Bali modern seperti hidup sendiri-sendiri, seperti terpisah dari jaring-jaring kehidupan, padahal sejatinya SBM adalah bagian dari kehidupan orang Bali. SBM seperti berada di suatu daerah yang asing di tanah kelahirannya. Ia seakan kalah gengsi dengan sastra modern berbahasa Indonesia, sekaligus kalah taksu dengan sastra Bali klasik seperti pupuh dan geguritan.

Saya tahu, Nyoman Manda, Made Sanggra dan IDK Raka Kusuma, adalah orang-orang yang terlalu kuat berada di tengah sepinya gaung SBM. Mereka tetap menerbitkan majalah sembari tetap berkarya, meski hingga kini rasa-rasanya pembaca setia SDM adalah orang yang itu-itu saja.

Tapi, Tuhan seakan tak ingin SBM mati. Setiap tahun ada saja penulis SBM baru yang lahir. Di sisi lain, ada saja pembaca setia yang juga lahir, meski jumlahnya tak pernah banyak. Peran Bali Post yang menyediakan ruangan untuk karaya-karya penulis SBM, kemudian diikuti dengan Pos Bali, harus diakui menambah gairah hidup SBM di Bali, meski pengaruhnya terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali tetap belum terasa benar.

Ketika bahasa Bali diperjuangkan oleh banyak orang, dan mendapat perhatian luas yang disertai dengan keluarnya sejumlah keputusan-keputusan politik,  tampaknya hal itu tidak dibarengi dengan melejitnya gaung SBM yang secara jelas ditulis dalam bahasa Bali.

Orang-orang birokrasi dan orang-orang politik sangat jarang membicarakan sastra Bali modern, bahkan mungkin banyak yang tak kenal dan bertanya-tanya SBM itu makhluk apa. SDM tak pernah jadi trend di kalangan birokrat dan politikus, semisal tren naik sepeda, trend pungut sampah, atau trend jalan santai dan tanam pohon.

Jadi, SBM adalah dunia sunyi. Selalu sunyi dan sendiri.

Hingga akhirnya dipungut oleh orang luar lewat penghargaan Sastera Rancage. Harus diakui, penghargaan Sastera Rancage inilah sebagai salah satu pendorong semangat para penulis SBM untuk tetap bertahan. Saya jadi ingin bertanya: Kenapa sampai bisa orang luar yang lebih peduli dengan nasib SBM? Apa kita orang Bali tidak merasa malu? Bukankah itu merupakan tamparan keras untuk kita orang Bali?

Hah, sudahlah. Biarlah angin tetap berhembus, dan tetangga sebelah tetap mengoceh dan mengatakan kita adalah penulis keren. (T)

Baca juga: Made Sugianto dan Sastra Bali Modern

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY