Diki (anak dari penulis ulasan), Naya (penulis buku puisi "Resep Membuat Jagat Raya"), dan Putik Padi

Judul : Resep Membuat Jagat Raya (kumpulan puisi)
Penulis: Abinaya Ghina Jamela
Penerbit: Kabarita
Tahun : 2017
ISBN : 978-602-721139-1

Biarkan Gerbang semesta terbuka menyambutmu dengan petualangan baru

Buku “Resep Membuat Jagat Raya” membuat saya takjub. Sampulnya lukisan Kota Paris membawa angan saya ikut terbang tinggi. Setelah beberapa saat bengong menikmati lukisan itu, menimang dan membolak-balik buku yang tebalnya 81 halaman ini, barulah mulai menjelajah isinya lembar demi lembar hingga tuntas. Membaca 80 puisi Naya ini, saya merasakan dan membayangkan setiap pikiran dan pengalaman Naya dalam bait-baitnya.

Naya, sang penulis mengajak saya menjelajah belantaranya yang penuh warna. Perjalanan menjelajah dimulai dari puisi berjudul “Resep Membuat Jagat Raya”: Ambil sebutir proton yang sangat kecil/lebih kecil dari pasir/lalu lempar ke tempat yang jauh/dan meledak lebih hebat dari letusan gunung merapi.

Puisi ini bercerita tentang ledakan dahsyat atau dentuman besar di mana gumpalan superatom meledak memuntahkan isi alam semesta. Big bang melepaskan sejumlah energi di alam semesta yang akhirnya membentuk materi alam semesta. Debu dan awan hidrogen membentuk bintang dan planet-planet serta meteor. Maka lahirlah jagat raya yang indah.

“Aku melihat bintang berkerlap kerlip/ seakan mata yang cerah aku melihat garis hijau serupa kereta yang panjang /bulan seakan semangka perak/meteor-meteor berlingkaran persis mahkota batu di istana.”(Luar Angkasa)

Kemudian Naya mengajak saya berpetualang dengan isi jagat rayanya. Di dalamnya ada makanan kesukaannya : wafer, es krim, selai jeruk, roti lapis dan mi. Ada pula cerita dari buku-buku yang dibaca Naya, film yang ditonton Naya : Arlo, Dori, Dewa Mesir dan Hachiko.

Ada pula naga, putri duyung, tentang cita-cita menjadi penulis, tentang isi laut, tetumbuhan, hewan dan masih banyak lagi. Dalam jagat rayanya, saya diajak mencicipi berbagai rasa, menikmati berbagai momen, berkelana dengan liar imajinasinya yang bahkan menurut saya melampaui usianya.

“Dengan muka menyeramkan ia memasuki tubuhku lewat mulutku/ mengubahku menjadi hitam/ lalu keluar seperti air yang hitam.” (Babadok)

Puisi Naya tak hanya tentang celoteh kanak-kanak yang lucu namun juga tentang kepekaan terhadap lingkungan sosial. Seperti pada puisi yang berjudul “Budak” : Mengapa hidup mereka menyedihkan?/ Apakah karena kulit mereka hitam atau cokelat ?/ Dan orang Eropa menganggap mereka hewan dan dijadikan budak Eropa/ Tetapi bukankah itu tidak diperbolehkan, dijadikan budak?

Selain puisi di atas, puisi berjudul “Catatan Tentang Hutan” bercerita tentang lingkungan alam sekaligus persahabatan yang indah antara gajah, Mowgli, serigala dan macan kumbang.
“Tak ada tempat seindah hutan/ para serigala mengajari Mowgli seperti ayah dan ibu pada anaknya/ Dan Mowgli anak manusia yang pintar/ Ia menjelajah hutan bersama macan kumbang dan sekawan serigala kecil.”

Perjalanan menjelajah masih berlanjut. Setelah bereksplorasi dengan lingkungan, Naya juga tak lupa untuk memperhatikan tubuhnya. Sebab menjaga kesehatan tubuh juga sangat penting.

“Kepalaku sebulat telur
Rambutku selurus kabel listrik….
Kukuku jendela bertirai warna-warni bernama kutek. Sayangnya aku sakit. Sekarang aku akan menjaga tubuhku.” (tubuhku)

Naya juga menulis kesan dan perasaannya saat mendapat hadiah dari orang tercinta, perjumpaannya dengan beberapa penyair juga tentang mimpi-mimpi yang ingin ia gapai. Perjalanan menjelajah jagat raya Naya diakhiri dengan manis lewat ajakan untuk menyayangi lingkungan.

“Sampah seperti semut, juga bisa seperti beruang. Jika dicium baunya membuat hidung sakit. Makanya aku akan selalu membuang sampah di tempatnya. Ingat, jangan buang sampah sembarangan. Sayangi lingkungan!“

Pertemuan demi pertemuan dengan siapapun dan dengan apa pun merupakan pengalaman yang menarik bagi Naya. Setiap momen ia abadikan menjadi sebentuk puisi yang indah. Dalam puisi-puisinya yang kritis saya dapat merasakan kental sifat alami anak-anak. Seperti anak-anak pada umumnya yang penuh dengan rasa ingin tahu yang besar, yang selalu menikmati setiap momen, selalu ceria berada di masa kini (present) dan penuh dengan imajinasi dan ide.

Segala warna ada dalam jagat raya Naya. Sikap kritis Naya terasah dengan baik melalui pendampingan dan pemberian stimulus/ rangsangan yang tepat. Sungguh betapa kayanya jagat raya Naya. Jagat Raya Naya bukan hanya untuk dirinya namun juga untuk kita semua.

Akhir kata, semoga jagat raya Naya dapat memberi inisiasi bagi anak-anak untuk menyelami dunia melalui puisi juga bagi hadirnya jagat raya-jagat raya lain dari tangan-tangan mungil di tanah ini.

Semoga Jagat raya Naya dapat memberikan inspirasi bagi siapa pun bahwa begitu penting kita memperkenalkan, membuka jalan dan memberi tauladan tentang seni berbahagia pada anak-anak. Puisi adalah salah satu jalan untuk mengajarkan seni berbahagia kepada mereka (baca: anak-anak).

Dan akhirnya melalui puisi mereka belajar bagaimana tetap berbahagia dalam himpitan cobaan, bagaimana memiliki kebebasan dalam pekat tekanan dan memulai perjalanan ke dalam diri untuk menemukan dirinya. Sehingga mereka akan tumbuh menjadi generasi yang daya ketahanmalangannya (adversity quotient) tangguh dan kuat.

Teruslah berkarya Naya, tumbuhlah Naya-Naya yang lain. Ciptakan jagat rayamu. Bereksplorasilah dalam jagat raya yang kaya. Biarkan gerbang semesta terbuka menyambutmu dengan petualangan baru. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY