Foto: FB/Cok

BERITA tentang lumpuhtotalnya jalur raya Singaraja-Denpasar di situs tatkala.co ini bukanlah berita pertama. Sejak Sabtu 11 Februari pagi, situs berita online sudah terlebih dahulu memberitakanya bahkan dengan data yang amat lengkap.

Data lengkap, termasuk foto-foto kejadian, di zaman canggihnya teknologi komunikasi saat ini memang sangat memanjakan wartawan. Bahkan berita sudah bisa diketik sebelum motor distarter ke lokasi bencana. Akibatnya, warga bisa dengan cepat mendapat informasi.

Jauh lebih subuh lagi, bahkan sejak Jumat 10 Februari malam, sejumlah laman facebook sudah dipenuhi postingan berita (5W1H) lengkap dengan foto. Para pengunggah tulisan singkat danfoto itu bahkan lebih kreatif: misalnya berisi tambahan pesan, tambahan informasi jalur alternatif, meski ada juga tambahan kata-kata kekesalan.

Sejumlah titik di jalur Singaraja-Denpasar mengalami longsor. Ada dua jenis longsor. Longsor pada tebing di bagian atas, sehingga tanah bercampur air disertai pohon luruh menimbun jalan. Jalan dipenuhi lumpur bahkan sampai setinggi roda sepeda motor. Itu terjadi bukan hanya di wilayah Gitgit, Buleleng, namun juga di kawasan ramai Bedugul, Tabanan.

Lalu ada longsor yang terjadi di tepi badan jalan. Longsor ini membuat jalan tergerus ke jurang. Jika gerusan terjadi melebihi setengah badan jalan, tentu saja tak ada satu kendaraan pun yang berani lewat. Longsor seperti ini terjadi di wilayah Pangkung Bangka, dekat patung monumen perjuangan.  Ada juga beberapa titik di jalan tepi Danau Buyan, yang jika lewat di jalan itu pengendara harus super hati-hati.

Semua kondisi itu, Sabtu 11 Februari ini, membuat jalur itu lumpuh total. Pengendara yang hendak menuju Denpasar dari Singaraja, atau sebaliknya disarankan melewati jalur Seririt-Pupuan-Tabanan. Ada juga warga yang dengan penuh waspada lewat jalur Gobleg-Selat-Singaraja.

Petugas dari pemerintahan tentu saja sudah bekerja maksimal dibantu oleh warga sekitar di lokasi kejadian. Namun hujan tampaknya belum reda, bencana harus terus diwaspadai. Apalagi, jalan yang tergerus tentu saja tak bisa diperbaiki dalam waktu yang cepat.

Pesan yang paling sakti: tetap hati-hati.

Sekali lagi, ini bukan berita pertama. Maksudnya bukan semata karena telat jika dibandingkan dengan berita-berita yang sudah lebih dahulu disiarkan media online sejak kemarin malam. Tapi berita seperti ini sesungguhnya bukan berita pertama sejak puluhan tahun lalu.

Sejak sepuluh tahun lalu misalnya, berita semacam ini, dengan jenis yang sama, mungkin juga dengan judul dan lead yang sama, sudah berkali-kali diberitakan di media massa.

Artinya, jika dibandingkan dengan jalan utama lain yang menghubungkan antarkabupaten di Bali, mungkin jalur Singaraja-Denpasar sudah menyumbang puluhan judul berita yang mirip:  “Longsor, Jalur Singaraja-Denpasar Lumpuh Total”

Beberapa kejadian besar yang disertai korban jiwa mungkin masih diingat dengan mudah. Misalnya, longsor besar di wilayah Pancasari. Bukit tinggi di sebelah timur Danau Buyan bagian agak ke selatan longsor, awal tahun 2002. Menyebabkan mobil bersama penumpangnya tertimbun.

Beberapa tahun lalu, tepatnya Februari 2013, dua warga Gitgit meninggal karena tertimpa longsor. Warga itu memang tinggal di sekitar kejadian. Mereka membantu membersihkan jalan yang tertimbun longsor agar kendaraan bisa lewat dengan aman. Tapi saat membersihkan tanah di jalanan, tebing di bagian atas kembali longsor dan dua warga itu tertimbun hingga tergerus ke jurang.

Berita-berita yang mirip dengan skala lebih kecil hampir puluhan kali menghiasi media massa. Ini berarti, sejak puluhan tahun, belum ditemukan resep yang ampuh untuk mencegah jalur itu dari bencana longsor.

“Namanya bencana, kita tak bisa tahu kapan terjadi”.  Kita bisa berucap seperti itu. Tapi bukankah peristiwa yang terjadi berkali-kali, di tempat yang sama, dengan jenis yang sama, bisa dijadikan pelajaran untuk menemukan cara penanggulangan yang tidak sama? (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY