RIBUT-ribut soal logo palu-arit (logo PKI) di Jakarta tampaknya membuat warga di Buleleng, Bali utara, penasaran. Ketika Bank Indonesia (BI) Perwakilan Denpasar melakukan road show keliling di sejumlah pasar untuk mengenalkan wajah uang baru di Buleleng, Kamis 2 Februari 2017, sejumlah warga menerawang lembar uang baru itu dengan wajah ingin tahu.

“Encen teh gambar palu-arit? Beh, sing mirip arit jak palu. Ngae-ngae den!” kata seorang warga di pasar Desa Tamblang, usai menerawang lembar uang baru itu. Artinya: “Mana sih gambar palu-arit? Ah, tak mirip arit dan palu. Bikin-bikin saja!”

Tak hanya memperkenalkan uang baru, di pasar-pasar itu BI juga melayani penukaran uang emisi baru. Kegiatan itu pun diserbu masyarakat. Selain banyak yang penasaran dengan tampilan emisi baru, sejumlah warga juga penasaran terhadap kebenaran tentang logo palu-arit yang diributkan di Jakarta.

Penukaran uang itu dilakukan di sejumlah lokasi yang ada di Kabupaten Buleleng. Di antaranya di Pasar Banyuasri, Pasar Desa Tajun, Pasar Desa Tamblang, Pasar Desa Sangsit, serta Pasar Anyar Singaraja.

Warga yang menerawang logo pada uang rupiah tampilan baru itu seakan membuktikan bahwa gaduh di Jakarta menjadi perhatian warga, bukan hanya warga Jakarta, melainkan juga warga di luar Jakarta, hingga ke pelosok pedesaan. Betapa belakangan ini masyarakat jauh di pelosok disuguhi berita dan wacana yang sesungguhnya tak berhubungan dengan hidup mereka.

Yang menarik, tak banyak warga memiliki perhatian besar terhadap wajah pahlawan nasional, Mr. I Gusti Ketut Pudja yang tertera pada uang logam Rp. 1.000. Padahal pahlawan nasional itu berasal dari Buleleng. Pudja adalah mantan Gubernur Soenda Ketjil yang ikut terlibat dalam perjuangan merebut dan mempersiapkan kemerdekaan bersama dengan tokoh proklamator di Jakarta tahun 1945.

Tak ada juga yang meributkan digantinya gambar pahlawan I Gusti Ngurah Rai dengan pahlawan lain pada lembaran uang Rp. 50.000. Urusan protes atau ribut soal logo dan gambar pahlawan mungkin mereka anggap sebagai urusan orang-orang “pintar” semacam politikus atau intelektual yang tak punya kerjaan.

Ketua Tim Kas Keliling Bank Indonesia Perwakilan Denpasar, Kadek Budi Arsana, mengatakan, kegiatan itu sengaja dilakukan agar uang rupiah emisi baru lebih cepat dikenal oleh masyarakat, hingga ke pedesaan. Selain itu Bank Indonesia juga menarik uang-uang yang kategorinya tidak layak edar, sebagai bentuk clean money policy.

“Kami ingin agar uang rupiah emisi baru ini dikenal sampai ke desa-desa. Kami juga sampaikan, uang emisi lama tetap berlaku selama belum ada pengumuman ditarik oleh Bank Indonesia,” ujarnya. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY