Foto diambil dari http://www.baliutd.com

KEDATANGAN Irfan Haarys Bachdim (28) disambut pecinta sepak bola Bali. Fans suporter Bali United tersenyum lega, penonton pun bercakap-cakap tentang sosok Irfan Bachdim. Kepiawian mengolah bola di atas rumput Stadion Kapten Dipta, Gianyar, dan juga ketampanan rupa menjadi magnet tersendiri. Pemain kelahiran Amsterdam, 11 Agustus 1988 lalu ini bak mengobati sosok “bintang” yang dinanti. Ya nyaris selama ini skuat Bali United tanpa ada nama tenar. Habitus, ya Bachdim.

Di awal-awal pembentukan skuat Bali United 2014 lalu, memang ada nama pemain terkenal. Seperti dua pemain Korea Selatan yaitu kiper Persipura Jayapura Yoo Jae Hoon dan bek Daewon Ha. Namun kedua pemain tersebut hanya seumur jagung di tim yang awalnya berlebel Bali United Pusam ini.

Jae Hoon memutuskan balik ke negeri Gingseng karena hiruk-pikuk PSSI, sedangkan Daewon memutuskan angkat koper karena cedera. Lalu pemain Timnas Indonesia Bayu Gatra menjadi ikon klub berjuluk Serdadu Tridatu ini. Seperti dua nama sebelumnya, meski mengaku betah di Bali, Bayu akhirnya memutuskan hengkang dengan alasan kabarnya tak cocok nilai kontraknya.

Pelatih Coach Indra Sjafri bak ‘penyelamat’ karena lebih dulu terkenal daripada pemain-pemainnya. Coach Indra pun menjalankan peran sebagai top figur Bali United. Ia tak segan-segan datang undangan-undangan di luar lapangan. Menemui dan menghadiri turnamen yang diadakan Semeton Dewata (suporter Bali United), berkunjung ke panti asuhan, mengembangkan ilmu grass root di sekolah, dan selalu welcome dengan siapapun. Bali United mampu ekspansi ke Nusa Tenggara Timur (NTT).

Nah, pasang surut suasana dan kondisi sepak bola Indonesia akibat sanksi FIFA, praktis hanya digelar turnamen. Mulai Piala Presiden, Piala Panglima TNI, Bhayangkara Cup 2016,  hingga Indonesia Soccer Cup (ISC) 2016. Dalam mengarungi turnamen ini belum ada ikon tenar di tubuh Bali United. Usaha manajemen pun mencoba mendatangkan pemain kaya pengalaman dan asli Bali. Minimal mampu meluapkan emosi rasa memiliki dengan memulangkan I Gede Sukadana dari Arema Cronus.

Kini di 2017 tepatnya setelah Kongres Tahunan PSSI di Bandung beberapa pekan lalu ada asa kompetisi sepak bola Indonesia. PSSI sebagai induk organisasi bola kaki ini memutuskan akan menggelar kompetisi resmi awal Maret nanti. Sebanyak 18 klub peserta mencari pemain-pemain potensial secara permainan dan bisnis, termasuk Bali United.

Satu per satu pemain yang dianggap “kakak” Persib Bandung direkrut. Ada gelandang teman dekat Andik Vermansyah yaitu M Taufik pun teken kontrak dengan Bali United. Lalu Yandi Sofyan dan Diaz Angga menyusul di hari berikutnya. Beberapa hari berikutnya striker gaek Samsul Arip, namun gagal dengan alasan tak lolos tes medis.

Isu dan kabar Irfan Bachdim akan berlabuh ke Bali United begitu santer berembus. Apalagi klub besar Arema FC juga berebut ingin memakai jasa suami Jennifer Kurniawan ini. Arema FC tak malu-malu menyebutkan hitungan keuntungan bisnis jika merekrut pemain yang identik nomor punggung 17 ini.

Tiba yang dinanti, tepat di hari purnama, Kamis 12 Januari 2017, Bachdim diperkenal pemain sah Bali United. Sambutan dan kabar tersiar di mana-mana hingga sempat menjadi trending topic pada hari itu.

Meminjam istilah Pierre Bourdieu, Bachdim menjelma pesona habitus. Dalam KBBI, habitus/ha·bi·tus/ berarti bentuk badan, perawakan. Memang, tak perlu diragukan lagi bagaimana daya tarik perawakan seorang Bachdim.

Dalam teori Bourdieu yang menjembatani objektivisme dan subjektivisme terletak pada konsepnya mengenai habitus dan medan. Habitus memproduksi dan diproduksi oleh dunia sosial. Habitus juga membantu mempersatukan dan membangkitkan tim.

Secara perawakan, Bachdim tentu telah mampu memberikan pertimbangan yang digunakan orang untuk menentukan pilihan dan memilih strategi yang akan digunakan. Bachdim di atas lapangan pun mampu membangkit semangat tim. Ia termasuk tipe pemain yang ngotot. Di luar lapangan jangan di tanya lagi.

Di awal bergabung Timnas Indonesia pada piala AFF edisi 2010 lalu, ia dielu-elukan suporter Indonesia. Ia menjadi bintang iklan  seperti Indomobil Suzuki Motor, Nike Sports, dan Otsuka Pocari Sweat bersama istrinya. Ia juga membintangi iklan di Malaysia yaitu Mamee Starbucks Coffee (bersama Mikha Tambayong dan Maudy Ayunda).

Sedangkan medan seperti suatu jaringan relasi antarpendirian objektif atau medan suatu medan perjuangan. Bisa dikatakan pasar terbuka yang kompetitif. Dalam sepak bola hal yang wajar persaingan antar klub, baik secara kualitas maupun bisnis. Tim akan bertaruh segala modal di kompetisi menjadi yang terbaik. Ada modal yang dipertaruhkan arena medan yaitu modal ekonomi, simbolik, budaya, dan sosial.

Irfan Bachdim pun bisa jadi penentu sebagai hakikat habitus dengan segala modal yang dimilikinya. Nah, patut kita tunggu kiprah pesona habitus Irfan Bachdim dalam medan kompetisi sesungguhnya. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY