Foto: Rudi Widayat

MANUSIA adalah makhluk yang tak pernah puas dengan kenikmatan duniawi. Berbagai hal yang sudah ada sampai saat ini belum mampu memuaskan hasrat hidup manusia. Selalu saja ada hal yang baru yang diinginkan untuk dimiliki atau dinikmati. Oh, manusia. Betapa rakusnya engkau.

Kama yang ada pada diri manusia memang sangat sulit untuk ditangani. Kama atau nafsu ini sebenarnya mampu mengantarkan kita ke dua hal, baik dan buruk. Jika kama ini diserahkan untuk melakukan hal-hal yang baik, maka akan terwujud sesuatu yang baik pula, begitu pula sebaliknya, kama untuk nafsu yang buruk tentu tidak akan mendapatkan hal baik lagi.

Salah satu nafsu manusia di akhir tahun adalah pesta kembang api. Ya, memang ini seru sekali dari perspektif kesenangan.

Dulu, ketika kecil saya sering diajak membeli kembang api, namun kala itu yang dibeli hanya yang seperti dupa, yang dipegang di tangan yang kemudian keluar percikan-percikan api kecil. Kembang api jenis itu saat ini ternyata masih beredar.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi kembang api pun banyak jenisnya, mulai dari yang berputar-putar di tanah hingga yang mencuat ke angkasa, memberi efek ledakan dan percikan cahaya indah. Kemudian bau angit atau bau asap sisa-sisa pembakaran juga ikut menyebar. Ya, itu polusi sebenarnya.

Tahun baru adalah momentum paling bersejarah bagi semua orang: presiden, menteri, gubernur, bupati, artis, ABG, dan jenis-jenis manusia lain. Momentum yang paling ditunggu-tunggu untuk dirayakan dengan sebotol minuman bertabur bintang. Ya, memang sudah tradisi di mana-mana.

Dulu ketika saya masih tinggal di kampung, tradisi ini begitu kental, begitu semarak. Tradisi minum sambil menunggu pergantian tahun dan pesta kembang api yang kadang menelan korban, terutama korban uang.

Bagi mereka para Bapak dan Ibu sekalian, akan begitu pahit rasanya ketika terpaksa menolak membelikan anaknya kembang api. Terlebih anak-anaknya berumur di bawah 10 tahun. Kalau orang Bali bilang, “jelek asane panake sing meblanje”. Ya, memang kasian anak-anak di kala melihat anak-anak lain tengah asik bermain kembang api dengan gembira.

Meski banyak orang bilang, main kembang api seperti ’membakar-bakar uang’, akhirnya isi dompet pun keluar minimal 5 ribu perak untuk 1 plastik yang isinya 5 pcs kembang api. Belum lagi yang tipe lain yang ledakannya di tempat dan lebih dahsyat. Atau yang punya uang lebih banyak langsung membeli yang bisa dilontarkan ke langit jauh, bak roket yang akan meledakkan dirinya sendiri.

Jadi, “menyalakan kembang adalah kegiatan bakar-bakar uang” adalah perspektif klise yang akan terus terdengar pada setiap pesta Tahun Baru. Namun di sisi lain, langit tetap juga dihias kembang api warna-warni yang dinyalakan bukan hanya oleh kaum kaya, tapi juga kaum pas-pasan.

Karena kepuasan tentu terasa, ada dan nyata. Jiwa dan rohani terasa terpuaskan ketika memegang kembang api dan melihat kilauan cahaya yang memanjakan mata. Wah, begitu indah seperti bintang. Wajar seperti bintang karena dilontarkan di langit. Coba dilontarkan ke arah bawah atau samping. Entahlah apa jadinya.

Mungkin bagi mereka kaum kaya, pesta kembang api merupakan hal biasa yang tak sampai menguras isi dompet mereka atau istilah Balinya  sing je kepeh pe bucun umahe. Namun, bagi mereka kaum pas-pasan, uang itu mungkin akan lebih berharga jika dibelikan beras untuk hari esok dan lusa agar Tahun Baru tak terasa semakin pahit.

Memang beda status sosial beda rasa dan beda sensasi dalam menikmati sesuatu. Hanya terkadang gengsi memaksa mereka berada pada kondisi yang sama untuk beberapa saat, dan usai Tahun Baru mereka kembali seperti semula: kaum kaya makin kaya dan kaum pas-pasan semakin terpinggirkan.

Semoga pada tahun 2017 hidup tak sesulit tahun tahun sebelumnya. Cheers. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY