Foto: Mursal Buyung

TAHUN baru 2017 tinggal mengitung jam. Entah apa yang spesial pada pergantian tahun kali ini, mengingat rasanya sama saja pergantian tahun dari tahun ke tahun. Kembang api, terompet, pertunjukan, hingga aksi mabuk-mabukkan, tampaknya akan kembali hadir menghiasi layar pergantian tahun kali ini.

Fisik, maupun mental, sudah disiapkan sejak awal untuk merayakan tahun baru. Seperti nya, bagi sebagian orang, malam tahun baru ibarat malam penghabisan.

Dari sekian banyak hal yang disiapkan, sebuah resolusi baru tampaknya tidak pernah absen dalam daftar persiapan setiap orang. Tahun baru, resolusi baru.

Resolusi dalam hal ini bukanlah istilah yang digunakan untuk menyatakan jumlah titik atau pixel yang digunakan untuk menampilkan suatu gambar gembira di tahun baru, melainkan sebuah kepercayaan diri dan tekad atau semangat dalam mencapai tujuan, harapan, cita-cita atau bisa juga planning yang akan seseorang capai setahun ke depan.

Resolusi ini seolah-olah menggambarkan tentang apa jadinya seseorang, akan menjelma apa seseorang, dalam satu tahun ke depan. Harapan dan cita-cita mereka lukiskan dalam bingkai kata-kata penuh makna. Tentu saja, resolusi setiap orang berbeda-beda. Tidak mungkin persis sama antara satu orang dengan orang lain. Mungkin hal itu didasarkan pada kemampuan setiap individu dalam menjalani resolusi itu sendiri .

Namun, dalam prakteknya, resolusi tahun baru ini biasanya jatuh seperti “anget-anget tai ayam”, yang anget waktu pertama keluar saja. Tidak sedikit orang yang hanya sekadar memamerkan resolusi mereka dalam bentuk tulisan status di sosial media. Akhirnya, tulisan-tulisan resolusi tahun baru itu hanya akan menjadi sisa-sisa yang terlupakan, menjadi sampah kata-kata di dunia maya.

Makanya, agar tak jatuh jadi sampah dunia maya, hendaknya dipikir matang-matang ketika hendak membuat sebuah resolusi di tahun yang baru. Tidak usah berambisi jika tidak bisa mengisi ambisi itu sendiri. Banyak orang hanya bisa berambisi tapi sedikit yang bisa pegang janji. Mengukur kemampuan diri hendaknya dilakukan agar nanti tidak susah sendiri. Paling tidak, agar nanti tidak menanggung malu di hadapan orang-orang yang terlanjur mengetahui atau membaca “status resolusi” kita di sosial media.

Contohnya, resolusi tentang menurunkan berat badan dalam waktu 100 hari kerja di tahun yang baru. Namun ketika sudah lewat 100 hari sejak tahun baru berlalu, badan tetap bongsor tak ada tanda-tanda berat badan melorot. Dengan begitu, maka pasti ada sedikit rasa malu dalam diri. Apalagi sudah terlanjur promosi besar-besar bahkan jadi viral tentang resolusi itu di tahun baru.

Mungkin resolusi ini hanya trend musiman. Cukuplah menjadi labil. Namun, jika benar-benar serius, mengapa kita tidak merefleksi diri saja? Mengevaluasi diri dan menilai diri sendiri tentang apa yang telah kita lakukan selama ini. Terlalu banyak dosa yang kita perbuat di tahun sebelumnya. Terlalu banyak ’hutang’ yang kita sisakan. Itu saja belum selesai.

Refleksi diri menjadi penting ketika kita memang ingin mengubah diri di tahun mendatang.

Tak usahlah kita menargetkan hal-hal luar biasa di luar kemampuan kita. Apalagi hal itu hanya candaan atau gengsi belaka. Cukup hal-hal sederhana yang tampaknya bisa membuat hati kecil kita bahagia. Resolusi, atau apapun itu namanya, akan menjadi lebih indah jika diambil dari hasil-hasil refleksi dalam diri kita sendiri.

Tak usah membuat resolusi untuk satu tahun jika refleksi diri dari hari ke hari saja kita masih kurang. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY