Foto: koleksi penulis

17 Desember adalah Hari Ulang Tahun (HUT) PRSSNI. Awalnya memiliki kepanjangan Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia. Namun kemudian diubah menjadi Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia. Pada masa tahun 1970-an hingga awal tahun 1990-an, siaran radio benar-benar digemari masyarakat dari desa hingga perkotaan.

Radio seakan menjadi satu-satunya media hiburan dari ranah elektronik, sebelum stasiun TV menjamur dan kini dunia maya menyerang. Jika kini Anda berusia 30 hingga 50-an tahun, Anda mungkin punya nostalgia indah yang berkaitan dengan radio. Banyak juga slogan anak muda dan ikon suatu daerah diperkenalkan dengan efektif oleh dunia radio, seperti sebutan Kota Pelangi untuk Kota Tabanan. Ini salah satu tulisan tentang dunia radio di Tabanan…

 

SEJAK lama kota Tabanan popular dengan sebutan “Kota Pelangi”. Belum diketahui sumber yang jelas, kapan dan siapa sesungguhnya pencetus awal sebutan Kota Pelangi untuk Kota Tabanan itu.

Populernya sebutan Kota Pelangi tidak bisa lepas dari peran lembaga penyiaran radio yang ada di kota Tabanan. Masyarakat Tabanan pasti masih ingat sejak tahun 1970-an hingga 1980-an “Kota Pelangi” Tabanan kerap disebut-sebut oleh semua penyiar radio saat bersiaran, menyapa penggemar di kota hingga di pelosok desa.

Menurut salah satu sumber dan pelaku penyiaran kelahiran Tabanan, Bisma Putra, dijelaskan bahwa tahun 1971 saat ia masih sangat belia, sudah aktif utak-atik peralatan radio bersama teman, tetangga dan kerabatnya.

Pada pertengahan   tahun 1970-an saat duduk di bangku SMP kelas satu Bisma sudah menjadi penyiar aktif pada radio amatir dengan nama udara “Radio Mercury71” yang dipancarluaskan dari salah satu sudut gedung kompleks Dodik Kediri Tabanan. Bisma menyebutnya Radio Mercury sebagai radio mainan. Kurun waktu yang sama muncul juga “komunitas radio Pelangi” di kota Tabanan (Sakenan Baleran).

Tahun berikutnya Bisma Putra mengembangkan Radio Mercury dan mendirikan radio swasta komersial (AM) dengan nama Radio Megantara (1976). Pada awal-awal bersiaran di Radio Megantara (sempat beberapa kali pindah lokasi stasiun), Bisma selalu menyebut Kota Pelangi saat bersiaran, untuk menyebut Kota Tabanan.

Radio Megantara ini pun beberapa kali mengalami “perombakan” karena ada perubahan kebijakan perijinan dan pengkanalan frekwensi dari AM ke FM oleh pemerintah.

Pada tahun 1980-an di Tabanan berdiri juga radio lain yaitu Radio ALBA. Praktis dua radio inilah yang selalu menggunakan sebutan “Kota Pelangi” pada setiap kali bersiaran dari Kota Tabanan, sehingga sebutan Kota Pelangi dikenal luas hingga seluruh Bali.

Adanya perubahan sosial dan kultur dunia penyiaran adalah salah satu penyebab sebutan kota pelangi rada-rada memudar di ambara (udara). Berkembangnya sarana transportasi, menyebabkan masyarakat Tabanan sempat “berkiblat” ke lembaga penyiaran yang ada di Denpasar yang lebih dahulu berkembang dengan jangkauan yang lebih luas.

Dalam beberapa waktu sebagian masyarakat Tabanan ke Denpasar atau bekerja di Denpasar terkesan lebih bergengsi. Biasanya masyarakat Tabanan menyebutnya “luas ke Badung” (maksudnya: pergi ke Denpasar).

Ketika ditanya apa sebenarnya filosofi dan spirit Kota Pelangi? Bisma Putra menuturkan, bahwa sebutan Kota Pelangi karena hal itu adalah cerminan sekaligus kebanggaan, bahwa Kabupaten Tabanan atau Kota Tabanan memiliki kondisi alam yang sejuk, masyarakat kota yang penuh toleransi, sejahtera, damai dan penuh keakraban. Selain juga Tabanan biasa disebut kota hujan dan sering terjadi peritiwa alam “bianglala atau pelangi” di ambara (angkasa).

Saat itu, kata Bisma, tidak sedikit para muda dan mudi Tabanan “bertemu jodoh” alias “mekunyit di alas” karena kenal melalui siaran radio. Juga penggemar dari pelosok desa datang ke studio membawa buah-buahan dan oleh-oleh. Bahkan terbentuk komunitas penggemar yang eksis dengan berbagai kegiatan sosial.

Dalam sejarah organisasi PRSSNI, Bisma sempat terpilih menjadi ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Bali (1999-2002). (T)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY