Foto: Muchlis/kemenpora.go.id

STADION Pakansari, Cibinong merah merekah. Tibalah sudah teater klimaks harapan publik Indonesia pada tim nasional sepakbola kesayangan. Musuh kuat di pelupuk mata. Tim Gajah Putih seputih salju (alay akibat komentator nyeleneh), Thailand adalah ujian akhir.

Masih terngiang di benak saya betapa hebatnya permainan Thailand kala melibas Myanmar di leg kedua semifinal. Mereka komplit; skill individu, organisasi dan kolektivitas, menyerang dan bertahan sama baiknya. Terasa begitu jauh di atas timnas kita.

Sudah terbukti pula ketika mereka mengalahkan Indonesia 4-2 pada fase grup. Akan tetapi sepakbola tetaplah bukan hitungan matematis. Bola memang bundar bulat, bukan trapesium apalagi belah ketupat, bukan pula belah duren. Ia bisa menggelinding liar, lantas menimbulkan kegalauan mendalam atau justru kegirangan pada makhluk-makhluk yang mempermainkannya.

Kemampuan tim dan strategi memang hakiki, namun semua hal tentu ada ‘faktor-X’ nya. Selama mau berjuang, selama masih punya keyakinan, tak ada yang tak bisa digapai. Semua terpampang nyata ketika kita bisa menyingkirkan Vietnam. Jiwa-jiwa nasionalisme itu berpacu.

Terus terang saja, di sepanjang laga, saya merasa permainan Thailand tak segila biasanya. Cenderung biasa-biasa saja, meski tak bisa dipungkiri mereka tetap unggul dalam kolektivitas. Barangkali terpengaruh atmosfer stadion yang membahana. Meski begitu, Thailand unggul jua lebih dulu via Teerasil Dangda.

Hati terenyuh, seisi stadion bungkam. Indonesia yang kehilangan Andik Vermansah yang menderita cedera di awal babak pertama, terus tertekan. Komentator televisi itu mengoceh, “Indonesia jadi bulan-bulanan bahkan tahun-tahunan”, “peluang emas bercampur intan permata sirna sudah”… Sial, komentar dari planet macam apa itu!

Saya lantas tak mengerti, ‘taksu’ apa yang dipunyai pelatih Riedl. Ia selalu sukses mengubah mood para pemain. Terbukti di babak kedua, Indonesia justru berhasil memperbaiki permainan dan mencetak gol secara meyakinkan melalui winger Rizky Ripora dan bek Hansamu Yama Pranata. Indonesia menang 2-1.

Sungguh, demi Tuhan, sampai di sini saja sudah begitu membanggakan hati. Wajar pula bila tangis para pemain khususnya Rizky dan Hansamu meledak. Kabarnya Irfan Bachdim yang absen sejak awal turnamen akibat cedera juga menangis sesenggukan. Perjuangan, kerja keras, nasionalisme tanpa memandang suku, agama dan ras, ini patut disyukuri dan dibanggakan.

Saya tak peduli berapa bonus material yang akan diterima para pemain nantinya. Semangat kentara yang ditransfer tanpa Bluetooth ke hati dan jiwa tiap warga NKRI, itu yang penting. Warga NKRI jadi melupakan apa agama mereka, apa suku dan ras mereka. Yang penting: Semangat Timnas, Semangat NKRI.

Presiden Jokowi yang sedang berada di Iran tak ketinggalan menyaksikan via laptop dan mengucapkan selamat lewat Twitter.

Euforia serasa membikin demam tanpa berdarah, kendati darah tersirap kala menyaksikan perjuangan tim. Bak hujan sejuk di musim kemarau, kemenangan ini terasa-rasa menjadi obat jiwa di negeri ini. Negeri yang dikungkung pekatnya situasi politik, isu agama yang sesungguhnya begitu berbahaya, terorisme dan degradasi moral yang massif.

Paham cocoklogi lantas bertebaran. Chile yang berkostum merah menjuarai Copa America Centenario 2016, Portugal yang berkostum merah juara Euro 2016. Indonesia juga berkostum merah dan sedang menjalani partai final piala AFF 2016. Jadi? Portugal menang menghadapi Perancis yang berkostum biru di final Euro dan menang. Indonesia juga menghadapi Thailand yang berkostum biru di final AFF.

Jadi? Pemain andalan Portugal, Cristiano Ronaldo cedera di awal laga dan seakan memupuskan harapan untuk menang. Pemain kunci Indonesia, Andik Vermansah juga cedera di awal laga. Jadi? Aaahhh, sudahlah. Bagi saya, cocoklogi yang paling tepat yakni; Para pemain Portugal punya kepala, badan, tangan dan kaki. Pemain Indonesia juga sama. Jadi juga bisa menang. Serius!

Meski tidak bisa dibilang santai karena masih ada leg kedua yang berat di Thailand nanti, namun pencapaian sejauh ini sudah sangat luar biasa dan patut diapresiasi. Pendukung sejati adalah gembira dan bangga ketika menang, dan tidak menghujat ketika kalah.

Sekali lagi, tak peduli hasil di leg kedua nanti, tak peduli Indonesia akan jadi juara atau tidak, saya tetap bangga. Namun doa selalu terucap: Semoga Timnas Indonesia Juara AFF tahun ini. Bravo! (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY