SEBAGAI mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas yang bergerak dalam bidang keguruan, tentu “kegiatan mengajar” tidak lagi asing di telinga mereka. Bahkan “kegiatan mengajar” akan selalu mewarnai berbagai unsur mata kuliah yang mereka dapatkan di kelas. Tujuan, tentu saja agar mereka semakin terbiasa dengan “kegiatan mengajar”.

Menginjak ke semester enam, mahasiswa akan diperkenalkan dengan sebuah mata kuliah berbobot 4 SKS. Mata kulaih itu akrab disebut Microteaching. Micro berarti ‘kecil’ dan Teaching berarti mengajar. Arti keseluruhannya “mengajar dalam lingkup kelas yang lebih kecil”.

Artinya, segala unsur dalam mengajar diminimalisir baik dari segi jumlah siswa, durasi, sampai materi yang diajarkan. Selanjutnya, setiap minggu para mahasiswa akan bergilir mengajar teman-teman mereka. Teman-teman itu berpura-pura menjadi siswa, sembari menunggu giliran untuk berpura-pura menjadi guru sungguhan.

Ini agak menggelitik karena ketika berpura-pura menjadi guru pun mereka harus berdaya upaya merakit berbagai cara dan media-media, agar para siswa (teman-teman) mereka merasa “terhibur”. Dosen pun akan memberi nilai atas hasil usaha mereka. Sederhana dan semudah itu.

Namun, bila ditelaah lebih dalam, benarkah mahasiswa – yang berpura-pura menjadi guru – itu mengajar dengan hati atau hanya karena takut nilai jelek? Artinya, mereka mengejar kualitas atau nilai? Bahkan kita sendiri sulit memilahnya secara tidak sadar.

Banyak pula lulusan sekolah keguruan yang akhirnya “tidak berakhir menjadi guru” karena semata tidak percaya diri mengajar di kelas yang nyata dengan siswa yang nyata. Yakni siswa-siswa yang tidak dapat mereka setting seperti ketika kuliah microteaching.

Atau, ada juga yang akhirnya menjadi guru namun media ajarnya tidak seheboh dan se-wah ketika mengejar nilai microteaching di kelas kuliah. Karena di sekolah yang nyata, motivasi mereka tidak lagi berpatok pada nilai, namun gaji. Mengajar atau tidak mengajar pun mereka akan tetap mendapat gaji setiap bulan.

Mereka berpikir bahwa mereka telah bebas dan tidak ada yang menilai cara mengajar mereka lagi. Krisis motivasi telah meracuni cara pandang mereka terhadap mengajar. Padahal, ada banyak harapan yang tergantung di pundak guru-guru tersebut agar pendidikan di Indonesia menjadi lebih maju.

Sebagai akibat dari krisis motivasi tersebut, banyak guru yang bolos atau mengajar asal-asalan. Datang ke kelas hanya membawa sebidang buku LKS lalu mengarahkan siswa agar menjawab soal-soal dalam LKS dan pergi meninggalkan mereka sampai jam pelajaran usai. Di manakah letak hikmah microteaching yang telah mereka pelajari selama ini?

Beranjak dari fenomena ini, hendaknya motivasi yang mereka dapat ketika mengejar nilai di kuliah microteaching mereka adopsi ke ranah yang nyata, ke ranah ketika mereka telah menjadi guru sungguhan. Segala kreativitas dan kemampuan membuat media juga hendaknya dipraktikkan di kelas agar siswa juga lebih semangat belajar dan termotivasi untuk selalu mengikuti proses di kelas. Pindahkan “motivasi nilai” saat kuliah kepada “motivasi gaji” yang didapat agar gaji tidak sekadar menjadi gaji buta, melainkan gaji sebagai “nilai lebih” yang bisa dibanggakan.

Guru-guru muda telah lahir menggantikan guru-guru lama seiring dengan pergantian waktu. Merekalah yang diharapkan menjadi agen perubahan dan menjadi generasi pelurus dalam dunia pendidikan yang kian carut-marut dan membutuhkan penggerak yang dapat melahirkan perubahan yang lebih baik. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY