Foto: koleksi Suprik

PERNAH ikut OSIS? Pernah ikut HMJ, SENAT,BEM? Enakkah? Serukah? Untungkah? Rugikah? Hanya kalian yang pernah ikut organisasi siswa atau kemahasiswaan yang tahu jawaban pastinya.

Mungkin masih banyak orang awam yang bertanya atau sekadar untuk menghasut temannya untuk tidak mengikuti ormawa (organisasi mahasiswa). “Untuk apa sih ikut gituan? Ntar juga tamat jadi guru, jadi PNS, jadi guide, atau jadi apalah”.

Mungkin dari pandangan permukaan mereka, mereka mengira kalau ormawa-ormawa itu hanyalah “EO” untuk sebuah acara dan program-program kerja di mana ormawa itu bernaung dengan tanpa digaji sepeser pun. Iya memang benar, secara nyata mereka terlihat sebagai Event Organizer alias EO, namun di balik semua itu ada beribu-ribu keribetan yang dihadapi dan itu adalah proses.

Saya menamainya dengan “proses konstruksi diri”. Kenapa? Ya karena orang-orang yang tergabung di dalamnya setiap waktu mengkonstruksi diri mereka, mengkonstruksi kepribadian mereka dari pengalaman dan keseharian mereka berorganisasi, kritikan, masukan, saran, dan apalah itu namanya selalu hadir di setiap waktu untuk mengkonstruksi pikiran dan sikap seorang anggota organisasi agar bisa meningkatkan etos kerja mereka.

Hal yang perlu dicamkan kepada semua generasi muda, ada dua skill yang harus dimiliki untuk mampu mencapai etos kerja yang tinggi ketika nanti sudah terjun ke lapangan pekerjaan, hardskill dan softskill. Apa itu hardskills dan softskill? Hardskill secara sederhana disebut dengan kemampuan kognitif (pengetahuan) sedangkan softskill secara tidak langsung adalah skill di luar skill berpikir, misalnya inisiatif, etika atau integritas, berpikir kritis, kemauan belajar, kemampuan berkomunikasi, tanggung jawab, kreatif, manajemen waktu, mandiri, fleksibilitas, teamwork, problem solving dan masih banyak lagi.

Kalau jenius saja, tidak akan bisa diterima di dunia kerja tanpa memiliki softskills. Orang jenius terkadang hanya mampu bekerja sendiri, berpikir dan menganalisis sendiri. Namun ketika dihadapkan dengan dunia kerja, kita tidak akan bekerja sendirian lagi. Banyak orang yang harus kita ajak berkomunikasi, mengkomunikasikan ide kita, mengerjakan program bersama.

Ketika orang jenius yang terkadang kekeh dengan ide dan argumennya sendiri serta tidak memiliki fleksibiltas, tidak akan mampu diterima di sebuah tim dan projeknya pun tidak akan jalan dengan mulus. Itu hanya salah satu gambaran, bahwa hardskill perlu diimbangi dengan softskills sehingga mampu berjalan berdampinan dan menciptakan manusia yang berintegritas dan memiliki etos kerja yang tinggi.

Anies Baswedan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sempat memberikan pesan kepada mahasiswa bahwa “jadilah aktivis di dalam dan luar kelas”. Secara tidak langsung itu berarti bahwa kegiatan dalam kelas dan luar kelas (pengembangan diri berupa ektrakulikuler dan organisasi) adalah sama sama memiliki peran yang penting untuk masa depan generasi muda.

Sebagai orang yang suka berkecimpung di dalam organisasi, hal tersebut memang benar saya buktikan, dalam dan luar kelas memang sama sama penting. Kita mendapat pengetahuan di dalam kelas digunakan sebagai acuan dan landasan berpikir untuk “bergerak” di luar kelas. Sehingga ada keterkaitan antara apa yang kita dapat di kelas dengan apa yang akan kita praktikan di luar kelas.

Jadi pada dasarnya pendidikan di dalam dan luar kelas sama sama penting dan memberikan “konstruksi diri” bagi setiap orang baik di pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pesan untuk kalian yang belum sempat bergabung ke organisasi, bergabunglah! Karena itu adalah bekal di masa depan, softskill akan kalian temukan di luar kelas bukan di dalam kelas. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY