Wayan Redika, Rotation of Kaliyugaphaksa XXI

TELUK BENOA

-kepada investor serakah-

 

jika suatu saat aku mati

aku tak perlu kuburan

bakar mayatku dan tebar abuku

di laut tempat aku bisa bercanda

dengan ikan-ikan cahaya,

kepiting, ganggang, ubur-ubur, hiu

dan segala penghuni niskala

 

namun, jika kau paksa mengubur laut

daerah istirahku nanti

jika kau paksa bikin pulau buatan

bersiaplah aku akan terus gentayangan

di saku kemejamu, di meja kasinomu,

di apartemen, di hotel, di restaurant,

di kolam renang, di villa,

di segala tetek bengek yang kau puja

 

puahhh…aku akan terus meniupkan mantra

dari jiwa-jiwa nelayan dan pelaut teraniaya

dari jiwa-jiwa kaum jelata yang kau tipu

dari jiwa-jiwa pasrah ibu bumi

aku akan menghisap ubun-ubunmu

dari semestaku

 

maka, dengan mudah pula bagiku

menenggelamkan daratan buatanmu

sekali hisap hancur pesta poramu

musnah serakahmu

 

hutan-hutan bakau

berkerumun dalam jiwaku

dan kau hanya sepercik debu

yang sekejab sirna

disapu waktu

 

(2015)

 

AGUSTUS BELUM PUPUS

-untuk: penyair wayan arthawa-

 

agustus belum pupus

ketika kau bergegas

meninggalkan kata-kata getas

di pintu pagi yang cemas

 

tak ada tanda

di pelepah pohon lontar

di mana dulu para leluhur

menakik namamu

mengutuk takdirmu

jadi sang kawi

 

betapa fana tatap mata

gadis-gadis jelita taman Tirtagangga

betapa jelata ibu-ibu peladang salak

ketika kau terharu menyadap sajak

hingga duri jadi rindu

hingga rindu jadi rinai

di setapak jalan Telaga Tista

 

tak ada tanda mengurai airmata

cuaca tiba-tiba buta

kata demi kata yang kau tempa

menyerpih di keranjang sayur

ibu pasar Amlapura

 

agustus belum pupus

aroma tuak mengaliri nadiku

subuh makin rapuh

dalam mabuk

kubaca isyarat itu

 

hanya kita

dan kata

yang paham

makna kehilangan

 

(2012)

 

MALAM MABUK DI UBUD

 

kuziarahi lagi kau

dengan arak ramuan

mari bersulang

untuk kenang

demi kenang

dan kekonyolan kita

 

hujan pun henti

dalam kibasan tanganku

malam dan lelampu merkuri

gemetar di ujung jari

 

di depan Puri Ubud

celoteh berbaur sisa-sisa puisi basah

wajah demi wajah membasuh jiwaku

(masihkah kau kenang namaku?)

 

di jalan pulang kulihat Tjokot,

si pematung bungkuk itu

tertatih memanggul bongkah kayu:

 

“akan kupahat tubuhmu subuh nanti

jika bertemu Lempad, sampaikan salamku

belum usai dia gurat garis takdirku…”

 

aroma arak,

lirih gerimis,

malam igau

wahai, pejalan mabuk

di Ubud tak kau temukan dirimu

 

(2012)

 

KOTA YANG DIKUTUK PEMABUK

 

inilah kota yang dikutuk para pemabuk

ketika kau menziarahi nisan-nisan puisi

yang berlumut di alun-alun tua

matamu menyalakan lampu-lampu merkuri

papan-papan iklan menyihir malam-malam gilamu

 

inilah kota di mana tapak kakimu akan lunas

di ujung senja penghabisan

diterpa bunyi klakson bertubi-tubi

dan kau pun sekejap lenyap di tikungan itu

tak ada lagi yang mengenali jejakmu

 

inilah kota ketika suaramu makin sepi

di tengah riuh tawar menawar

di ruang-ruang kantor pemerintahan

tak peduli bayang-bayang linglung kaum jelata

makin kusam

makin melata

makin menggema

di aspal-aspal jalan

 

(2012)

 

UBUD, HANYA KELUH DAN RIUH

 

malam makin mabuk

seorang turis separuh baya

berceloteh tentang Rsi Markandeya

dan masa silam yang hanyut

di sungai Campuhan

 

aku menenggak arak sembari membayangkan

cahaya kunang-kunang di pematang sawah

turis itu terus berkicau tentang Bali

dan cukong-cukong pariwisata

 

di Ubud yang sisa

hanya keluh

dan riuh

 

Lempad dan Tjokot telah lama mati

gemuruh tarian kecak perlahan sirna

ditelan bingar musik kafe

dan cukong-cukong pariwisata

beramai-ramai memberaki Bali

 

celoteh turis makin berdengung

seperti kerumunan tawon

aku pergi menjauh

duduk di bawah pohon jepun

berteman arak dan sepi

bercengkerama dengan diri

 

di pelataran pura,

seorang kakek tua menari sendiri

tongkat di tangannya

menunjuk-nunjuk ke arahku

 

malam makin kelam

langit mencurahkan gerimis

seperti tirta suci

memerciki ubun-ubunku..

 

(2014)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY