Foto: Mursal Buyung

MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa.

Kehidupan siswa bisa bergantung pada orang lain. Namun mahasiswa adalah insan yang lebih mandiri dalam mengurus dirinya sendiri. Konteks mandiri di sini bukan hanya untuk mahasiswa rantauan saja, namun untuk semua mahasiswa, termasuk mahasiswa yang tinggal di rumah sendiri. Mandiri misalnya dalam mengurus uang, waktu, kuliah, pekerjaan, dan lain-lain.

Di SMA atau SMP kita tidak perlu memprogramkan mata pelajaran. Kita hanya perlu datang ke pegawai tata usaha untuk mengambil jadwal yang sudah jadi. Sedangkan di perguruan tinggi kita yang mengatur diri kita mau mengambil mata kuliah apa, sesuai dengan nilai yang kita dapat.

Jika Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) kecil, kita mengambil kuliah sedikit. Sebaliknya jika IPK besar bisa menyerobot naik kuliah percepatan dengan senior.

Nah, untuk mendapat IPK besar, kita harus bekerja keras. Keras di setiap semester, keras di setiap mata kuliah, keras di setiap langkah. Belum lagi perkuliahan dirongrong berbagai masalah non teknis semacam pacaran dan kegiatan pertemanan.

Perjalanan mahasiswa baru (Maba) tentu belum berakhir sampai tuntas kegiatan ospek atau OKK. Semester yang keras dan melelahkan sudah menunggu untuk dilewati. Lelah fisik, hati, jiwa, dan rohani tentu akan selalu menghampiri dan memberikan kesan serta pesan tersendiri bagi mereka yang melaluinya.

Kemampuan otak dan daya tahan rohani yang sebetulnya diperlukan di sini agar mampu menerjang kerasnya badai perkuliahan yang tak henti menerjang sampai saatnya ujian akhir semester tiba.

Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) mungkin bisa dipandang keras oleh Maba namun perkuliahan nanti akan lebih keras dengan berbagai rintangannya, dengan level dan fitur-fiturnya. Bak game petualangan online di playstation. Ini bukan hanya masalah pintar tapi ini masalah cerdas, mengatur segala tentang waktu, uang, teman, pacar, keluarga, dan pikiran serta kesempatan. Mereka yang berjaya di perkuliahan, bukan mereka yang pintar namun mereka yang mampu memanfaatkan kesempatan dengan baik dan maksimal.

Pada saat kuliah, mau tak mau kita juga memikirkan orang tua di rumah. Memikirkan tentang harapan mereka terhadap kita. Mereka bisa menyekolahkan anaknya walau dengan biaya yang pas-pasan. Pinjaman modal di bank atau koperasi berjangka panjang dengan bunga sedang adalah sasaran empuk para orang tua demi masa depan yang terbaik untuk anaknya. Selain itu beasiswa, adalah salah satu harapan orang tua agar anaknya mampu melanjutkan ke bangku perkuliahan.

Keberadaan mahasiswa baru  bagi keluarga khususnya orang tua, bapak dan ibu tentu sangat membanggakan keluarga. Terlebih mahasiswa itu adalah anak pertama yang masuk perguruan tinggi.

Ada segudang harapan yang tergantung di pundak Maba untuk membawa harkat dan derajat keluarganya menjadi lebih baik. Membawa adik-adiknya agar mampu tetap bersekolah dan mengenyam bangku perguruan tinggi.  Ya, bisa dibilang amat berat harapan yang dipikul di pundak Maba tersebut, bak unta menggendong ton-tonan karung gandum di gurun Sahara.

Sebagai mahasiswa yang pernah menjadi Maba dulu juga saya tidak terlalu menyadari keberadaaan harapan yang sekaligus beban tersebut. Jarang sekali berpikir seperti itu namun ketika masa sudah mulai sulit dan kehidupan kampus sudah semakin keras, hal-hal seperti itu baru disadari dan betapa pentingnya kehadiran kita untuk membahagiakan mereka yang di rumah, yang bekerja tanpa henti untuk membahagiakan anak-anakmya.

Semangat untuk Mahasiswa Baru! Perjalanan kalian baru dimulai. Berjuta harapan tertanam dalam setiap diri kalian untuk masa depan yang lebih baik, diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan tentunya untuk Indonesia yang lebih baik. (T)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY