Foto: Mursal Buyung (foto hanya sebagai ilustrasi)

MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus). Di sejumlah kampus diberi nama berbeda-beda, misalnya OKK (Orientasi Kehidupan Kampus).

Berbagai kegiatan dan acara serangkaian Ospek pun banyak diadakan, seperti seminar pengenalan kehidupan kampus, sosialisasi, kuliah umum dan lain-lain. Sebagaimana pengertian Ospek itu sendiri, mahasiswa diharapkan mengenal dengan baik kampus mereka nanti, baik tata letak bangunannya, tata terbib yang berlaku, standar operasional yang diterapkan saat melakukan suatu kegiatan, pejabat-pejabat kampus, tenaga pendidik dan staf, sarana dan prasarana, dan seterusnya.

Seperti kata pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Ospek juga dapat dikatakan sebagai kegiatan menyambut mahasiswa baru. Namun, dari sudut pandang mahasiswa baru, kegiatan Ospek justru menjadi momok dan hingga kini jadi beban yang menakutkan. Kenapa?

Sering diberitakan bahwa Ospek yang diadakan di kampus-kampus di Indonesia diwarnai dengan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan non fisik. Kekerasan fisik di sini dapat diartikan sebagai kekerasan yang nyata, yang terjadi karena ada sentuhan fisik, seperti pemukulan, penamparan, penjegalan dan lain-lain.

Namun seiring dengan makin sadarnya sejumlah pihak untuk menghilangkan kegiatan yang berbau kekerasan, tahun-tahun belakangan ini kekerasan fisik tampaknya mulai berkurang.

Berkurangnya kekerasan fisik, bukan berarti Ospek tak mengandung kekerasan. Masih ada kekerasan, namun bentuknya lebih banyak kekerasan non fisik.

Berbeda dengan kekerasan fisik, kekerasan non fisik selalu terjadi dan bisa dikatakan hampir di seluruh perguruan tinggi atau institusi sejenis. Kekerasan tersebut dilakukan lewat kata-kata atau sikap dan bahasa tubuh oleh mahasiswa senior.

Ada yang memandang sinis para mahasiswa baru, memandang dengan penuh ancaman sambil memasang tampang yang sangar dan mata yang melotot, dan ketika para mahasiswa baru memasuki areal kampus atau tempat berkumpul, mereka kerap kali membentak dengan nada tinggi. “Lambat kalian, Dik! Cepat, lariiiii!” atau “Jam berapa ini? Telat kalian!” dan masih banyak lagi bentakan-bentakan untuk menyambut mahasiswa baru.

Bagi mahasiswa baru yang melanggar aturan, tentu akan mendapat kekerasan nonfisik lebih banyak. Para senior akan memberikan berbagai pertanyaan dengan nada tinggi seperti “Kenapa melanggar?” atau “Apa saja yang kamu lakukan?”

Dan senior tentu saja akan berusaha mencari-cari kesalahan mahasiswa baru, kemudian memberikan ceramah atau wejangan seolah-olah senior tersebut patut dijadikan panutan.

Pada saat seperti itu juga, para senior mendapatkan kesempatan membangun citra diri mereka dengan membandingkan-bandingkan. Misalnya dengan mengatakan, “Tahun lalu saya bisa, saya lebih berat dari kalian, kenapa kalian tidak bisa?”

Atau ada yang memberi pernyataan bodoh, seperti “Saya tidak tidur tiga hari tiga malam, Dik. Untuk kegiatan ini. Kalian hargai, dong”. Ah, bukankah sudah jelas jika tidak tidur selama tiga hari berturut-turut benar-benar akan mengacaukan tubuh, dan otak akan mulai berhalusinasi, fungsi panca indra mulai akan terganggu dan tak jarang disertai tremor atau gemetaran? Hmmm

Perploncoan, ditambah dengan berbagai atribut, juga dikatakan sebagai kekerasan non fisik. Mahasiswa baru yang melanggar atau melakukan kesalahan kerap kali dipermalukan.

Bahkan mental dan jiwa mereka juga dipermainkan. Mereka diminta untuk melakukan hal di luar nalar yang tidak ada kaitannya dengan pengenalan kehidupan kampus, seperti meniru gaya seorang artis yang berlebihan dan sedikit mendesah di depan mahasiswa baru lainnya, membuat hiburan dengan bertindak konyol, meniru gaya seorang banci  dan lain sebagainya.

Hal-hal tersebut tentu berdampak bagi mahasiswa baru. Kepercayaan diri mereka akan hilang. Mereka akan merasa tidak berdaya apa-apa, cemas pada diri sendiri, sulit bersosialisasi dan tentunya sakit hati.

Kekerasan, baik fisik maupun non fisik, sangat tidak diperlukan saat pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru. Mereka seharusnya dapat mengikuti masa orientasi pengenalan kehidupan kampus tanpa rasa tertekan. Tidak perlu marah-marah dalam menyambut, alangkah baiknya jika meniru gaya dan salam pegawai Indomaret. Sambil tersenyum dan berkata “Selamat datang di kampus. Selamat mengikuti orientasi. Semangat dan bergembira, ya!”

Atau ketika mahasiswa baru melakukan kesalahan, bisa memberitahu baik-baik dan memberi kesempatan sekali lagi tanpa melakukan perploncoan, sehingga ospek dapat menjadi awal yang menyenangkan, berkesan dan tidak akan terlupakan. Dan juga dapat membantu mahasiswa baru mengenal kehidupan mahasiswa dan kehidupan kampus. Bukan masalah jika mereka melakukan kesalahan selama mereka mau belajar dari kesalahan mereka. (T)

3 COMMENTS

  1. Saya setuju dengan pendapat bahwa menyambut kedatangan mereka mahasiswa baru setidaknya lebih banyak menggunakan cara yang lebih halus dan bijaksana serta lebih terpandang di mata mahasiswa terlebih lagi jika orang tua mereka melihat anaknya dihukum dengan memperagakan sesuatu yang tidak masuk akal.

  2. Kekerasan nonfisik lbih sakit ktimbang fisik 😁😀
    Kita sbgai mahsiswa yg katanya maha, sudah seharusnya bersikap maha. Baik pikiran perkataan maupun perbuatan. Jngan dah jdi orang yg sok bijak didepan adik tingkat😂. Senior junior itu cuma masalah duluan sama blakangan masuk aja 😁.

LEAVE A REPLY