Foto: Edi

ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terbentang bendera merah putih hampir di sepanjang bendungan sungai.

Tampak beberapa orang sibuk mondar mandir di areal tukad (sungai). Terlihat unik. Biasanya orang mondar mandir di tukad untuk mencuci dan mandi. Tapi 17 Agustus beberapa orang merayakan kemerdekaan dengan upacara bendera di antara gemuruh dan percik bunga air.

Di umur Indonesia yang ke-71 warga Tukad Unda Klungkung memang merayakan Hari Kemerdekaan dengan cara yang unik. Bagaimana tidak. Lihatlah, banyak orang berpakaian bak pejuang perang lengkap dengan kamben hitam dan saput poleng (kain hitam putih) di areal air terjun dam Tukad Unda.

Upacara bendera berjalan dengan lancar. Diikuti oleh 17 anak dari SD 2 Semarapura Kangin, 8 ibu PKK dan 45 warga masyarakat. Khidmatnya anak, ibu dan warga itu kian membuat upacara di air terjun ini mengundang perhatian banyak orang. Hingga membuat banyak orang meninggalkan kegiatannya, banyak yang menghentikan motor dan mobil di jalanan, sesaat, agar tidak ketinggalan momen yang sangat jarang dilihat ini.

Melihat semangat yang dilakukan oleh warga masyarakat Tukad Unda ini kian membuat kita kembali harus berpikir dan memaknai semboyan yang kita miliki. BHINEKA TUNGGAL IKA, di mana kita walaupun berbeda, tetapi tetap satu jua. Walaupun berbeda agama, ras, suku dan budaya kita tetap satu Indonesia.

Kita punya cara berbeda untuk memaknai Hari Kemerdekaan. Tapi rasa yang kita miliki tetaplah rasa Indonesia. Perayaan bisa dilaksanakan di tengah laut dalam yang sunyi, di taman kota yang gemerlap, di tepi pantai yang meriah, di gedung megah yang mewah, atau di bendungan sebuah sungai yang rancak oleh ricik air.

Konsep hidup pluralisme dalam bernegara sudah seharusnya dilakukan, tidak hanya dipikirkan karena kita adalah mahluk sosial. Bukan hanya guru yang mengajari konsep seperti itu. Kita perlu banyak belajar dari makanan. Serombotan salah satunya.

Serombotan adalah makanan khas dari Klungkung. Makanan itu mengajari kita arti bhineka dan pluralisme yang sesungguhnya.

Walaupun terdiri dari sayur yang berbeda dan bermacam-macam jenis, serombotan tetap enak jika bersatu. Campuran kangkung, cambah, bayam, kacang-kacangan dan dipadu dengan sambal lalah manis (pedas manis) sontak mengajari kita walaupun datang dari berbagai macam jenis dan tempat kita tetap enak dan nikmat jika bersatu.

Begitulah makanan, tersimpan banyak cinta dan cerita di dalamnya. Entah patut atau tidak untuk ditiru tapi itu kenyataan yang bisa kita pelajari dari serombotan. Konsep Bhineka Tunggal Ika sudah seharusnya direalisasikan dengan rasa, tidak melulu soal semboyan dan ucapan, di mana pun kita berada. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY