Foto: Ari Dwijayanthi

SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaimana manusia Bali bersukacita, bersyukur, pasrah, terkucil, menderita, ada pada subak. Beragam kesenian yang mengharumkan Bali, dilakoni petani tergabung dalam subak.

Berabad-abad subak menjadi ciri manusia Bali. Organisasi petani ini memberi ketenangan, kedamaian, keteduhan, keseimbangan, bagi semesta. Para petani hidup meng­utamakan kecukupan, tidak kelebihan. Tujuan utama panen untuk kebutuhan, dijual kalau tersisa. Karena itu, menjadi aneh kalau ada petani yang kikir terhadap sesamanya. Subak menciptakan petani yang pemurah, sehingga gotong royong menjadi pandangan hidup. Kesetaraan, kekerabatan, kebersamaan, pemerataan, menjadi ciri utama.

Bercocoktanam tak semata kerja, juga ibadah, sehingga panen harus dipersembahkan kepada Maha Pencipta. Jika terjadi bencana hama, panen gagal, mereka meminta petunjuk pada alam. Tanaman, ternak, binatang di tengah sawah, harus dihormati, karena mereka mahluk hidup yang berjasa besar menjaga harmoni alam. Ular jangan dibunuh, karena mereka pemangsa tikus, yang kalau jumlahnya kelewat banyak akan menjadi hama.

Tak sembarang tanaman ditebang dan dibuang. Tumbuhan dikembalikan ke tanah, menjadi unsur hara penyubur padi atau palawija. Hanya pada subak, orang bisa belajar seperti apa sesungguhnya hidup akrab bersama alam. Bahwa balutan awan, curah hujan, desau angin, sama penting artinya dengan tanah atau benih. Semua itu berkah, sesuatu yang suci, sehingga mereka harus diberi perlakuan dengan sesaji, mantra, doa-doa.

Tetapi zaman tak pernah berhenti. Waktu tak cuma menghadirkan perubahan, juga pergolakan. Peristiwa melintas begitu cepat, acap kali jungkir balik. Tanah tak lagi semata dikaitkan dengan benih, juga dengan rumah, pabrik-pabrik, atau investasi. Petani subak memuja tanah sebagai sumber penghidupan hari ini, orang lain melihatnya sebagai masa depan bergelimang kenikmatan dan kemewahan.

Mereka tak peduli kalau sawah dilabrak dibelah jalan, dibanguni industri, dijejali penginapan. Bukankah itu jauh lebih menguntungkan, mendatangkan uang jauh lebih banyak, tinimbang ditanami mentimun atau terong?

Perlahan-lahan penghayatan terhadap tanah pun tergerus. Subak tentu tak dibutuhkan ketika sawah beralihfungsi menjadi tempat plesir. Bibit tanaman, binatang di selokan, kalau pun masih diperlukan, hanya untuk mengisi rasa ingin tahu. Tidak untuk diajak turut serta menghasilkan kemakmuran panen. Bertani menjadi pekerjaan aneh, asing, di antara petak sawah yang menyempit terus.

Kalau kemudian Bali kehilangan generasi yang mencintai dan menekuni pertanian, adakah yang harus disesali? Bukankah banyak lapangan pekerjaan lain menjanjikan kemakmuan hidup? Bukankah banyak cara untuk mencintai kesenian, kebudayaan, seperti dilakoni subak selama ini?

Lenyapnya sebuah peradaban selalu menyisakan sesal berkepanjangan. Efisiensi atau mekanisasi pertanian saja sudah cukup mengikis perikehidupan subak. Sawah tak lagi dibajak sapi, tapi oleh traktor. Produktivitas menjadi lebih penting tinimbang kualitas atau penghayatan proses pencapaian produksi. Sekian upacara di tengah sawah bisa dituding inefisiensi, sehingga sebaiknya ditiadakan. Mungkinkah subak sanggup beradaptasi de­ngan pertanian modern yang efisien, agar ia bertahan?

Subak adalah sekaa, kelompok, petani. Sekaa apa pun di Bali, selalu punya tujuan ekonomi. Mereka bertahan, kompak, karena anggotanya terbatas, tak terlalu besar. Sebagai kelompok, subak berperan besar dalam alih teknologi pertanian. Mereka juga dikenal sangat adaptif dengan penemuan-penemuan baru.

Berpuluh tahun, subak menjadi agen terpenting ketika orde baru menggerakkan modernisasi pertanian. Bali disegani karena memiliki dinamika kelompok petani sangat gesit, brilyan, justru ketika provinsi lain masih direcoki membentuk kelompok-kelompok petani yang membutuhkan energi dan biaya besar.

Kecanggihan dinamika subak juga dimanfaatkan oleh lembaga-lembaga non pertanian, seperti perbankan, perindustrian, keluarga berencana, untuk memuluskan program mereka. Subak sangat berperan dalam penerapan dan pengembangan teknologi tepat guna di pedesaan. Perkembangan zaman akhirnya menyadari, subak tak sekedar kelompok sosio-ekonomi religius, juga lembaga tradisional yang adaptif dan inovatif.

Karena itu, mengapa harus cemas subak bakal punah? Bukankah tak satu bangsa dan negara yang tak punya petani? Sepanjang ada petani, peternak, nelayan, sawah, tegalan, pantai, subak tak akan pupus.

Yang membuat Bali bimbang sesungguhnya adalah, makin sedikit anak muda yang sudi bertani. Mereka bercita-cita jadi pedagang, birokrat, pemilik hotel, punya biro perjalanan. Harus dicarikan upaya, agar jumlah petani bertambah. Harus ada iming-iming agar anak muda mau bercocoktanam, mengurus sawah dan tegalan, gigih bergiat bersama subak.

Siapa sudi jadi petani, itulah masalahnya. (T)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY