Foto: Eka Yasa

INI adalah komentar seorang teman pebisnis sukses, orang Bali yang tinggal di Amerika  “Orang Bali harusnya ajarkan anak-anaknya berbisnis bukan hanya sembahyang”. Dan comment yang lain mengatakan, “Bisnis dalam bidang persembahyangan xixixixi”.

Banyak orang religius menganggap bisnis dan uang adalah suatu keduniawian yang kurang baik atau frontalnya ‘nista’. Padahal banyak orang religius yang memegang otoritas dalam upacara keagamaan biasa berbisnis di bidang persembahyangan. Mematok harga dalam upacara keagamaan yang tentu juga memperhitungkan untung rugi, bukankah itu adalah bisnis?

Tapi banyak juga yang mengelak dikatakan berbisnis.  Saya tidak mau mengatakan orang religius ini adalah orang yang spiritual. Karena bagi saya orang religius belum tentu spiritual. Orang spiritual adalah orang yang mengoptimalkan segala potensi yang dianugerahkan Tuhan kepadanya untuk meningkatkan evolusi dirinya, baik untuk kesejahteraan diri maupun orang lain. Sedangkan orang religius lebih cenderung terlihat di permukaan dengan pakaian- pakaian otoritas keagamaan, terlihat suci tapi belum tentu wikan ilmu agama dan belum tentu juga wawasan keduniawiaannya mumpuni.

Saya tidak menganggap bisnis dan uang adalah sesuatu yang buruk. Uang bukan segalanya tapi hampir segalanya bisa menjadi mudah dengan uang. Bahkan jika kebelet kencing pun perlu uang untuk bayar toilet. Dan memang sudah seharusnya religiusitas juga di-support dengan adanya uang. Banyak orang religius yang tidak sejahtera karena pola pikir yang menempatkan uang sebagai hal negatif. Dan banyak yang sejahtera karena kecerdasannya akan pengelolaan uang. Adalah Guru dari Milarepa, mistik dari Tibet: Marpa, adalah pebisnis yang membawa ajaran Buddha ke Tibet dan dikenal sebagai penerjemah ajaran Buddha ke Tibet.

Dan tentang bisnis dan uang, bagaimana saya mendapati di pasar-pasar tradisional perputaran uang yang luar biasa besar padahal pelakunya bukanlah orang yang berpendidikan tinggi. Pendidikan mereka rata-rata  SD-SMA tapi sehari mereka arisan minimal Rp 300 ribu bahkan saya sempat dengar sampai Rp 800 ribu. Bila mereka bisa arisan sehari Rp 300 ribu tentu omzet per harinya lebih dari itu. Rp 300 ribu dikalikan 30 maka Rp 9 juta per bulan mereka arisan dan mereka juga masih bisa ngayah di banjar. Bandingkan dengan orang-orang yang jadi pegawai UMR-nya Rp 2 juta dengan keterikatan waktu dan harus pandai membagi cuti dan waktu untuk ngayah banjar.

Seorang ibu tamat SD yang dagang daging babi mencicil rumah BTN Rp 4 juta, sementara sebagian besar PNS dengan penghasilannya tidak bisa mencicil sebanyak itu, kecuali nyambi kerja swasta. Dan seorang pedagang makanan membeli tanah dengan cash padahal dia tidak memiliki handphone. Dagang jamu keliling bisa memiliki rumah dari hasil kerjanya padahal handphone-nya jadul. Bandingkan dengan pegawai atau mahasiswa yang berpakaian mentereng yang pakaiannya saja minimal Rp 300 ribu belum lagi smart phone-nya yang mutakhir. Kalau bukan ortunya kaya dan hanya mengandalkan gaji saja tentu akan kesulitan memiliki rumah ataupun properti di Bali.

Dan bagaimana seorang peraih beasiswa di luar negeri kesulitan mendapatkan pekerjaan di Bali karena sentra kerja di Bali hanya untuk Usaha Kecil dan Menengah bukan industri besar ataupun pabrik. Padahal beliau adalah anak laki-laki tunggal yang diharuskan ngayah di banjar. Betapa sia-sianya pendidikan tinggi sampai ke luar negeri dan harus memulai usaha bersaing dengan pedagang tangguh yang cuma tamatan SD sampai SMA. Belum lagi stigma “ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau hanya mau jadi pedagang/petani”.

Pendidikan tinggi pun menjadi sebuah ironi saat honorer guru di kabupaten hanya mendapat gaji Rp 300 ribu sebulan dan dirapel beberapa bulan padahal pendidikannya Sarjana. Bandingkan dengan tamatan SD-SMA yang arisan sehari Rp 300 ribu. Tapi tetap saja menganggap pekerjaan sebagai pegawai adalah pekerjaan terhormat dan pekerjaan sebagai pedagang kalah gengsi.

Kembali lagi ke kata “ajari juga berbisnis bukan hanya sembahyang”. Tidak ada salahnya untuk juga mengajarkan nilai uang dan pengelolaan uang serta berbisnis di dunia pendidikan dan juga religi. Karena hidup perlu uang dan tidak hanya ilmu di awang-awang, atau ilmu yang bergantung pada pengumuman lowongan kerja. Uang bukanlah suatu yang buruk karena dengan uang seseorang bisa lebih berharga dan juga bisa bersaing secara terhormat dengan orang lain. Dan uang yang tidak buruk itu adalah uang yang diperoleh dengan berusaha secara benar, salah satunya berbisnis. Berbisnis bukanlah dosa. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY