Foto: Yogi Sancaya

LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi  ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh seorang ibu tinimbang oleh sang bapak. Laki-laki menaruh pengharapan di banyak tempat, di sembarang waktu. Ia punya peluang tanpa batas untuk berkuasa, berkelana kemana pun ia ingin, menyentuh apa pun yang ia mau, dan mencicipi apa saja, siapa saja, yang ia suka. Tapi wanita? Pengharapannya cuma satu: anak.

Putra pengharapan yang sangat menyayangi ibu itu kemudian punya tuntutan gamang: ia ingin istrinya seperti ibunda. Si istri pun tumbuh di tengah mahligai yang sempit dan kaku. Ia merintih karena harus menjadi wanita yang takluk. Ia menderita seperti dikutuk sejarah: sengsara oleh laki-laki yang dibentuk ibunda. Kisah pun kembali ke awal: wanita itu disengsarakan laki-laki, dan berharap anak akan membahagiakannya. Sungguh celaka, wanita juga disakiti oleh kaumnya.

Cerpenis terbaik Bali, Nyoman Rastha Sindhu (almarhum) rajin menulis derita wanita Bali. Karyanya, “Made Sukerti”, di majalah Sastra (almarhum), berkisah tentang perempuan biasa yang disunting bangsawan, laki-laki yang doyan perempuan, gemar berjudi, matajen, dan tak begitu peduli pada keluarga. Setiap hari Sukerti harus menanak nasi, mengurus anak-anak dari sekian istri lain suaminya. Sore, setelah memandikan anak-anak, ia harus memberi makan babi-babi piaraan keluarga.

Tak ada klimaks dalam cerpen itu. Tapi kita segera tahu: wanita ditakdirkan untuk menerima. Ia punya hak memberi hanya kepada siapa harus dikasi: anak, keluarga, kerabat. Ia tak punya hak memberi kepada sembarang orang, tidak di sembarang waktu. Maka kebahagiaan perempuan justru ketika menyerahkan, tidak ketika menuntut.

Kebahagiaan ketika memberi, banyak dilakoni wanita Bali. Ni Ketut Ringin, wanita Bali dari Desa Sidemen, Karangasem, yang dibesarkan di zaman Belanda, bisa memberi kita catatan penting, betapa keikhlasan perempuan justru bisa berubah menjadi kepiluan dan malapetaka bagi dirinya sendiri. Di zaman Jepang, Ringin merelakan adiknya diperistri suaminya, agar sang adik yang berangkat remaja tidak dirampas untuk dijadikan wanita penghibur, jugun ianfu. Ia sadar dirinya wanita dimadu, ketika suami mulai berpaling. Perlahan-lahan ia sangat paham: lelaki berulang-ulang menyodokkan penderitaan, anak cucu menggantinya dengan kebahagiaan.

Setelah tua renta pun ia berusaha secara teratur dan bergilir mengunjungi belasan anak dan cucu. Ia singgahi mereka di rumah kontrakan, memberi uang, mengguyurkan semangat, mengajarkan siasat untuk merebut sukses, dan begitu cerewet bertanya: kapan mereka jadi sarjana. Ketika sakit, beberapa hari menjelang meninggal, ia sangat bahagia didampingi anak cucu, mereka yang pernah ia beri, sehingga tumbuh “jadi orang”. Menjelang ajal, ia ingin sekali membenci laki-laki yang membungkusnya dengan derita, tapi tak sanggup, juga tak mungkin. “Sebab mustahil aku punya anak cucu yang memberi kebahagiaan kalau aku tak bersuami,” bisik hatinya. Matanya sembab, basah oleh pilu.

Oleh orang luar, tradisi acap kali dituding penyebab kepiluan wanita Bali, dan kesempatan sah laki-laki untuk “menindas”. Tapi kebanyakan wanita Bali mengungkapkan, tradisi justru memberi tempat terhormat, sehingga mereka bisa tampil sebagai wanita bertuah: perempuan yang beruntung, bahagia, “sakti”, dan “keramat”. Bagi wanita Bali, tradisi tak cuma berarti sebuah masa, bukan sebatas wilayah, tidak cuma tempat, tapi sebuah jiwa yang menjaga. Sebuah perlindungan, sesuatu yang membedakan, sehingga memberi keunikan dan rasa da­mai.

Tuah sebagai perempuan Bali akan kian terasa jika seseorang berada di luar Bali. Seorang remaja puteri yang ikut pertukaran pemuda, diminta menceritakan pengalaman oleh kawan-kawannya. Ia mengaku sangat dihargai oleh rekan-rekannya yang berkumpul dari seluruh belahan dunia, justru karena ia wanita Bali. “Mereka langsung mengatakan, karena aku dari Bali pasti pintar menari, cekatan merangkai janur, hebat memainkan gamelan, dan fasih menembang. Mereka menganggap aku sungguh beruntung lahir dan tumbuh di tengah budaya tradisi.”

Tapi tradisi acap kali membuat hidup jadi tidak mudah. Bagi wanita Bali, tradisi merupakan sebuah dilema. Ia memberi tempat untuk menunjukkan sosok dan jatidiri, menyuguhkan tuah; tapi juga sebuah medan yang memaksa mereka untuk takluk. Keputusan-keputusan penting menyangkut kehidupan desa, mengesampingkan peran wanita. Skenario upacara adat, agama, lebih banyak direkayasa oleh laki-laki.

Wanita Bali mensyukuri skenario itu. Bagi mereka, rekayasa tradisi merupakan sebuah peluang menyabet peran khas: membuat dan menghaturkan sesaji misalnya, mengurus yang serba suci. Maka sesungguhnya, beruntunglah siapa saja yang dilahirkan sebagai wanita Bali, karena mereka segera bisa dibedakan dari perempuan lain.

Pada akhirnya Bali adalah sebuah tempat unik kehidupan perempuan. Di sini orang bisa menyimak wanita tak cuma fisik, juga emosi. Tak hanya ketidakberdayaan, juga peran. Barangkali itu sebabnya, wanita Bali, yang punya mata indah seperti mata kijang, tampil sederhana, tidak meledak-ledak, tapi bertuah. (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY