Ilustrasi: IB Pandit Parastu

SEDANG jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa ini adalah akibat program Keluarga Berencana (KB) nasional dengan slogan “Dua Anak Cukup, Laki Perempuan Sama Saja”. Di Bali program itu sukses bahkan sejumlah pasangan suami-istri dan sejumlah lembaga kerap dapat penghargaan tingkat nasional karena suksesnya menjalankan KB.  Tapi di balik kesuksesan itu, kini ada anggapan, program itulah yang menyebabkan makin sedikit anak Bali lahir di dunia ini.

Dikaitkan dengan situasi kekinian, beberapa tokoh memang sebelumnya sudah gencar mengkampanyekan untuk kembali beralih ke “KB Bali”. Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut, harus tetap lestari, mungkin begitu sederhananya. Memiliki empat anak untuk melestarikan tetamian nak lingsir. Slogan kampanye yang mungkin sangat menyentuh kalangan masyarakat. Jelas saja, karena masyarakat Bali cenderung sensitif ketika sudah berbicara tentang tetamian nak lingsir. Ah, tapi mungkin juga tak begitu sensitif ketika mereka gencar menjual tetaminan nak lingsir. Sawah, misalnya.

Masihkah KB Bali relevan untuk kondisi Bali saat ini? Jawabannya masih. Namun tidak untuk semua orang Bali. Ingat, adat dan tradisi Bali bersifat terbuka dan fleksibel yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Semasih tidak mengingkari jati diri masyarakat Bali, boleh-boleh saja dilakukan.

Saat ini, memiliki empat anak bukan hanya persoalan melestarikan tradisi leluhur. Namun lebih dari itu, jaminan kualitas pertumbuhan dan perkembangan harus menjadi pertimbangan utama. Lalu melestarikan tradisi leluhur ada pada prioritas kedua. Yang saya maksud sebagai KB Bali tidak relevan bagi semua orang Bali saat ini adalah jumlah anak harus diimbangi dengan kemampuan orang tua untuk menghidupi. Menghidupi dirinya dan anaknya.

Menjadi sebuah ketidakmungkinan kalau semata-mata untuk melestarikan tradisi leluhur lalu mamaksakan diri untuk memiliki empat anak. Itu ngawur namanya.

Dampaknya, ketika dipaksakan memiliki empat anak. Orang tua pasti secara otomatis harus memaksakan diri untuk menghidupi anaknya. Iya, kalau ada pekerjaan yang layak, kalau tidak? Kriminalitas bisa jadi masalah yang muncul. Ingat, anak tidak cukup hanya dibuat dan dilahirkan. Mereka perlu susu, pendidikan, fasilitas kesehatan, dan biaya hidup lainnya. Semua kebutuhan itu tidak bisa dibayar dengan ucapan “saya melestarikan tradisi leluhur”. Semua butuh uang untuk memenuhinya. Dalam hal ini saya sama sekali tidak bermaksud untuk matrealistis. Ini realistis. Jangan sampai ada slogan “KB Bali, 4 Anak Bagus, Makan tak Makan Sama Saja”.

Seharusnya, ada perubahan cara pandang yang terjadi. Termasuk bagi para tokoh yang mengkampanyekan KB Bali ini. Jangan digeneralisir. Masyarakat Bali secara jelas memiliki tingkat kemampuan ekonomi yang berbeda. Kenapa ekonomi? Karena ekonomi erat kaitanya dengan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak. Sekolah? Perlu uang, berobat? Itu butuh dana. Meskipun katanya sekarang fasilitas pendidikan dan kesehatan gratis. Tapi, pemerintah belum menjamin semua kebutuhan pokok setiap hari sebagai sebuah kebutuhan yang gratis. Jadi, hati-hati. Jangan melestarikan tradisi leluhur secara gelap mata tanpa menalar dan merasa sebelumnya.

Buatlah anak sebanyak dan semampu Anda menjamin kualitas kehidupan mereka. Itu mungkin dapat menjadi sesuatu yang lebih bijak. Jika merasa diri hanya mampu menghidupi 1 orang anak, ya cukup buat anak satu saja. Jika merasa diri mampu menghidupi 4 orang anak, ya silakan saja buat 4 anak. Lalu, jika merasa diri mampu menghidupi 8 orang anak, silakan produksi 8. Justru lebih bagus, Anda akan dianggap sebagai pelestari tradisi leluhur yang baik. Bukan hanya satu putaran, tetapi dua putaran Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut, lalu  Wayan balik, Made balik, Nyoman balik, dan Ketut balik. Bukan menjadi sebuah masalah, karena tidak ada sanksi hukum ketika manusia memiliki banyak anak.

Orang Hindu Bali percaya bahwa anak adalah jalan untuk para leluhur turun kembali ke dunia (punarbhawa). Jadi harus ada jaminan bahwa anak akan mendapatkan pendidikan yang layak, kesehatan yang mumpuni, makanan yang sehat, dan lingkungan yang baik. Bukankah itu cara untuk lebih menghargai leluhur? Menyediakan tempat yang baik bagi para leluhur untuk menjelma kembali ke dunia. Bukankah itu jauh lebih baik daripada sekadar memiliki empat anak namun tidak dihidupi dengan baik? Tradisi harus disesuaikan dengan keadaan diri.

Anak bukan hanya soal keturunan, bukan hanya persoalan melestarikan tradisi leluhur. Anak adalan investasi masa depan. Anak yang terkelola dengan baik, akan menjadi pribadi yang baik di masa depan. Sebaliknya pun begitu. Saat ini, kualitas anak jauh lebih penting daripada kuantitas anak. Bali tidak akan hancur karena hanya ada sedikit orang Bali, namun memiliki kualitas yang baik.

Justru, Bali akan hancur ketika ada banyak orang Bali namun tidak memiliki kualitas yang baik. Memang, akan lebih baik jika banyak orang Bali dan semuanya berkualitas baik. Namun, itu sebuah unsur ideal yang setidaknya patut diperjuangkan. Sekarang, langkah awalnya adalah memulai dari yang sedikit namun berkualitas, menuju yang banyak dengan kualitas yang lebih baik pula. Tidak ada sesuatu yang seketika langsung jadi, segala pencapaian besar diawali dengan langkah kecil. Termasuk menalar tradisi dengan lebih bijak.

Jadi, pilih mana, 1 anak berkualitas, yang bisa menjaga Bali dengan baik, atau banyak anak tapi bisa-bisa membuat Bali tak karuan nantinya? (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY